Danantara Dukung Reformasi Total Bursa Efek Indonesia

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Pandu Sjahrir memandang upaya reformasi pasar modal Indonesia merupakan langkah memperbaiki ekosistem dunia saham nasional. Ia menekankan reformasi yang tengah diupayakan pemerintah bukanlah kepentingan satu institusi semata.

“Krisis kepercayaan di Bursa Efek Indonesia perlu dipandang sebagai momentum untuk melakukan reformasi pasar modal secara menyeluruh guna membangkitkan kembali kepercayaan. Ini bukan sekadar persoalan satu atau dua saham, dan bukan semata urusan bursa atau indeks global, melainkan menyangkut kepercayaan terhadap sistem pasar modal nasional dan kredibilitas negara,” kata Pandu dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Pandu menggarisbawahi agenda reformasi tersebut bukan lahir dari kepentingan atau preferensi Danantara Indonesia. Ia menyebutkan, sebagai market participant, Danantara menyuarakan kebutuhan pasar agar pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, lebih likuid, dan lebih kredibel.

“Reformasi ini merupakan kepentingan ekosistem, bukan kepentingan satu institusi,” tegasnya.

Lebih lanjut, dalam kerangka Total Capital Market Reform, ia menyampaikan langkah-langkah struktural yang dibutuhkan pasar mencakup empat poin. Pertama, peningkatan transparansi, khususnya keterbukaan ultimate beneficial ownership serta kualitas data kepemilikan saham.

Kedua, penguatan tata kelola dan enforcement, termasuk demutualisasi bursa sebagai bagian dari mitigasi benturan kepentingan dan penguatan institusional. Ketiga, pendalaman pasar secara terintegrasi melalui sinergi lintas pemangku kepentingan, dari sisi demand, supply, hingga infrastruktur pasar. Keempat, penguatan likuiditas, termasuk penyesuaian kebijakan free float agar selaras dengan praktik global.

Kenaikan free float dinilai perlu dilakukan melalui kebijakan yang membangun kepercayaan investor sehingga valuasi mencerminkan fundamental. Ketika kepercayaan dan valuasi terbentuk, kebijakan free float naik dari 7,5 persen menjadi 15 persen dapat berjalan secara efektif.

“Reformasi ini pada akhirnya bertujuan membangun kepercayaan jangka panjang, memperluas basis investor, serta memastikan pasar modal Indonesia mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” terangnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research