REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Entah sudah berapa kali Syarifuddin Ridwan Nobisa melewati jalanan terjal pegunungan yang sama menuju kampung pedalaman yang satu itu.
Sebagai seorang pendakwah di pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT), ia kerap keluar masuk kampung-kampung kecil demi menyiarkan ajaran Islam. Namun, ada yang berbeda dalam perjalanannya hari itu ke Kampung Oeue, Desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Bukan soal pemandangan yang ia saksikan sepanjang perjalanan. Semuanya masih sama; jalan yang berbatu-batu, tanaman jagung dan singkong yang menjadi santapan sehari-hari warga, serta rumah-rumah tradisional.
Setiap elemen menampilkan kesederhanaan yang berbalut eksotisme tanah NTT. Kedatangan Ustadz Syarif, begitu ia biasa dipanggil, hari itu membawa serta sapi kurban amanah Green Kurban Sinergi Foundation. Suasana meriah dan semarak menyambut Ustadz Syarif.
Warga Kampung Oeue dan sekitarnya berkumpul di tempat yang telah disediakan untuk proses penyembelihan hewan. Sukacita warga tak terbendung, momen yang telah mereka tunggu sepanjang tahun akhirnya datang jua.
Membayangkan bisa menyantap daging sapi, sesuatu yang tak bisa mereka konsumsi sehari-hari karena keterbatasan ekonomi, seketika memancing rasa lapar. Namun warga masih harus bersabar mengikuti setiap rangkaian acara.
Upacara sederhana berupa pengalungan selendang kepada Ustadz Syarif yang hadir bersama sapi kurban menjadi pembuka rangkaian. Upacara ini memiliki dua arti. Pertama, sebagai bentuk serah terima sapi kurban secara adat. Kedua, simbolis ikatan lahir batin dan persaudaraan antara pihak yang menerima dan memberikan selendang tersebut.
“Kemudian ada pesan khusus sebenarnya juga, bahwa jangan sampai ini menjadi yang pertama dan terakhir,” tambah Ustadz Syarif dalam keterangan, Rabu (10/6/2026).
Sebuah pesan yang mengandung harapan agar pihak penerima senantiasa mengingat kehadiran warga pedalaman dan bersedia kembali menyalurkan kurban untuk mereka. Selepas adat dijalankan, proses kurban berjalan sebagaimana syariat.
Shalawat, doa, dan takbir berkumandang bergantian selama penyembelihan. Proses demi proses ini tidak hanya melahirkan antusiasme dan sukacita, melainkan juga pertanyaan-pertanyaan khususnya dari saudara-saudara mualaf di Kampung Oeue.
Bagi mereka yang baru memeluk agama Islam, baik konsep ibadah kurban maupun kehadiran Green Kurban Sinergi Foundation terasa menarik namun juga asing. Maka, tak heran jika pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari mereka.
“Ada juga yang bertanya tentang kurban ini pelaksanaannya setahun berapa kali, tujuannya apa, kami sampaikan kepada mereka,” terang Ustadz Syarif kepada Sinergi Foundation.
Inilah yang menjadi salah satu alasan Green Kurban memilih distribusi kurban ke pedalaman seperti Kampung Oeue. Selain sebagai upaya pemerataan, kurban di pelosok berfungsi sebagai sarana dakwah sosial yang membantu menguatkan akidah sekaligus membuka pintu bagi jamaah baru.
Sebab dalam setiap pelaksanaan kurban yang hadir dan diundang tak hanya jamaah Muslim, melainkan juga saudara-saudara non-Muslim.
Ustadz Syarif bercerita, dampaknya hampir setiap Ahad di daerah tersebut ada saja warga yang datang untuk menyampaikan niat memeluk agama Islam.
Ustadz Syarif menjelaskan, “Kami haqqul yaqin bahwa itu memang adalah hidayah. Tapi kemudian ada asbab hidayah. Asbab hidayah itu adalah dakwah sosial yang selama ini kami bangun.”
Selain itu, penyaluran Green Kurban ke Kampung Oeue juga menjadi jalan bagi warga untuk mengonsumsi daging. Menurut Ustadz Syarif, biasanya warga hanya mengonsumsi daging saat ada perayaan tertentu. Makanan pokok mereka adalah jagung dan singkong, dengan sayur-sayuran seperti daun kelor sebagai pelengkap.
Bahan-bahan tersebut didapatkan warga sembari bekerja sebagai petani. Setiap kali panen, akan ada bagian yang mereka pisahkan untuk konsumsi sehari-hari. Pada hasil panen tersebut lah mereka menggantungkan hidup.
Warga juga memiliki hasil kebun berupa asam dan kemiri yang bisa mereka jual sebagai komoditas untuk mendatangkan penghasilan. Namun, kedua hasil kebun ini hanya panen sekali dalam setahun. Dan masih sulit bagi mereka untuk menjualnya karena ketiadaan transportasi dan infrastruktur jalan.
Karena itu, kehidupan warga Kampung Oeue terbilang masih sangat sederhana. Penghasilan sebagai petani musiman yang tak menentu membuat mereka sulit membeli daging untuk konsumsi di rumah.
Segala kondisi ini semakin mempertegas makna yang dihadirkan Green Kurban bagi kampung di pelosok NTT tersebut. Sesuai dengan semangat “Kurban Nyata Berdaya” yang diusung tahun ini, dampak kurban menyentuh multidimensi.
Menumbuhkan keteguhan akidah dalam hati, meningkatkan konsumsi daging, merekahkan hangatnya kebersamaan, hingga memunculkan rasa syukur dan persaudaraan.
Rasa syukur yang hadir bersama harapan pun berhasil diabadikan oleh Ustadz Syarif saat membagikan daging kurban kepada ratusan penerima manfaat di Kampung Oeue dan sekitarnya.
Salah satunya diucapkan Tarsin Taneo, muslimah Kampung Oeue, menggunakan bahasa lokal mereka, “Haim toet terima kasih neumfekai sis korban mbi ton le'iye. Haim onen henaiti ton amnemte tamfem Ten kai.”
Arti dari ucapan tersebut disampaikan Ustadz Syarif. “Beliau mewakili jamaah yang ada di Kampung Oeue menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sinergi Foundation yang telah mendistribusikan hewan kurban tahun ini sehingga kami bisa berkurban lagi. Doa dari Mama Tarsin Taneo semoga tahun depan bisa mendapatkan distribusi kurban dari Sinergi Foundation lagi.”
Kampung Oeue di NTT menjadi salah satu dari puluhan kampung pedalaman yang menjadi titik distribusi Green Kurban tahun 2026. Selama bertahun-tahun, Sinergi Foundation konsisten melakukan upaya pemerataan daging kurban dengan distribusi yang menjangkau pelosok melalui program Green Kurban.
Tak hanya itu, Green Kurban tahun ini juga mengupayakan pelaksanaan kurban yang multidampak sejak awal prosesnya.
Dengan pembelian hewan dari peternak kecil, memastikan kurban tepat sasaran pada yang membutuhkan, distribusi kurban minim plastik, serta mengadakan aksi penanaman pohon dari setiap kurban yang ditunaikan.

8 hours ago
4













































