Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak diperkirakan masih akan sangat sensitif terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, serta serangkaian data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.
Pelaku pasar akan mencermati data perdagangan dan inflasi dari China dan Amerika Serikat, data sentimen konsumen AS, serta angka inflasi konsumen (CPI) India untuk mencari petunjuk arah pergerakan logam mulia.
Keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) juga akan menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi harga emas dan komoditas lainnya.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada Senin (8//6/206) pukul 06.13 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4325,41 per troy ons atau melemah 0,08%.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas.
Harga emas pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (5/6/2026) ditutup di posisi US$ 4328,80. Harganya ambruk 3,24%. Penurunan sebesar 3,4% sehari adalah yang terdalam sejak 20 Maret 2026 (3,45%). Pelemahan ini juga membawa emas ke level terendah sejak31 Desember 2025 atau sepanjang tahun ini. "Momentum logam mulia seperti emas dan perak masih terlihat dalam fase koreksi," kata Pranav Mer, Vice President EBG Commodity & Currency Research JM Financial Services Ltd, dikutip dari The Business Times India.
"Emas mencatat kinerja yang lemah pekan lalu karena kenaikan harga minyak mentah mengalihkan perhatian investor dari aset safe haven," ujar Jateen Trivedi, VP Research Analyst Commodity and Currency LKP Securities.
Harga emas ambruk salah satunya dipicu lonjakan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar hari ini ada di posisi 100,14 atau tertinggi sejak akhir Maret 2026.
Pembelian emas global dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar AS membuat permintaan turun. Kondisi ini berimbas besar terhadap konsumen besar seperti India.
"Data PMI dan pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Di saat yang sama, penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari ETF menekan harga emas," ujarnya.
Harga Emas Pekan Ini
Ke depan, Trivedi memperkirakan emas dan perak masih berpotensi tertekan berada di bawah kisaran US$4.400-US$4.500 per ons troi.
Lembaga dari Inggris Metals Focus dalam laporannya Gold Focuc 2026 mengakui bahwa harga emas belakangan mendapat tekanan dari perubahan ekspektasi suku bunga serta konflik yang melibatkan Iran.
Namun lembaga tersebut menilai hambatan tersebut hanya bersifat sementara.
"Terlepas dari berbagai tekanan itu, kami yakin setelah dampak perang Iran mereda, emas akan kembali melanjutkan tren bullish-nya," tulis laporan tersebut.
Menurut Metals Focus, faktor-faktor utama yang mendukung kenaikan harga emas sepanjang tahun lalu kemungkinan besar akan tetap bertahan sepanjang 2026 dan bahkan setelahnya.
Prospek ini menunjukkan bahwa investor masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, ketidakstabilan geopolitik, dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dengan pola permintaan yang terus berubah dan investasi fisik yang diproyeksikan melampaui konsumsi perhiasan, pasar emas dinilai sedang memasuki fase baru, di mana arus investasi akan memainkan peran yang jauh lebih besar dalam menentukan arah harga.
Addsource on Google














































