RI Masih Impor Terpal Warung Pecel Lele, Nilainya Bikin Geleng-Geleng

1 week ago 15

8000hoki.com List Daftar situs Slot Maxwin Thailand Terbaik Pasti Scatter Terus

hoki kilat Top ID server Slots Maxwin Thailand Terbaru Pasti Lancar Win Online

1000 hoki ID situs Slot Maxwin China Terbaru Pasti Jackpot Terus

5000 hoki List Akun web Slots Gacor Malaysia Terkini Pasti Win Terus

7000hoki List Platform server Slots Maxwin Cambodia Terkini Mudah Lancar Menang Online

9000 hoki List ID web Slot Maxwin Philippines Terbaik Pasti Win Setiap Hari

Data Slots Gacor server Singapore Terbaik Mudah Jackpot Setiap Hari

Idagent138 login Akun Slot Game

Luckygaming138 Daftar Id Slot Anti Rungkat

Adugaming Daftar Slot Gacor Terbaik

kiss69 Daftar Id Slot Anti Rungkat Terpercaya

Agent188 Slot Anti Rungkat

Moto128 login Id Slot Anti Rungkad Terpercaya

Betplay138 Daftar Id Slot Gacor Terpercaya

Letsbet77 login Id Slot Gacor

Portbet88 Daftar Slot Anti Rungkat Online

Jfgaming168 Slot Gacor Online

MasterGaming138 Daftar Akun Slot Maxwin Terpercaya

Adagaming168 Akun Slot Gacor Terpercaya

Kingbet189 Daftar Akun Slot Maxwin Terpercaya

Summer138 Id Slot Anti Rungkad

Evorabid77 Daftar Id Slot Anti Rungkat Online

Jakarta, CNBC Indonesia- Terpal atau tarpaulin, material serbaguna yang melindungi dari hujan, panas, hingga debu, ternyata masih banyak diimpor oleh Indonesia.

Meski sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari warung pecel lele, tenda darurat hingga kebutuhan industri, impor terpal RI menunjukkan tren yang naik-turun dalam beberapa tahun terakhir. Apa yang sebenarnya terjadi?

Nilai impor terpal Indonesia menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam dalam lima tahun terakhir. Menurut data dari BPS pada 2019, impor terpal RI tercatat sebesar US$1,17 juta atau sekitar Rp 19,3 miliar (US$1=Rp 16.495).

Angka ini turun cukup drastis di 2020 menjadi US$783 ribu, sebelum naik kembali ke US$983 ribu pada 2021. Lonjakan terjadi di 2022 dengan nilai impor mencapai US$1,99 juta, sebelum kembali turun di 2023 menjadi US$1,35 juta dan menyusut lagi di 2024 ke US$741 ribu. Bila dirupiahkan angkanya mencapai Rp 12,2 miliar.

Dengan tren seperti ini, tampak bahwa ketergantungan RI terhadap impor terpal belum sepenuhnya hilang, meski secara umum ada tren penurunan pada 2024. Apa penyebabnya?

Seperti halnya banyak produk lain, China masih menjadi negara eksportir utama terpal ke Indonesia. Namun, angka impornya pun menunjukkan pola yang menarik. Pada 2019, Indonesia mengimpor terpal dari China sebesar US$932 ribu. Angka ini sempat turun ke US$690 ribu pada 2020 yang kemungkinan disebabkan oleh pandemi Covid 19, kemudian meningkat kembali di 2021 menjadi US$782 ribu. Puncaknya terjadi di 2022 dengan angka US$1,72 juta, sebelum kembali turun ke US$1,20 juta di 2023 dan hanya US$678 ribu pada 2024.

Namun, kejutan datang dari Slovakia. Negara yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar eksportir terpal ke Indonesia, tiba-tiba muncul pada 2024 dengan nilai ekspor US$22 ribu. Angka ini memang kecil dibandingkan China, tapi kehadiran Slovakia tetap menarik untuk dicermati. Mengapa baru sekarang Slovakia mulai masuk ke pasar RI?

Selain Slovakia, beberapa negara lain yang mengekspor terpal ke Indonesia di 2024 adalah Vietnam (US$10,7 ribu), Singapura (US$10,3 ribu), dan Hong Kong (US$9,4 ribu). Meski angkanya kecil, kehadiran beberapa negara ini menunjukkan adanya diversifikasi sumber impor.

Dengan tingginya kebutuhan akan terpal di dalam negeri, mengapa Indonesia masih mengandalkan impor? Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebabnya seperti bahan baku, terpal umumnya terbuat dari bahan polyethylene (PE) atau polyvinyl chloride (PVC), yang memerlukan industri petrokimia kuat untuk produksinya.

Selain itu proses pembuatan terpal melibatkan teknik laminasi atau coating yang memerlukan mesin berteknologi tinggi.

Belum lagi karena itu semua produk impor, terutama dari China, sering kali lebih murah dan memiliki kualitas yang lebih stabil dibanding produksi lokal. Jiika permintaan domestik tidak cukup besar untuk menopang industri dalam negeri, maka impor menjadi pilihan yang lebih ekonomis.

Tren impor terpal Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Meskipun ada penurunan signifikan dalam impor 2024, China masih mendominasi sebagai eksportir utama. Kehadiran Slovakia sebagai pemain baru juga patut dicermati.

Sementara itu, ketergantungan RI pada impor terpal menunjukkan adanya tantangan dalam industri manufaktur dalam negeri. Apakah ini peluang bagi produsen lokal untuk meningkatkan kapasitas produksi dan bersaing dengan produk impor? Ataukah impor tetap menjadi pilihan utama karena faktor harga dan efisiensi?

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research