Dolar Perkasa ke Rp16.000/US$, Sektor - Emiten Ini Langsung Menangis

1 month ago 27

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali merana, dolar Amerika Serikat (AS) tembus lagi ke level Rp16.000/US$. Sejumlah emiten sampai sektor turut dirugikan lantaran beban mereka ikut melambung.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah turun 0,18% pada perdagangan Senin hari ini (16/12/2024) sekitar pukul 09:20 WIB di angka Rp16.018/US$. Posisi ini selaras dengan penutupan perdagangan Jumat kemarin (13/12/2024) yang melemah 0,44%.

Pelemahan rupiah ini juga merupakan salah satu yang terendah sejak 7 Agustus 2024 atau sekitar empat bulan terakhir.


Hal ini terjadi bersamaan dengan naiknya DXY dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun.

Selain itu, data inflasi produsen (IHP) AS yang di atas ekspektasi juga menjadi pendorong pelemahan rupiah belakangan ini.

Sebagai informasi, IHP Negeri Paman Sam pada bulan lalu tercatat tumbuh mencapai 3% year on year/yoy pada November, lebih tinggi dari Oktober lalu yang tumbuh 2,6%. Angka ini juga lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,6%.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), IHP Negeri Paman Sam tumbuh mencapai 0,4%, lebih tinggi dari Oktober lalu sebesar 0,3% dan juga lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,2%.

Pelemahan rupiah yang terjadi ini bisa semakin membebankan biaya yang besar pada pengusaha atau perusahaan yang punya bisnis impor karena beban untuk memasok bahan baku bakal melambung terkena selisih kurs.

Perusahaan lain yang cenderung dirugikan juga ketika rupiah melemah, adalah yang punya utang berdenominasi dolar AS.

Berikut ada beberapa emiten yang rawan buntung ketika rupiah melemah :

1. PT Indofood CBP (ICBP)

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menjadi salah satu emiten yang dirugikan dari pelemahan rupiah.

Melansir dari laporan keuangan hingga September 2024, ICBP memiliki utang obligasi jangka panjang dalam denominasi dolar AS mencapai Rp41,62 triliun. Nilai ini mewakili 73,70% dari total liabilitas perusahaan sebesar Rp56,47 triliun.

Selain itu, ICBP terdampak negatif dari keperkasaan dolar yang menekan mata uang naira Nigeria.

Sejak awal tahun atau year-to-date (YTD), naira sudah anjlok lebih dari 80% membuat ICBP mencatat kerugian atas nilai investasi pada entitas asosiasinya, Dufil Prima Foods Plc (DPFP) hingga Rp1,70 triliun.

2. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)

Selanjutnya ada induk usaha ICBP yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang ikut terseret dampak negatif dari pelemahan rupiah.

Pasalnya, sebagai induk usaha INDF juga ikut menanggung beban ICBP yang berupa utang dalam denominasi dolar AS. Kontribusi ICBP bagi INDF pun sangat besar ke pendapatan mencapai lebih dari 70%.

Akibat ICBP menelan pil pahit pada akhir tahun lalu, INDF juga kena imbasnya dengan laba bersih pada kuartal IV/2023 hanya Rp1,06 triliun, anjlok 38% dalam basis tahunan.

3. PT Modernland Realty Tbk (MDLN)

Emiten properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN) jadi berikutnya yang cukup dirugikan dari kondisi pelemahan rupiah.

Sampai Septmber 2024, MDLN mencatat beban yang masih harus dibayar dalam dolar AS mencapai Rp99,09 miliar. Tak sampai disitu, masih ada utang obligasi berdenominasi dolar AS sebanyak Rp5,72 triliun.

4. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES)

Berikutnya ada emiten retail PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) yang potensi dirugikan ketika dolar AS makin perkasa terhadap rupiah lantaran beban impor akan ikut melambung.

ACES merupakan perusahaan dengan penjualan utama di barang-barang kebutuhan rumah tangga dan gaya hidup. Untuk memasok persediaan barang tersebut, biasanya ACES melakukan impor.

Menurut data laporan perusahaan sampai sembilan bulan pertama tahun ini, ACES mencatat beban pokok penjualan senilai Rp3,20 triliun. Dari nilai tersebut, sebanyak 81,89% merupakan pembelian melalui impor.

5. Sektor Farmasi

Selanjutnya ada sektor farmasi lantaran dominasi impor bahan baku masih mencapai 90%. Pada 2023, nilai ekspor produk industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional Indonesia meningkat 8,78% dibandingkan 2022.

Beberapa emiten farmasi diantaranya seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), PT Kimia Farma TBk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan lain-lain.

Namun, perlu diakui juga, perusahaan tidak akan selalu merugi ketika rupiah melemah. Kita juga harus mencermati kondisi fundamental perusahaan terkait arus kas, struktur modal-nya, hingga cara mereka dalam melakukan efisiensi.

Jika perusahaan masih memiliki tata kelola dan ketahanan kas, serta modal kuat, maka peluang mereka menghadapi badai rupiah ambruk ini bisa lebih yakin terlewati. Malah ketika harga saham nya sedang terkoreksi saat ini, akan menjadi momentum valuasi makin terdiskon, dan jika suatu saat valuasi kembali ke harga wajar atau sudah murah, maka pelaku pasar juga akan mulai kembali akumulasi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

(tsn/tsn)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research