Karya Inovatif Dosen UBSI Dukung Kemandirian Alat Pertahanan TNI AD

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Komitmen perguruan tinggi dalam mendorong kemandirian teknologi pertahanan nasional terus menunjukkan hasil nyata. Melalui riset dan inovasi yang aplikatif, akademisi tak hanya berkontribusi di ruang kelas, tetapi juga menjawab kebutuhan strategis bangsa.

Upaya tersebut tercermin dari prestasi yang diraih dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif dalam ajang Lomba Karya Cipta Teknologi yang diselenggarakan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat (Dislitbangad) dalam rangka HUT ke-48. Tim UBSI berhasil meraih juara ketiga dalam kompetisi bergengsi tersebut.

Rian Septian Anwar, bersama Dr. Sumanto, Miwan K Hidayat, dan Gildas, mengusung inovasi bertema 'Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Alpalhan Matra Darat'. Karya unggulan yang dipresentasikan berjudul Kendaraan Taktis Roda Rantai untuk Operasi Kemanusiaan TNI AD: Desain Konseptual dan Efisiensi Biaya.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan mobilitas evakuasi di medan ekstrem Indonesia yang kerap tidak dapat dijangkau kendaraan roda ban maupun transportasi udara, khususnya saat cuaca buruk. Keunggulan utama rancangan Kendaraan Taktis (Rantis) UBSI terletak pada efisiensi biaya dan kemandirian teknologi.

Jika rantis pada umumnya membutuhkan anggaran hingga miliaran rupiah, desain konseptual dosen UBSI menargetkan estimasi pengembangan sebesar Rp 710 juta.

Rian Septian Anwar menjelaskan bahwa efisiensi tersebut dicapai dengan memaksimalkan penggunaan komponen lokal atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Tim memanfaatkan mesin diesel donor yang telah teruji di pasar domestik serta sistem roda rantai yang diadaptasi dari komponen alat berat.

"Kami merancang kendaraan ini agar mudah dipelihara di daerah operasi terpencil. Dengan menggunakan mesin dan suku cadang yang tersedia luas di Indonesia, TNI AD tidak lagi bergantung pada komponen impor untuk perawatan rutin,” ujar Rian dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Berdasarkan simulasi teknis, rantis inovasi UBSI memiliki sejumlah keunggulan utama. Sistem crawler track atau roda rantai menghasilkan tekanan tanah yang sangat rendah, sehingga memungkinkan kendaraan melintasi rawa, lumpur, dan tanah lunak tanpa risiko terjebak.

Dari sisi bobot, kendaraan dirancang dengan berat total di bawah 4,5 ton sehingga memungkinkan untuk diangkut menggunakan sarana angkut udara. Desain modular pada bagian interior belakang juga memberikan fleksibilitas fungsi, baik sebagai ambulans lapangan maupun kendaraan distribusi logistik bencana.

Keunggulan lainnya terletak pada ergonomi operasional yang dioptimalkan melalui sistem kendali mekanik-hidrolik yang intuitif, sehingga mudah dioperasikan oleh personel lapangan tanpa memerlukan pelatihan intensif. Capaian ini menegaskan peran dosen dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhan) nasional.

Menanggapi hal ini, Mochamad Wahyudi, selaku Rektor UBSI menyampaikan apresiasi atas prestasi tersebut. Dia berharap desain konseptual ini dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi prototipe fisik melalui kolaborasi dengan industri pertahanan.

“Prestasi ini menunjukkan sinergi antara akademisi dan kebutuhan praktis militer. Kami berharap blueprint ini menjadi langkah awal lahirnya kendaraan taktis kemanusiaan yang mandiri, andal, dan efisien,” ujarnya.

Lomba Karya Cipta Teknologi Dislitbangad tahun ini diikuti oleh berbagai universitas, praktisi, serta personel TNI dari seluruh Indonesia, dan menjadi salah satu ajang inovasi teknologi militer paling bergengsi di Tanah Air.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research