Tentara Israel dihajar drone Hizbullah saat melakukan evakuasi.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Sebuah laporan penelitian yang disampaikan kepada lembaga keamanan Israel memperingatkan meningkatnya ancaman drone peledak yang digunakan Hizbullah.
Laporan itu memperkirakan bahwa drone-drone tersebut akan menjadi salah satu ancaman terbesar yang dihadapi militer Israel di perbatasan utara, bahkan memperingatkan bahwa sistem pertahanan yang ada saat ini berpotensi runtuh apabila tidak dilakukan perubahan mendasar dalam strategi penanganannya.
Menurut laporan yang dipublikasikan Channel 12 Israel, dikutip Aljazeera, Selasa (30/6/2026), studi tersebut disusun pada November 2024 oleh sebuah pusat riset di bawah Institute for Counter-Terrorism (ICT) di Universitas Reichman, Israel. Penelitian itu dipimpin oleh Dr Uzi Landau, mantan direktur perusahaan industri pertahanan Rafael.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, drone-drone kecil yang membawa bahan peledak telah berkembang menjadi salah satu ancaman paling berbahaya bagi pasukan Israel di Lebanon selatan maupun wilayah dalam negeri Israel.
Hal itu disebabkan oleh biaya produksinya yang murah, proses pembuatannya yang relatif mudah, sulit dideteksi karena terbang rendah, mampu beroperasi secara berkelompok (swarm), serta sebagian di antaranya menggunakan kabel serat optik sehingga sangat sulit diganggu atau dilumpuhkan melalui sistem peperangan elektronik.
Tim penyusun laporan menilai bahwa tantangan yang dihadapi militer Israel saat ini hanyalah awal dari perubahan besar dalam dunia teknologi drone.
Karena itu, mereka menyerukan agar Israel mulai mempersiapkan diri menghadapi generasi berikutnya dari ancaman tersebut.
Menurut mereka, metode pertahanan yang saat ini digunakan oleh lembaga keamanan dan militer Israel tidak lagi memadai dan tidak akan mampu memberikan solusi di masa depan.

1 hour ago
1

















































