REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan terhadap dunia usaha untuk beradaptasi dengan risiko iklim dan tuntutan keberlanjutan semakin meningkat. Di tengah makin seringnya bencana hidrometeorologi dan ketatnya regulasi lingkungan, isu keberlanjutan kini tidak lagi dipandang sebagai pelengkap strategi bisnis, melainkan faktor yang memengaruhi daya tahan perusahaan dalam jangka panjang.
Realitas tersebut menjadi latar belakang terbitnya buku Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan: Panduan Praktis Green Productivity dan Manajemen Risiko Iklim Berbasis ESG karya Leonard Tiopan Panjaitan. Buku yang diterbitkan Deepublish pada 2026 itu mengulas berbagai pendekatan yang dapat diterapkan perusahaan untuk menghadapi risiko iklim sekaligus menjaga produktivitas bisnis.
Leonard, yang merupakan konsultan di Trisakti Sustainability Center serta co-founder dan anggota IS2P, menilai masih terdapat kesenjangan antara strategi keberlanjutan yang dirumuskan di tingkat manajemen dengan implementasinya di lapangan.
"Selama ini banyak perusahaan melihat ESG sebagai kewajiban kepatuhan. Padahal, risiko iklim sudah menjadi risiko bisnis yang nyata dan memengaruhi operasional maupun kinerja keuangan perusahaan," kata Leonard kepada Republika, Senin (8/6/2026).
Buku setebal 723 halaman tersebut membahas berbagai isu keberlanjutan dari perspektif bisnis dan manajemen risiko. Pembahasannya mencakup dampak perubahan iklim terhadap sektor perbankan, pertambangan, dan industri lainnya hingga 2030, sekaligus memberikan panduan teknis penerapan prinsip ESG di tingkat operasional.
Leonard menjelaskan, pendekatan yang digunakan dalam buku tersebut berangkat dari konsep green productivity, yakni upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas tanpa mengorbankan aspek lingkungan.
Menurut dia, perusahaan tidak perlu memilih antara keuntungan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui penerapan berbagai instrumen efisiensi seperti 5S, Kaizen, maupun Material Flow Cost Accounting (MFCA).
"Masih ada anggapan bahwa keberlanjutan akan menambah biaya bisnis. Padahal banyak pendekatan yang justru dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan," ujarnya.
Selain membahas produktivitas hijau, buku tersebut juga mengulas pengukuran emisi karbon, termasuk emisi Scope 3 yang semakin menjadi perhatian perusahaan global. Sejumlah studi kasus dari sektor e-commerce, pertambangan nikel, hingga industri manufaktur turut digunakan untuk menggambarkan penerapan strategi keberlanjutan dalam berbagai sektor usaha.
Aspek risiko keuangan akibat perubahan iklim juga menjadi salah satu fokus utama. Pembaca diajak memahami simulasi probabilitas gagal bayar kredit dan potensi kerugian finansial yang dipicu oleh risiko iklim, khususnya bagi sektor perbankan dan lembaga keuangan.
Leonard berharap buku tersebut dapat menjadi referensi bagi pelaku usaha, regulator, akademisi, maupun mahasiswa yang ingin memahami hubungan antara risiko iklim dan strategi bisnis.
"Transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan pendekatan yang berbasis data dan dapat diimplementasikan. Harapannya buku ini bisa menjadi panduan praktis bagi berbagai pihak yang terlibat dalam proses tersebut," kata Leonard.
Di tengah target Indonesia menuju ekonomi rendah karbon, kebutuhan terhadap panduan implementasi ESG dan manajemen risiko iklim diperkirakan akan semakin meningkat. Sejumlah sektor usaha juga mulai menghadapi tuntutan yang lebih besar dari investor dan pasar global untuk menunjukkan kinerja keberlanjutan yang terukur.

4 hours ago
3













































