Kawasan Jeron Beteng Didorong Jadi Zona Rendah Emisi, Masyarakat Diajak Kurangi Kendaraan Pribadi

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pengendalian terhadap dampak perubahan iklim di pusat Kota Yogyakarta dinilai tidak cukup apabila hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan perubahan pola mobilitas warga dan wisatawan.

Berkaca dari kejadian cuaca ekstrem yang belakangan ini melanda sejumah wilayah dan berdampak langsung pada keselamatan warga, Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) mendorong kawasan Jeron Beteng sebagai zona rendah emisi guna menekan laju emisi karbon di pusat kota sekaligus melindungi kawasan budaya dan pariwisata tersebut agar lebih ramah lingkungan.

Peneliti Pustral UGM, Ikaputra, menyebut rangkaian peristiwa yang terjadi akibat cuaca ekstrem sebagai bukti nyata dampak perubahan iklim global yang kini semakin terasa. 

"Kita punya badai topan (angin kencang) di Yogyakarta. Walaupun datanya tercatat puluhan pohon tumbang, faktanya ada korban jiwa dan kebetulan terjadi di sekitar UGM. Ini bukti bahwa isu perubahan iklim itu nyata," katanya dalam acara deklarasi publik dan walking tour kawasan rendah emisi Jeron Beteng, Ahad (1/2/2026).

Ia tak menepis bahwa salah satu penyumbang utama emisi karbon di kawasan perkotaan berasal dari sektor transportasi. Emisi dari kendaraan bermotor, menurutnya, berkontribusi besar terhadap pencemaran udara dan memperparah krisis iklim. Oleh karena itu, Pustral UGM mendorong Jeron Beteng sebagai kawasan rendah emisi.

"Satu-satunya jalan agar bencana anomali tidak terus terjadi adalah mengurangi emisi," ujarnya

Ikaputra menyebut kawasan di sekitar Kraton Yogyakarta sejatinya telah lama menerapkan praktik hidup rendah emisi yang selaras dengan alam. Nilai-nilai tersebut juga tercermin di kampung-kampung kawasan Taman Sari yang sejak lama membatasi kendaraan bermotor memasuki gang permukiman. Praktik tersebut dinilai relevan untuk diterapkan kembali sebagai solusi menghadapi tantangan lingkungan perkotaan saat ini. Karenanya masyarakat hingga wisatawan diajak kembali untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

"Masuk ke kompleks Kraton tidak ada kendaraan bermotor, semua jalan kaki, tidak bising, bisa mendengar kicauan burung. Ini sudah dipraktikkan sejak zaman Mangkubumi I," katanya.

Sebagai bentuk komitmen, Pustral UGM juga mendeklarasikan Gerakan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di Jeron Beteng dengan mengajak masyarakat dan wisatawan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak menggunakan moda transportasi ramah lingkungan seperti becak listrik, angkutan umum, serta berjalan kaki mengelilingi kawasan.

"Ayo, mulai berpikir sederhana, parkir susah dan mahal, kenapa tidak pakai moda lain. Ide-ide kecil ini juga yang ingin kami dorong agar masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi," ucapnya menambahkan.

Dorongan pengembangan Jeron Beteng sebagai zona rendah emisi ini mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah DIY.

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan upaya tersebut sejalan dengan kebijakan penataan Malioboro sebagai kawasan pejalan kaki dan rendah emisi. Menurut Erni, pengurangan emisi karbon bukan hanya kebijakan transportasi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat dan kenyamanan lingkungan kota. 

"Kami sangat mendukung. Apa yang dimulai di Malioboro harus mengalir ke Jeron Benteng. Tanpa komitmen bersama, hal ini tidak akan terwujud," katanya.

Adapun pembatasan kendaraan bermotor di kawasan Jeron Beteng akan dilakukan secara bertahap dan disertai sosialisasi kepada warga maupun pelaku wisata.

"Pengurangan emisi karbon itu akan menyehatkan kita. Polusi berkurang, lingkungan menjadi lebih nyaman. Tentunya ini akan bertahap," ungkapnya

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research