Nahdliyin menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Acara peringatan Harlah Ke-100 NU Mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia yang dihadiri Menteri Kabinet Merah Putih, Ketua MPR, jajaran Pengurus Besar NU, pengurus wilayah, pengurus cabang, hingga badan otonom NU.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ribuan Nahdliyin menghadiri peringatan Hari Kelahiran (Harlah) ke-100 NU di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026). Meski demikian, beberapa pemimpin tertinggi di PBNU nyatanya tidak ikut meramaikan Harlah NU ini, termasuk Sekjen PBNU Saifullah Yusuf dan Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar.
Menanggapi ketidakhadiran pemimpin tertinggi di lingkungan NU ini, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofur Maimoen menyatakan, masih ada yang perlu diselesaikan setelah konflik yang terjadi di lingkungan NU.
"Ya, namanya juga lama kan konfliknya, jadi pasti ada sesuatu yang perlu diselesaikan secara internal. Pastilah, itu sudah pasti," ujar putra Mbah Moen Rembang ini saat ditemui Republika di Istora Senayan Jakarta.
Kendati demikian, dia menilai, secara organisasi, masalah konflik NU sudah selesai setelah menggelar Rapat Pleno pada Kamis (29/1/2026) lalu. Rapat yang dipimpin langsung Rais Aam tersebut memulihkan posisi KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU dan mengembalikan seluruh kepengurusan seperti semula.
"Tapi sudah diputuskan dan sekarang tinggal semua elemen mendekat. Jadi secara organisasi sudah tinggal membenahi, tinggal menyatukan kembali, menata organisasi menuju ke Muktamar Agustus nanti,"ucap Gus Ghofur, sapaan akrabnya.
"Sekarang diharapkan ya semua elemen untuk menyatukan kembali, bikin statement-statement yang yang menyejukkan, silaturrahmi, saya juga mau silaturrahmi ke Rais Aam," kata dia.

2 hours ago
1














































