Enggan Didikte Asing, Turki Mandiri Bangun Kekuatan Militer, Analis Ungkap Strateginya

5 hours ago 4

Warga berdiri di depan bendera Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — "Turki kini menjadi negara yang memenuhi kebutuhan militernya sendiri sekaligus sepenuhnya melindungi wilayah udaranya dengan sistem yang diproduksi di dalam negeri."

Pernyataan itu disampaikan analis pertahanan Ahmet Alemdar dalam tulisannya di Daily Sabah beberapa hari lalu. Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global dan ketidakpastian hubungan pertahanan dengan negara-negara Barat, Ankara kini menargetkan sesuatu yang jauh lebih besar: membangun Angkatan Udara modern tanpa ketergantungan asing.

Ambisi tersebut tidak lagi sebatas rencana. Berbagai proyek strategis yang dikembangkan selama bertahun-tahun mulai mendekati tahap operasional, mulai dari jet latih, jet tempur generasi kelima, pesawat tempur tanpa awak, sistem peperangan elektronik, hingga jaringan pertahanan udara berlapis yang seluruhnya dikembangkan industri pertahanan nasional Turki.

Mengapa langkah ini menjadi penting? Menurut Alemdar, selama puluhan tahun Turki menghadapi apa yang disebut sebagai "hambatan psikologis" dalam dunia penerbangan militer.

Kebutuhan membeli pesawat tempur, helikopter, dan sistem pertahanan dari luar negeri menciptakan ketergantungan yang dianggap membatasi kebebasan strategis negara tersebut.

Namun kondisi itu mulai berubah. Pesawat latih Hürkuş II dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini, sementara jet latih dan tempur ringan Hürjet terus menunjukkan kemajuan menjelang masuk inventaris Angkatan Udara Turki. Kedua platform tersebut dipandang sebagai simbol berakhirnya ketergantungan Ankara pada platform pelatihan pilot dari luar negeri.

Tetapi proyek yang paling menyita perhatian adalah Kaan. Pesawat tempur generasi kelima buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) itu disebut sebagai puncak kemampuan industri penerbangan Turki.

Jika kelak menggunakan mesin turbofan produksi dalam negeri, Kaan akan menempatkan Turki dalam kelompok sangat terbatas negara yang mampu merancang dan memproduksi jet tempur generasi kelima secara mandiri.

Di saat yang sama, revolusi lain sedang berlangsung di langit Turki. Alemdar menilai Ankara tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi pesawat tanpa awak, melainkan telah berkembang menjadi salah satu negara yang ikut menentukan arah perkembangan peperangan drone modern.

Pengalaman operasi di Suriah, Libya, Karabakh, Ukraina, Somalia, Ethiopia, dan Sudan disebut memperlihatkan bagaimana drone buatan Turki mampu mengubah dinamika pertempuran di berbagai kawasan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research