FENDI AGUS SYAPUTRA, Dosen Sosiologi UNAND
Pendidikan dan Literasi | 2026-08-10 17:33:22
Kita mendapati bahwa membaca saat ini seolah menjadi kebiasaan yang tak menarik di tengah gempuran kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi, seperti berbagai platform media sosial, begitu menarik perhatian sehingga menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk menatap media sosial tersebut. Tak cukup sampai di sana, hadirnya kecerdasan buatan atau AI juga membuat membaca buku semakin terpinggirkan. Tentu kita menyadari bahwa kondisi ini bukanlah sesuatu yang baik.
Kehadiran media sosial dan AI mengubah cara manusia mengonsumsi informasi. Platform media sosial dan AI memiliki sistem kerja yang menyajikan informasi berupa konten berdasarkan selera pengguna. Hal ini kemudian menciptakan filter bubble yang membuat pengguna hanya disajikan informasi yang ia suka. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam ilusi kepintaran. Ia akan merasa pintar karena mengonsumsi banyak informasi, padahal pemahamannya dangkal dan tidak terstruktur. AI bahkan semakin mempermudah akses ke jawaban instan, tanpa perlu membaca penjelasan panjang lebar. Sayangnya, kemudahan ini justru membuat otak menjadi malas. Seperti otot yang tidak pernah dilatih, kemampuan analisis, refleksi, dan imajinasi yang hanya bisa diasah melalui membaca mendalam pun semakin melemah.
Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka akan banyak manusia yang cacat logika tetapi percaya diri bersuara. Kemudahan yang disajikan AI dan filter bubble media sosial membuat kemampuan menelaah informasi menjadi begitu buruk. Dampaknya, akan banyak orang yang berseliweran dan begitu mudah percaya pada apa pun yang mereka terima di media sosial, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih sederhana. Mereka terbiasa menelan informasi mentah-mentah tanpa verifikasi, karena media sosial tidak mengajarkan proses analisis. Masa depan seperti apa yang akan bangsa ini dapati dengan anak bangsa yang seperti itu.
Dalam hal ini, keberadaan buku menjadi sangat penting. Buku memiliki karakteristik yang berbeda dari sajian informasi digital seperti media sosial dan AI. Media sosial cenderung menyajikan informasi yang terpotong-potong. Sedangkan buku menyajikan pengetahuan secara utuh, sistematis, dan mendalam. Membaca buku juga dapat melatih kita untuk berpikir mengakar, memahami konteks, dan mencerna berbagai argumentasi. Proses inilah yang nantinya membentuk kemampuan berpikir dan ketajaman analisis yang tidak bisa didapatkan dengan cara instan seperti oleh rangkuman singkat di media sosial atau jawaban AI. Buku juga menjadi pelindung melawan misinformasi, dengan membaca sumber terpercaya, kita belajar membedakan antara fakta dan opini, antara data dan hoaks.
sumber: Pixabay.com
Buku mengajarkan kesabaran. Ia tidak menghibur dengan kepuasan semu seperti jumlah like atau komentar di media sosial, tetapi menjanjikan kepuasan intelektual yang membekas lama dan membentuk bangunan berpikir yang sehat. Membaca novel, misalnya, tidak hanya mengasah empati dan imajinasi, tetapi juga memperkaya kosakata dan kemampuan berpikir naratif, kemampuan yang tetap akan relevan bahkan di era kejayaan AI.
Membangun kebiasaan membaca bukanlah hal yang sulit. Terdapat berbagai cara agar membaca buku menjadi bagian dari rutinitas harian. Langkah pertama adalah membangun kesadaran bahwa membaca buku adalah obat bagi ketidaktahuan. Kesadaran bahwa kita masih “bodoh” akan membangun motivasi dari dalam diri sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tanamkan dalam diri bahwa setiap halaman yang dibaca adalah nutrisi yang diperlukan agar otak memiliki kemampuan dalam menyaring informasi, berpikir logis, dan tetap fokus di tengah gempuran informasi digital.
Langkah kedua, jangan membaca buku karena ingin terlihat pintar, karena hal ini akan membuat kita tanpa sadar memilih buku bacaan yang berat. Mulailah dengan genre yang disukai novel ringan atau biografi inspiratif. Tujuan awal adalah membangun rasa nyaman, bukan mengejar kuantitas.
Langah ketiga, menetapkan target berupa jumlah halaman setiap harinya bukanlah pilihan tepat, justru kontraproduktif. Fokus pada capaian jumlah halaman bisa membuat kita terburu-buru tanpa memahami isi. Sebaliknya, menetapkan durasi, misalnya 15–20 menit sehari, dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Matikan notifikasi gawai, cari sudut nyaman, dan nikmati proses membaca tanpa tekanan. Lama-kelamaan, durasi ini akan bertambah secara alami. Ingatlah bahwa tujuan kita membaca bukan tentang seberapa banyak yang dibaca, tapi seberapa banyak bacaan yang kita pahami.
Langkah keempat, manajemen waktu menggunakan media sosial. Media sosial seringkali membuat kita tanpa sadar telah membuang berjam-jam waktu kita setiap harinya. Video pendek dan tak ada batasan scroll konten membuat kita terlena. Sudah saatnya kita membatasi penggunaan media sosial. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan aplikasi yang bisa memberikan pengingat bahwa kita telah terlalu lama menggunakan media sosial di hari itu.
Terakhir, bergabunglah dengan lingkungan yang mendukung untuk membentuk kebiasaan ini. Kita tentu menyadari bahwa lingkungan sosial kita menentukan siapa diri kita. Maka carilah kelompok pertemanan yang sama-sama mau berkembang. Buat pertemuan rutin untuk berdiskusi, sehingga membaca menjadi sesuatu keharusan karena berdiskusi membutuhkan bacaan sebagai bahan bakarnya.
Kemajuan AI dan media sosial tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa memilih bagaimana meresponsnya. Membaca buku adalah bentuk perlawanan terhadap budaya instan yang membunuh kedalaman berpikir. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya terinformasi, tetapi juga tercerahkan. Mulailah hari ini, ambil buku yang tertumpuk di rak, luangkan 15 menit, dan biarkan setiap halaman mengingatkan kita bahwa di balik kebisingan era digital, ada kebijaksanaan yang hanya bisa ditemukan dalam keheningan membaca.
*Dosen Sosiologi FISIP Universitas Andalas
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
4












































