14 Kabar Genting Guncang RI Pekan Ini, IHSG-Rupiah Dibuat Gemetar

13 hours ago 4
  • Pasar keuangan RI ditutup beragam, Rupiah menguat sementara SBN dan IHSG tertekan hebat.
  • Wall street ambruk Nasdaq ditutup terparah turun hingga 4,18% dalam satu hari perdagangan.
  • Piala dunia, rilis cadangan devisa, serta arah kebijakan pemerintah  menjadi penggerak utama pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kembali babak belur pada perdagangan kemarin Jumat (5/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4% yield SBN melambung tinggi.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 245,01 poin atau 4,2% ke level 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Jumat pagi IHSG sempat berdenyut positif, sebelum akhirnya turun semakin dalam meninggalkan level 5.600.

Sebanyak 656 saham turun kemarin. Hanya 115 yang naik dan sisanya atau 188 emiten stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 31,08 triliun, di mana nyaris separuhnya terjadi di pasar negosiasi.

Tercatat 34,39 miliar saham berpindah tangan dalam 2,14 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ambruk menjadi Rp 9.807 triliun.

Koreksi dalam IHSG seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level historis baru, yakni Rp 18.000.

Nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah sepanjang hari bergerak volatil di area Rp18.000/US$.

Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), setelah sepanjang hari bergerak volatil di area Rp18.000/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,06% ke level Rp18.010/US$.

Penguatan ini menjadi sedikit napas bagi mata uang Garuda setelah pada perdagangan sebelumnya, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Posisi tersebut merupakan level terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS.

Meski berakhir menguat, dalam sepekan rupiah masih ambruk 0,8% pekan lalu.

Pemerintah baru saja merilis realisasi APBN hingga akhir Mei 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan defisit APBN mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

Angka tersebut naik tipis dibandingkan posisi akhir April 2026 yang sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% terhadap PDB. Meski demikian, Purbaya menilai posisi defisit tersebut masih aman dan sesuai desain APBN 2026.

"Jadi kalau kita hitung seperti di luar itu. Kalau saya pakai cara yang sama kira-kira 1,8% PDB. Jadi kalau dilihat dari situ APBN kita sangat aman," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (5/6/2026).

Selain defisit yang masih terkendali, keseimbangan primer juga tercatat surplus Rp58,6 triliun. Kondisi ini menunjukkan APBN masih memiliki ruang untuk menjaga kesinambungan fiskal di tengah tekanan pasar keuangan.

Sementara dari itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan masih memiliki sejumlah amunisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Setidaknya ada tujuh langkah yang disiapkan bank sentral untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Terakhir ke pasar surat berharga negara Indonesia, imbal hasil obligasi Indonesia 10 tahun pada penutupan perdagangan kemarin Jumat (5/6/2026) tercatat pada level 6.902 atau naik meningkat 1,16% dari hari sebelumnya yang ditutup pada 6.823.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research