REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump sesumbar menyatakan akan melancarkan serangan besar-besaran ke Iran malam ini. Ia juga mengancam akan mengambil alih infrastruktur minyak Iran.
“Pada titik tertentu dalam waktu yang tidak lama lagi, kami akan mengambil alih Pulau Kharg, dan titik-titik infrastruktur minyak lainnya, dan mengambil kendali penuh atas Pasar Minyak dan Gas mereka, seperti yang kami lakukan dengan Venezuela,” katanya.
Trump juga mengulangi klaimnya bahwa kemampuan angkatan bersenjata Iran telah dihancurkan.
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Rabu malam. Teheran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk “serangan yang melanggar hukum dan kriminal” yang dilakukan AS, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut secara efektif membuat gencatan senjata pada 8 April menjadi “tidak ada artinya”.
Pihak berwenang di Kuwait, Bahrain dan Yordania melaporkan intersepsi rudal, dan Yordania sempat menutup wilayah udaranya.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengatakan seorang gadis berusia 11 tahun menderita luka ringan dan dirawat di tempat kejadian setelah serangan Iran.
Komando militer gabungan Iran memperingatkan bahwa mereka akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melewati Selat Hormuz, yang sebagian besar telah ditutup selama berbulan-bulan.
Komando Pusat AS membantah bahwa selat itu ditutup, dan mengatakan bahwa kapal-kapal komersial masih transit di selat tersebut meskipun ada ancaman dari Iran.
Sebuah tongkang Iran kargo terkena proyektil AS di Teluk Oman pada Kamis pagi, kata gubernur wilayah Sirik Iran, menurut kantor berita Mehr.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berbicara dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, melalui panggilan telepon dan membahas perkembangan terkini menyusul serangan AS terhadap Iran dan serangan Teheran terhadap Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Dalam panggilan telepon tersebut, Araghchi mengecam keras serangan-serangan Washington, dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, serta menegaskan kembali bahwa tindakan-tindakan tersebut telah membuat gencatan senjata tidak efektif dan bahwa AS bertanggung jawab atas konsekuensi-konsekuensi berbahaya yang ditimbulkannya.
Ia juga mengkritik diamnya negara-negara anggota PBB mengenai serangan AS, dan memperingatkan bahwa tidak adanya tindakan global akan menyebabkan peningkatan ketidakamanan regional dan global.
Sementara juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait mengatakan bahwa angkatan bersenjata telah menangani 24 drone musuh di wilayah udaranya selama 48 jam terakhir. Mayor Jenderal Saud Abdulaziz Al-Otaibi menambahkan bahwa serangan Iran telah mengakibatkan “kerusakan material terbatas tanpa adanya korban jiwa.”
“Angkatan bersenjata menegaskan kelanjutan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya dengan efisien, dalam kerangka kesiapan dan kesiapsiagaan, untuk meningkatkan keamanan nasional dan menjaga keselamatan warga negara dan penduduk,” tambahnya.

5 hours ago
2













































