REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bulan tak lagi sekadar benda langit yang jauh dan sunyi. Ia kini menjadi medan baru, tempat negara-negara besar menguji kekuatan, bukan dengan senjata, melainkan dengan teknologi, energi, dan ambisi jangka panjang. Di ruang hampa yang tampak tenang itu, sebuah kompetisi global tengah berlangsung: perebutan pengaruh, sumber daya, dan masa depan.
Narasi tentang keunggulan sains Rusia kembali mengemuka melalui tulisan Elena Karaeva di RIA Novosti. Ia menempatkan sejarah sebagai fondasi utama, menegaskan bahwa capaian luar angkasa Uni Soviet sejak era Yuri Gagarin masih menjadi tonggak yang sulit disaingi.
“Enam puluh lima tahun yang lalu, kami menang, dan dengan selisih yang sangat besar, dalam setiap perlombaan melawan Anda,” tulis Karaeva, menegaskan bahwa keunggulan Rusia bukan kebetulan, melainkan hasil tradisi ilmu pengetahuan fundamental yang kuat.
Dalam perspektif Karaeva, sains Rusia dibangun di atas idealisme, bukan sekadar insentif material. Ia menyoroti tokoh-tokoh seperti Sergei Korolev dan Konstantin Tsiolkovsky sebagai simbol ilmuwan yang bekerja demi negara, bukan penghargaan.
Namun, pandangan ini berdiri kontras dengan analisis yang lebih dingin dan struktural dalam laporan Eduardo Baptista di Reuters. Di sana, sains tidak dilihat sebagai warisan romantik, melainkan sebagai alat kompetisi geopolitik yang terus bergerak.
Baptista mencatat bahwa keberhasilan misi Artemis Amerika Serikat tidak hanya menjadi pencapaian teknologi, tetapi juga meningkatkan tekanan geopolitik terhadap China.
“Tidak ada hadiah yang lebih besar bagi China saat ini selain mendaratkan manusia di bulan,” ujar Clayton Swope dari CSIS, menegaskan bahwa dominasi di ruang angkasa kini menjadi simbol kekuatan global.
Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan Kang Guohua, profesor kedirgantaraan di China, yang menyebut bahwa pertanyaan utama kini telah bergeser.
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang sampai duluan, tetapi siapa yang bisa bertahan lebih lama dan berbuat lebih banyak,” ujarnya.
Dari sini, terlihat pergeseran mendasar dalam logika eksplorasi ruang angkasa.
Jika pada era Perang Dingin kompetisi berfokus pada simbol, siapa yang pertama mencapai orbit atau mendarat di bulan, maka kini kompetisi bergerak ke arah yang lebih konkret: keberlanjutan, kapasitas industri, dan kontrol sumber daya.

8 hours ago
2











































