8000 Hoki Online Data Akun situs Slots Maxwin Cambodia Terkini Pasti Lancar Jackpot Full Online
hokikilat.com Platform server Slots Gacor Thailand Terpercaya Mudah Lancar Menang Full Non Stop
1000 Hoki Online Akun situs Slot Gacor Japan Terbaru Mudah Lancar Menang Online
5000hoki Data Daftar website Slot Gacor Japan Terkini Mudah Win Terus
7000 Hoki Online Data ID website Slots Maxwin Japan Terpercaya Gampang Win Full Non Stop
9000hoki Data Akun situs Slots Maxwin China Terbaru Pasti Lancar Menang Full Banyak
Alternatif Login game Slots Maxwin server China Terpercaya Pasti Lancar Menang Full Terus
Idagent138 Id Slot Anti Rungkat Online
Luckygaming138 Daftar Id Slot Game Online
Adugaming Id Slot Terpercaya
kiss69 login Slot Anti Rungkad
Agent188 Daftar Akun Slot Anti Rungkat Terpercaya
Moto128 Daftar Id Slot Anti Rungkad Terpercaya
Betplay138 Daftar Slot Anti Rungkad Terbaik
Letsbet77 login Id Slot Gacor Terpercaya
Portbet88 Akun Slot Anti Rungkat
Jfgaming168 Id Slot Terpercaya
MasterGaming138 Daftar Slot Game
Adagaming168 login Slot Anti Rungkat Online
Kingbet189 login Id Slot Anti Rungkat Terpercaya
Summer138 Daftar Akun Slot Maxwin Terbaik
Evorabid77 Slot Game Terbaik
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada pagi hari ini bahkan melewati masa pandemi Covid-19 di 2020.
Dilansir dari Refinitiv, pada 25 Maret 2025 pukul 10:13 WIB, tampak rupiah ambles sebesar 0,51% di angka Rp16.635/US$. Posisi ini lebih parah dibandingkan penutupan perdagangan 23 Maret 2020 yang ditutup pada level Rp16.550/US$. Bahkan jika rupiah ditutup di level saat ini, maka menjadi yang terparah sepanjang sejarah (berdasarkan closing candle).
Sedangkan indeks dolar AS (DXY) tampak menguat tipis sebesar 0,07% pada pagi hari ini setelah sebelumnya ditutup secara konsisten di zona positif sejak 19 Maret 2025.
Depresiasi yang terjadi pada mata uang Garuda ini lebih didominasi oleh faktor eksternal termasuk arus dana asing yang keluar dari Tanah Air beberapa waktu terakhir.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan bahwa pelemahan rupiah kali ini terjadi bersamaan dengan aksi profit taking investor mengantisipasi libur panjang, karena mereka khawatir ada uncertainty terutama pada saat libur panjang.
Dari sisi eksternal, Myrdal menyampaikan bahwa soal perkembangan perang dagang antara AS dengan Meksiko dan Kanada yang mulai berlaku tanggal 2 April 2025 menjadi faktor lainnya.
Lebih lanjut, kebutuhan akan dolar yang tinggi untuk periode akhir bulan, untuk bayar Utang Luar Negeri (ULN), ataupun membayar impor termasuk impor BBM menjadi faktor tertekannya rupiah belakangan ini.
Keluarnya dana asing ini juga dipertegas oleh Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana yang menyampaikan bahwa terdapat switching asset sebelum libur lebih panjang di market Indonesia.
"Sudah hampir 7 hari perdagangan net sell asing terus, kemungkinan mereka memang memindahkan dananya ke USD," papar Fikri.
"Selain juga kayaknya ada kemungkinan permintaan USD, untuk pembagian dividen dan pembayaran hutang pemerintah diakhir 1Q," tambah Fikri.
Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) merilis data transaksi 17-20 Maret 2025, investor asing tercatat jual neto sebesar Rp4,25 triliun, terdiri dari jual neto Rp4,78 triliun di pasar saham, beli neto Rp1,20 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan jual neto Rp0,67 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama 2025, berdasarkan data setelmen sampai dengan 20 Maret 2025, investor asing tercatat jual neto sebesar Rp28,10 triliun di pasar saham, beli neto Rp23,87 triliun di pasar SBN dan Rp8,58 triliun di SRBI.
Senada dengan Myrdal dan Fikri, Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang juga menjelaskan bahwa rupiah tertekan dari berbagai arah, didorong oleh meningkatnya permintaan dolar menjelang akhir kuartal dan libur panjang.
"Kebijakan tarif Trump menambah ketidakpastian global, sementara pengumuman personel Danantara meningkatkan skeptisisme pasar," ujar Hosianna.
"Kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal dan perlambatan ekonomi menekan pasar saham dan obligasi. Sementara ada indikasi Bank Indonesia mengurangi intervensinya dibandingkan pekan lalu," tambah Hosianna.
"Dengan faktor-faktor ini, rupiah diperkirakan sulit menguat, dan USD/IDR berpotensi menguji level resistensi 16.600 menjelang libur panjang dan jatuh tempo DNDF besar minggu ini," pangkasnya.
Begitu pula dengan pernyataan Ekonom Senior Bank Central Asia, Barra Kukuh Mamia yang mengungkapkan soal tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal setidaknya untuk jangka pendek ini.
"Sebetulnya, walaupun valuasi equity kita drop, secara makro persepsi risiko ke pasar bonds dan valas seharusnya masih cukup OK. Ada kesempatan untuk equity-nya yang rebound, konvergen ke fundamental makronya. Tapi di tengah ketidakpastian global saat ini jadi terhambat konvergensinya itu," kata Barra.
Dia menambahkan faktor terbesar adalah kebijakan Donald Trump mengenai pemberlakuan tarif resiprokal perdagangan Amerika Serikat pada 2 April mendatang.
"Masih ada lanjutan sentimen negatif mungkin ya. Ini kan menghitung hari ke tanggal 2 April, tarif resiprokalnya Trump," ujar Barra.
Hal menarik lainnya disampaikan oleh Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang yang mengutarakan bahwa kombinasi keluar dari equity dan bondmarket menjadi alasan pelemahan rupiah.
Ia juga mengatakan bahwa keluarnya investor dari pasar Tanah Air diperkirakan masuk ke pasar di AS karena investor melihat ketidakpastian di Indonesia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(rev/rev)