REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bahasa Wabo di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, kini hanya dituturkan oleh generasi tua berusia 50-70 tahun. Kondisi itu mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat upaya dokumentasi dan penyusunan tata bahasa deskriptif untuk menjaga kelestarian bahasa yang berstatus kritis tersebut.
BRIN menggelar diskusi kelompok terpumpun untuk memverifikasi data bahasa Wabo di Kantor Bapperida Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, pada 8-12 Juni 2026. Kegiatan itu melibatkan para penutur asli bahasa Wabo, pemerintah daerah, Dewan Adat Yapen, serta Lembaga Perkumpulan Budaya Yapen (Persada).
Ketua Tim Peneliti BRIN, Satwiko Budiono, mengatakan data bahasa Wabo telah diarsipkan dalam Repositori Ilmiah Nasional (RIN) melalui program Language Documentation in Indonesia (Ladin) yang dikelola BRIN.
"Selain itu, data rekaman bahasa Wabo juga telah diarsipkan ke dalam repositori internasional bernama The Endangered Languages Archive (ELAR)," kata Satwiko, Kamis (11/6/2026).
Satwiko menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari riset dokumentasi bahasa Wabo yang dilakukan pada 2023-2024. Setelah proses pengarsipan data pada 2025, BRIN kini memasuki tahap verifikasi untuk menyusun tata bahasa yang dapat menjadi rujukan pelestarian bahasa tersebut.
“Riset dokumentasi bahasa Wabo ini memang memiliki proses kerja yang panjang dan berkelanjutan sehingga membutuhkan bantuan dari berbagai pihak seperti penutur bahasa Wabo itu sendiri dan pihak pemerintah daerah,” ujar Satwiko.
Menurut dia, bahasa Wabo termasuk salah satu bahasa daerah dengan status kritis di Papua karena tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Salah satu penyebabnya adalah larangan penggunaan bahasa Wabo dalam lingkungan pendidikan dan kegiatan keagamaan pada masa lalu.
Akibatnya, penggunaan bahasa Wabo terus menurun dan kini hanya bertahan di kalangan generasi tua. “Kondisi tersebut membuat dokumentasi dan penyusunan tata bahasa deskriptif menjadi penting agar kekhasan bahasa Wabo tetap dapat diwariskan dan dipelajari generasi berikutnya," kata Satwiko.
Dalam proses verifikasi, peneliti memeriksa kembali kata, frasa, klausa, hingga kalimat yang telah dikumpulkan sebelumnya. Verifikasi dilakukan untuk memastikan seluruh data sesuai dengan penggunaan asli bahasa Wabo serta mendapatkan kesepakatan dari para penutur.
Kepala Bapperida Kabupaten Kepulauan Yapen, Saskar Paiderouw, menyatakan dukungannya terhadap riset yang dilakukan BRIN. Menurut dia, Kepulauan Yapen memiliki banyak bahasa daerah yang menghadapi ancaman kepunahan sehingga membutuhkan perhatian serius.
"Bapperida Kepulauan Yapen berkomitmen terus mendukung dan mengupayakan riset perihal bahasa daerah ini dapat terus dilakukan ke depannya dengan kerja sama maupun kolaborasi dengan BRIN,” ujar Saskar.
Anggota DPRK Yapen, Mikha Runaweri, menilai kegiatan tersebut memberi harapan bagi pelestarian bahasa Wabo yang semakin jarang digunakan masyarakat.
"Dengan adanya kegiatan ini, saya menjadi optimis dan semangat bahwa bahasa Wabo dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan,” kata Mikha.

4 hours ago
1













































