Wapres Gibran Bertemu Wakil PM Laos, Jajaki Peluang Bangun Pabrik Pupuk di Laos

3 hours ago 1

Momen Wapres Gibran Rakabuming meyambut kedatangan Wakil PM sekaligus Menteri Luar Negari Laos Thongsavan Phonvihane, di Istana Wakil Presiden Merdeka Selatan, Selasa (5/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menjajaki peluang investasi industri pupuk di Laos sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku. Rencana ini mencuat dalam pertemuan antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos, Thongsavan Phomvihane.

“Tadi Bapak Wakil Presiden menyampaikan ke Yang Mulia Wakil Perdana Menteri untuk menjajaki kemungkinan Pupuk Indonesia berinvestasi di Laos untuk memproduksi pupuk dan hilirisasinya ya. Itu yang pertama,” kata Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf, Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, langkah ini dilatarbelakangi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk dari Laos. “Karena kita Pupuk Indonesia itu mengimpor bahan baku pupuk yaitu potas kurang lebih nilainya 60 juta US dolar per tahun dari Laos,” katanya.

Menurutnya, salah satu peluang investasi yang tengah dikaji adalah pembangunan fasilitas produksi atau pabrik pupuk di Laos guna menekan biaya dan memperkuat rantai pasok. “Ya salah satunya itu ya, untuk mengurangi ketergantungan bahan baku yang ada di Laos, mungkin salah satu peluang investasi yang perlu kita jajaki adalah pendirian pabrik pupuk di sana untuk mengurangi biaya bahan baku,” katanya.

Kendati demikian, ia mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap awal dan akan ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis lintas pihak.

“Ya tadi saya sampaikan ini kan baru pertemuan pertama ya antar pimpinan negara. Nanti kami, Pak Wamenlu juga sudah berkoordinasi dengan tadi sudah menyampaikan kepada Dubes Laos yang untuk Indonesia untuk kami jajaki follow up meeting selanjutnya yang nanti kami juga akan melibatkan BUMN-BUMN terkait langsung,” katanya.

Menurutnya, langkah ini dinilai penting mengingat impor Indonesia dari Laos didominasi hampir sepenuhnya oleh komoditas potas sebagai bahan baku pupuk. Upaya tersebut juga diarahkan untuk mendukung visi kedaulatan dan ketahanan pangan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga pada tingkat kawasan Asia Tenggara.

“Untuk meningkatkan kerja sama mewujudkan visi Bapak Presiden yaitu tentang kedaulatan dan ketahanan pangan yang tidak hanya berfokus pada Indonesia tapi juga ketahanan pangan dalam skala regional yaitu Asia Tenggara. Dan tadi dijelaskan kenapa pentingnya dan strategisnya Laos dalam pertemuan tadi yang dibahas itu,” katanya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research