Freti Agustina
Bisnis | 2026-08-10 15:22:13
PAGI itu, aula Desa Talang Duku sudah ramai jauh sebelum acara dimulai. Kursi-kursi hijau tersusun rapi, spanduk besar terpasang di depan panggung, dan beberapa dari kami—mahasiswa KKN Kelompok 28—masih sibuk merapikan meja narasumber. Saya sempat berpikir, "Ini bukan sekadar acara desa biasa." Dan benar saja, hari itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama saya mengabdi di Desa Talang Duku, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi.
Acaranya adalah Sosialisasi Pendampingan BUMDes, hasil kerja sama PT Pelindo Regional 2 Jambi dengan Danantara Indonesia, BUMN Peduli, dan Pelindo Peduli. Tujuannya sederhana tapi penting: membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Talang Duku agar kelembagaannya makin kuat dan usahanya makin berkembang. Kami, mahasiswa KKN Kelompok 28, berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Bapak Doni Pirdaus, S.H., M.H., yang turut mengarahkan kami selama proses pengabdian di desa ini.
Kenapa BUMDes Itu Penting?
Sebelum ikut kegiatan ini, jujur saya belum terlalu paham betapa krusialnya BUMDes bagi sebuah desa. Setelah mendengar paparan narasumber, saya baru sadar—BUMDes itu semacam "mesin ekonomi" desa. Lewat BUMDes, potensi sumber daya desa bisa dikelola bersama, dan hasilnya kembali untuk meningkatkan pendapatan desa serta kesejahteraan warganya.
Tapi ya, sebuah mesin hanya akan berjalan baik kalau dirawat dengan benar. Di sinilah pentingnya penguatan kelembagaan, tata kelola usaha yang rapi, dan tentu saja sumber daya manusia yang cakap menjalankannya. Itulah alasan kenapa pendampingan seperti ini digelar.
Di Balik Layar: Persiapan yang Tak Terlihat
Sebagai mahasiswa KKN, kami tidak hanya duduk manis jadi peserta. Jauh sebelum hari-H, ada koordinasi panjang antara pihak Pelindo, kecamatan, dan pemerintah desa untuk menentukan waktu, tempat, dan siapa saja yang perlu diundang—termasuk kami.
Hari sebelum acara, kami turun tangan menata ruangan, memasang spanduk, sampai menyiapkan berbagai perlengkapan pendukung. Rasanya seperti jadi panitia dadakan, tapi justru dari situ saya belajar banyak hal yang tidak diajarkan di ruang kuliah: bagaimana sebuah acara besar disiapkan dari nol, dan betapa pentingnya kerja sama lintas pihak.
Hari Pelaksanaan: Semua Elemen Desa Berkumpul
Ketika hari sosialisasi tiba, saya melihat pemandangan yang cukup langka: Camat Taman Rajo, Kepala Desa Talang Duku, Ketua BPD, Kasi PMD Kecamatan, para pengelola BUMDes, tokoh masyarakat, dan tentu saja kami mahasiswa KKN, semuanya duduk dalam satu ruangan yang sama.
Narasumber dari PT Pelindo Regional 2 Jambi membuka sesi dengan membahas manajemen organisasi, pengelolaan keuangan, hingga strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan. Yang saya suka, materinya disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna, tidak kaku seperti seminar formal pada umumnya. Sesi tanya jawab pun berjalan hangat—warga dan pengelola BUMDes tidak segan bertanya soal tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan.
Selama acara berlangsung, kami mahasiswa mencatat poin-poin penting dan membantu proses dokumentasi. Sederhana memang, tapi dari situ saya jadi paham bagaimana proses pendampingan kelembagaan desa oleh pihak eksternal benar-benar dijalankan—bukan cuma teori yang saya baca di textbook.
Yang Saya Bawa Pulang dari Talang Duku
Kegiatan ini bukan cuma soal BUMDes. Buat saya pribadi, ini adalah pelajaran tentang bagaimana sinergi antara perusahaan, pemerintah desa, dan mahasiswa bisa menciptakan sesuatu yang nyata. Saya juga jadi lebih dekat dengan aparat desa dan para pengurus BUMDes—hubungan yang terasa hangat sepanjang masa pengabdian kami di sana.
Tentu, satu kali sosialisasi saja tidak cukup. Perlu pendampingan lanjutan yang lebih rutin agar semua materi yang disampaikan benar-benar diterapkan, bukan sekadar catatan di buku. Saya juga percaya, keterlibatan generasi muda desa—termasuk mahasiswa KKN seperti saya—perlu terus didorong. Karena pada akhirnya, merekalah yang akan meneruskan estafet pengelolaan BUMDes ini di masa depan.
Tanpa kerja sama semua pihak—perusahaan, pemerintah desa, dan kampus—kemandirian ekonomi desa mungkin hanya akan jadi wacana. Dan saya bersyukur, di Desa Talang Duku, saya sempat menjadi bagian kecil dari ikhtiar itu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
5












































