OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,49 Persen pada Maret 2026, Kredit UMKM Membaik

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen secara tahunan atau year on year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat mengalami perbaikan.

“Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang tetap terjaga. Pada Maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49 persen (yoy) menjadi Rp 8.659 triliun, meningkat dibandingkan posisi Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen (yoy),” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan Mei 2026 yang digelar secara virtual, Selasa (5/5/2026).

Dian menerangkan, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 20,85 persen (yoy). Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tercatat tumbuh tertinggi, yaitu sebesar 14,88 persen (yoy).

“Sementara itu, pada Maret 2026, kredit UMKM telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12 persen (yoy), di mana pada Februari 2026 terkontraksi sebesar 0,56 persen (yoy),” kata dia.

Ditinjau dari kepemilikan kredit, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himbara tumbuh tertinggi, yakni sebesar 13,66 persen (yoy). Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55 persen (yoy) menjadi Rp 10.231 triliun, dengan giro, deposito, dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37 persen (yoy), 11,57 persen (yoy), dan 8,36 persen (yoy).

“Likuiditas industri perbankan pada Maret 2026 tetap memadai dengan rasio alat likuid/non-core deposit atau AL/NCD dan alat likuid/DPK atau AL/DPK masing-masing sebesar 122,55 persen dan 27,82 persen. Itu masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen,” lanjutnya.

Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 193,64 persen dan net stable funding ratio (NSFR) berada di posisi 128,84 persen.

“Kualitas kredit juga tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,14 persen. NPL net terjaga di angka 0,83 persen dan loan at risk (LAR) tercatat sebesar 8,94 persen,” terangnya.

Dian melanjutkan, secara umum, tingkat profitabilitas bank atau return on asset (ROA) tercatat sebesar 2,47 persen. Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 25,09 persen, lebih rendah dibandingkan Februari sebesar 25,83 persen. Hal itu dinilai menandakan ketahanan permodalan perbankan yang tetap kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.

Dian menyampaikan, sebagai upaya pengembangan dan penguatan di bidang perbankan, OJK telah melakukan beberapa inisiatif, di antaranya Rancangan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (RPOJK) tentang Rencana Bisnis Bank (RBB) yang akan menyempurnakan ketentuan sebelumnya.

Inisiatif dalam beleid tersebut di antaranya menambahkan pengaturan mengenai cakupan rencana bisnis, termasuk dalam rangka mengakomodasi perkembangan digitalisasi perbankan, penyempurnaan cakupan laporan realisasi dan laporan pengawasan RBB, serta revisi aturan RBB yang terkait dengan penyaluran kredit, termasuk kredit kepada program strategis pemerintah dan UMKM. Hal ini ditujukan agar bank memiliki perencanaan yang terarah, terukur, dan berkelanjutan melalui penyusunan RBB. Namun, kata Dian, penyaluran kredit tersebut tidak bersifat mandatori dan bank tetap memiliki keleluasaan dalam menerapkan strategi penyaluran kredit sesuai risk appetite dan risk tolerance masing-masing.

Inisiatif lainnya yakni OJK meluncurkan panduan media sosial perbankan: The Banking in Social Media Guidelines. Inisiatif itu menjadi kerangka tata kelola media sosial perbankan dalam menyeimbangkan inovasi dan prinsip kehati-hatian bagi bank umum sebagai panduan dalam mengelola aktivitas media sosial secara terarah, profesional, dan bertanggung jawab dengan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu tata kelola, manajemen risiko, serta compliance dan monitoring.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research