Ford Dikabarkan Jajaki Kemitraan EV dengan Xiaomi, Isu China Kembali Jadi Sorotan di AS

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kabar pembicaraan antara Ford Motor Co dan produsen kendaraan listrik (EV) asal China, Xiaomi, terkait produksi kendaraan listrik di Amerika Serikat langsung memicu reaksi keras di Washington. Padahal, kedua perusahaan secara tegas membantah laporan tersebut.

Laporan oleh Financial Times (FT) pada Sabtu (31/1/2026) dibantah oleh pihak pihak Ford dan Xiaomi. Juru bicara Ford menyebut kabar tersebut “sama sekali tidak benar” melalui unggahan di platform X. Penyangkalan serupa disampaikan Xiaomi, yang menegaskan tidak memiliki rencana menjual produk maupun layanannya di Amerika Serikat.

“Xiaomi tidak menjual produk dan layanannya di Amerika Serikat dan tidak sedang bernegosiasi untuk melakukannya,” kata juru bicara perusahaan tersebut, dikutip Reuters.

Meski dibantah, isu potensi kemitraan antara produsen otomotif Amerika dan perusahaan teknologi China kembali memantik kekhawatiran di Washington. Sejumlah produsen mobil serta anggota parlemen AS menilai masuknya perusahaan otomotif dan produsen baterai yang didukung pemerintah China ke pasar Amerika berisiko mengancam masa depan industri otomotif nasional.

Kekhawatiran tersebut juga tercermin dari langkah politik terbaru. Awal pekan ini, Ketua Komite DPR AS dari Partai Republik mengirim surat kepada CEO Ford, Jim Farley. Dalam surat tersebut, Ford diminta menjelaskan apakah perusahaan berencana membentuk usaha patungan dengan produsen otomotif China lainnya, BYD.

Perwakilan John Moolenaar, yang menandatangani surat itu pada Rabu, memperingatkan potensi risiko strategis dari kemitraan tersebut. “China telah menunjukkan dalam beberapa bulan terakhir bahwa mereka akan mempersenjatai rantai pasok otomotif. Ini merupakan kerentanan serius dan hanya akan menjadi lebih buruk jika Ford menjalin kemitraan baru dengan BYD,” tulis Moolenaar.

Selain itu, Moolenaar juga menyoroti rencana Ford membangun pusat produksi baterai senilai 3 miliar dolar AS yang menggunakan teknologi dari Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL), produsen baterai asal China. Rencana tersebut sebelumnya juga menuai kritik dari sejumlah legislator AS.

Tekanan terhadap Ford dan produsen otomotif Amerika Utara lainnya muncul di tengah perlambatan strategi elektrifikasi. Sejumlah pabrikan mulai mengurangi agresivitas pengembangan EV yang dinilai mahal, setelah kesulitan bersaing dengan produsen China, kehilangan sebagian insentif pajak, serta menghadapi permintaan pasar yang lebih condong ke kendaraan murah dan hibrida.

Ford sendiri pada Desember tahun lalu mengumumkan pengurangan nilai aset (impairment) sebesar 19,5 miliar dolar AS dan membatalkan beberapa model kendaraan listrik, sebagai bagian dari penyesuaian strategi bisnisnya.

Isu kemitraan Ford dengan Xiaomi—meski dibantah—menunjukkan betapa sensitifnya hubungan industri otomotif AS dengan China, terutama di sektor kendaraan listrik dan baterai. Di satu sisi, teknologi dan efisiensi biaya China sulit diabaikan. Bagi Ford, tantangannya bukan hanya soal mengejar ketertinggalan di segmen EV, tetapi juga menavigasi tekanan geopolitik yang kompleks.

sumber : Reuters

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research