Pemerintah Percepat Pengembangan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah mendorong pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi sebagai pilar baru pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui proyek ini, pemerintah sekaligus mempercepat agenda hilirisasi mineral strategis.

Kolaborasi Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD) menggarap ekosistem baterai EV secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Rantai industri yang dibangun mencakup pertambangan nikel, fasilitas smelter, teknologi high pressure acid leaching (HPAL), produksi precursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menjadi instrumen penting dalam penguatan ekonomi nasional. “Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ujar Bahlil usai penandatanganan kerangka kerja sama konsorsium ANTAM–IBI–HYD di Jakarta, beberapa hari lalu, dikutip Senin (2/2/2026).

Pemerintah mencatat nilai investasi proyek ekosistem baterai EV tersebut diperkirakan mencapai 6 miliar dolar AS. Fasilitas tahap awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) telah beroperasi sejak 2023 dan menjadi fondasi pengembangan tahap lanjutan.

Pada fase berikutnya, kapasitas produksi dirancang meningkat dengan tambahan 20 GW. Ekspansi ini ditujukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai dan kendaraan listrik seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap teknologi penyimpanan energi.

Bahlil menyampaikan rantai industri baterai kendaraan listrik memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional. “Nilai tambah mineral meningkat, pertumbuhan ekonomi daerah bergerak, ketahanan energi nasional ikut menguat,” ujarnya.

Indonesia memiliki cadangan nikel besar sebagai bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik. Pasokan nikel dalam proyek ini disiapkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) melalui kerja sama dengan konsorsium guna menjaga keberlanjutan rantai pasok domestik.

Pemerintah menetapkan kebijakan kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan negara. Porsi kepemilikan ditargetkan berada di atas 50 persen, bahkan di kisaran 60–70 persen, sebagai upaya menjaga kendali atas industri strategis nasional.

Bahlil menekankan pengelolaan sumber daya alam mengikuti mandat konstitusi. “Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam dikelola negara dan diprioritaskan untuk kemakmuran rakyat,” tutur Menteri ESDM.

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menilai kerja sama ini mempercepat hilirisasi sekaligus memperkuat fondasi kemandirian teknologi baterai di dalam negeri. “Misi utama IBC menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kolaborasi dengan Huayou melanjutkan proyek Titan setelah sebelumnya bersama LG,” ujar Aditya.

IBC menempatkan penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai bagian penting pengembangan ekosistem baterai nasional. Kolaborasi ini dirancang tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga membangun kemampuan industri dalam negeri secara berkelanjutan.

Ke depan, pemerintah menargetkan ekosistem baterai EV menjadi penggerak baru pertumbuhan ekonomi nasional berbasis industri bernilai tambah tinggi. Strategi ini diharapkan memperkokoh transformasi struktur ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat daya saing global.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research