Perang Dagang Dimulai, ini "Nyawa" Utama Perdagangan Dunia!

1 day ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia- Di tengah gemuruh kebijakan tarif yang kembali menggema dari Gedung Putih, dunia perdagangan global seakan menahan napas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 2 April 2025, dijadwalkan mengumumkan serangkaian tarif impor yang disebut sebagai "Hari Pembebasan" atau "Liberation Day". Langkah ini diproyeksikan akan mengubah lanskap perdagangan internasional secara signifikan.

Trump sendiri telah lama menggunakan tarif sebagai alat utama kebijakan luar negerinya sejak periode pertamanya yang penuh gejolak pada 2017-2021. Ia mengklaim bahwa strategi ini akan membangkitkan kembali industri manufaktur AS yang mengalami penurunan.

Pekan lalu, Trump mengumumkan tarif otomotif sebesar 25% dan menegaskan bahwa ia "tidak peduli" jika harga mobil impor melonjak. Selain itu, tarif 25% terhadap baja dan aluminium yang sudah diterapkan sejak pertengahan Maret tetap berlaku.

China juga terkena pukulan dengan tambahan tarif 20% atas seluruh barang impornya sejak Maret lalu, yang langsung dibalas dengan langkah serupa dari Beijing. Uni Eropa pun bersiap dengan kebijakan tarif balasan yang dijadwalkan berlaku pertengahan April.

Penerapan tarif ini menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi perang dagang yang dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Para ekonom memperingatkan bahwa beban tarif ini kemungkinan besar akan ditanggung oleh konsumen melalui kenaikan harga barang.

Di tengah ketegangan perdagangan ini, menarik untuk mengetahui jalur-jalur vital yang menjadi urat nadi perdagangan global. Gangguan pada salah satu dari jalur ini dapat memperparah dampak dari kebijakan tarif yang diterapkan.

Berikut adalah sepuluh jalur perdagangan utama yang menjadi fokus:

1. Sungai Rhein (Jerman)

Sungai Rhein, sepanjang 1.230 km, berfungsi sebagai urat nadi utama bagi transportasi barang di Jerman, menghubungkan Eropa Tengah ke pelabuhan-pelabuhan utama di Laut Utara. Mengangkut sekitar 80% barang ke pedalaman Jerman, termasuk komoditas seperti minyak mentah dan gas alam, sungai ini menjadi jalur utama logistik.

Namun, perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan dan pendangkalan sungai, seperti yang terjadi pada 2018 dan 2022, mulai mengancam kelancaran pengiriman barang. Pada awal tahun ini, kedalaman sungai mencapai titik terdangkal, menghambat pengiriman dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. 

2. Terusan Panama

Terusan Panama menghubungkan Samudra Atlantik dengan Samudra Pasifik, memotong jalur perjalanan kapal yang seharusnya harus melintasi ujung selatan Amerika Selatan. Jalur ini memotong waktu dan biaya perjalanan secara signifikan.

Di tengah kesibukan perdagangan global, Terusan Panama tetap menjadi jalur vital yang menghemat waktu perjalanan antara dua samudra terbesar dunia, dengan lebih dari 12.000 kapal melewati terusan ini setiap tahun. Terusan ini, sepanjang 82 km, juga menjadi jalur penting untuk komoditas energi dan barang-barang konsumsi.

Terusan ini tidak hanya mempermudah perdagangan antar negara tetapi juga berdampak pada strategi logistik global. Meskipun demikian, ancaman terhadap keberlanjutan jalur ini muncul dari perubahan iklim yang dapat mempengaruhi arus dan kedalaman air di sekitar terusan, serta potensi blokade yang disebabkan oleh ketegangan politik.

3. Laut China Selatan

Laut China Selatan (LCS) adalah salah satu jalur perdagangan laut terpenting di dunia, dengan lebih dari 33% pelayaran global melintasi perairan ini. Menurut data UNCTAD, hampir 60% perdagangan maritim dunia melibatkan kawasan Asia, dan Laut China Selatan berperan kunci dalam mendukung ekonomi negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Namun, perairan ini tidak hanya menjadi jalur perdagangan penting, tetapi juga sumber ketegangan geopolitik. China, yang memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia, mengklaim hampir seluruh wilayah LCS, yang sering kali bertentangan dengan klaim negara-negara ASEAN.

4. Selat Malaka

Selat Malaka adalah jalur terpenting di Asia Tenggara yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 16 juta barel minyak dan 3,2 juta barel gas alam cair (LNG) diangkut melalui Selat Malaka setiap hari.

Selat ini menjadi jalur vital bagi perdagangan energi dan barang-barang konsumen, serta merupakan jalur terpendek antara Timur Tengah dan Asia Timur.

Keterbatasan kapasitas pelayaran dan ancaman terhadap keamanan seperti pembajakan dan blokade politik meningkatkan kerentanannya.

Sebagai contoh, Charlie A. Brown, ahli maritim regional, menjelaskan bahwa jika Selat Malaka terblokir, hampir separuh armada dunia harus mencari rute alternatif yang akan mengurangi kapasitas pengiriman dan meningkatkan biaya logistik global. China juga memiliki kepentingan besar dalam keamanan Selat Malaka, mengingat lebih dari 70% ekspor energi China melaluinya.

5. Sungai Mekong

Sungai Mekong mengalir melalui enam negara di Asia Tenggara dan merupakan sumber utama air bagi banyak negara di kawasan tersebut, termasuk Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Sungai ini juga merupakan jalur perdagangan penting untuk komoditas pertanian dan perikanan.

Namun, pembangunan bendungan oleh China di hulu sungai menyebabkan gangguan pada aliran air dan sedimentasi yang mempengaruhi ekosistem dan sektor pertanian negara-negara hilir.

Reuters melaporkan bahwa pada tahun 2020, terdapat penurunan signifikan dalam jumlah sedimentasi yang mengalir ke hilir, yang berdampak pada keberlanjutan sektor pertanian di negara-negara seperti Vietnam.

Persoalan ini semakin rumit dengan adanya ketegangan geopolitik antara China dan negara-negara Asia Tenggara terkait kontrol terhadap aliran air Mekong.

6. Selat Sunda

Selat Sunda menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Jawa dan berada di antara Pulau Sumatera dan Jawa di Indonesia. Meskipun volume lalu lintas kapal tidak sebesar Selat Malaka, Selat Sunda tetap menjadi jalur penting untuk pengiriman energi dan barang ke Indonesia dan negara-negara di kawasan sekitarnya.

Badan Energi Internasional (IEA) mengonfirmasi bahwa lebih dari 3 juta barel minyak mentah melintasi Selat Sunda setiap hari. Keamanan Selat Sunda, terutama terkait potensi gangguan akibat bencana alam seperti letusan gunung berapi atau kerusakan infrastruktur, menjadi prioritas penting bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berusaha meningkatkan keamanan dan efisiensi jalur perairan ini untuk mendukung perdagangan energi dan komoditas lainnya.

7. Selat Inggris

Selat Inggris, yang terletak antara Inggris dan Perancis, adalah jalur laut tersibuk di dunia. Setiap hari, lebih dari 500 kapal melintasi selat ini, menghubungkan Laut Utara dengan Samudra Atlantik.

The International Maritime Organization (IMO) melaporkan bahwa lebih dari 25% lalu lintas kapal dunia melewati Selat Inggris, menjadikannya jalur strategis untuk perdagangan internasional dan pasokan energi. Meskipun memiliki kapasitas tinggi, Selat Inggris menghadapi tantangan baru terkait keamanan maritim dan perubahan politik, seperti dampak dari Brexit yang mempengaruhi kebijakan perdagangan Inggris dan hubungan dengan negara-negara Eropa.

8. Terusan Suez

Terusan Suez, yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah, memotong waktu perjalanan kapal yang melewati Afrika.

Dengan panjang 163 km, terusan ini menghemat waktu perjalanan dari 24 hari menjadi hanya 16 jam. The Suez Canal Authority (SCA) melaporkan bahwa lebih dari 100 kapal melewati terusan ini setiap hari, mengangkut berbagai komoditas termasuk minyak mentah, LNG, dan barang-barang konsumsi.

Namun, terusan ini juga rentan terhadap gangguan besar, seperti insiden penyumbatan yang terjadi pada tahun 2021, yang menyebabkan keterlambatan pengiriman barang global. Pembaruan infrastruktur dan pengelolaan yang lebih efisien menjadi kunci bagi keberlanjutan jalur ini.

9. Selat Denmark

Selat Denmark menghubungkan Laut Utara dengan Laut Baltik dan menjadi jalur vital bagi perdagangan Eropa dan Rusia.

Mengingat posisinya yang strategis, selat ini menjadi pintu gerbang utama untuk pengiriman barang antara Eropa dan negara-negara Skandinavia.

Reuters melaporkan bahwa lebih dari 100.000 kapal melintasi selat ini setiap tahun, membawa berbagai jenis barang dari energi hingga produk konsumen. Keamanan perairan ini sangat penting bagi stabilitas perdagangan di kawasan tersebut, terutama dalam konteks ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa terkait isu energi.

10. Selat Lombok

Selat Lombok terletak antara pulau Bali dan Lombok di Indonesia dan merupakan jalur alternatif penting bagi kapal yang menghindari Selat Malaka.  Selat Lombok digunakan oleh kapal yang tidak dapat melintas di Selat Malaka karena pembatasan kapasitas atau gangguan politik.

Volume perdagangan melalui Selat Lombok cenderung lebih rendah dibandingkan dengan Selat Malaka, namun, dengan meningkatnya ketergantungan pada jalur laut alternatif, selat ini menjadi semakin penting dalam menjaga kelancaran perdagangan global. Keamanan dan pengelolaan yang baik terhadap Selat Lombok sangat penting untuk mendukung logistik internasional, khususnya untuk ekspor-impor dari Asia ke Australia dan sebaliknya.

Kebijakan tarif yang diterapkan oleh AS berpotensi menimbulkan reaksi berantai pada jalur-jalur perdagangan tersebut. Negara-negara yang terdampak mungkin akan mengambil langkah-langkah balasan, seperti memberlakukan tarif terhadap produk AS atau mencari mitra dagang alternatif. Hal ini dapat menyebabkan peralihan rute perdagangan, peningkatan biaya logistik, dan gangguan pada rantai pasokan global.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research