REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Keberangkatan calon jamaah haji Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga saat ini dipastikan masih berjalan sesuai jadwal pada 21 April 2026 mendatang. Meski demikian, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi atau skenario menyusul dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih bergejolak.
Situasi di kawasan tersebut sempat memicu kekhawatiran, terutama setelah adanya lonjakan harga avtur pesawat dari Rp 13.656 menjadi Rp 23.551. Namun, kebijakan penurunan biaya haji sebesar Rp 2 juta oleh Presiden Prabowo Subianto seakan memberikan kepastian bahwa jamaah tidak akan dibebani biaya tambahan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah DIY, Jauhar Mustofa, menyampaikan seluruh persiapan hampir rampung hingga saat ini. Sebanyak 3.748 jamaah haji dari DIY dan wilayah Kedu tetap akan diberangkatkan dengan pengawasan ketat dan berbagai skenario perjalanan yang telah disiapkan.
"Persiapan penyelenggaraan haji secara keseluruhan sudah mencapai sekitar 99 persen. Tinggal sedikit hal teknis menjelang pemberangkatan," katanya saat dihubungi Republika, Sabtu (11/4/2026).
Ia menegaskan, jadwal keberangkatan masih sesuai rencana.
"Insya Allah masih on schedule," ucapnya.
Meski demikian, Jauhar menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan tiga skenario sebagai langkah antisipasi jika terjadi eskalasi konflik. Skenario pertama, pemberangkatan jemaah dilakukan penuh sesuai jadwal. Opsi ini yang saat ini masih dijalankan.
Skenario kedua, pemberangkatan terhadap calon jamaah haji akan dilakukan secara bertahap.
"Lalu opsi kedua akan berangkat separuh, jadi separuh berangkat, separuh tidak, tergantung nanti situasi dan kondisi," ujarnya.
Sedangkan skenario ketiga akan mengikuti kebijakan pemerintah Arab Saudi apabila memutuskan menutup akses ibadah haji demi alasan keamanan.
"Nah opsi ketiga kita mengikuti kebijakan Arab Saudi, kalau Arab Saudi menutup ya demi keselamatan jamaah, maka jamaah dengan terpaksa nanti tidak diberangkatkan. Itulah tiga opsi yang sudah disepakati oleh Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Haji," kata Jauhar.
Selain itu, mitigasi juga disiapkan pada fase kepulangan jemaah. Jika rute penerbangan terganggu akibat konflik, pemerintah telah menyiapkan jalur alternatif melalui negara yang lebih aman.
"Kalau misalnya rute kepulangan terganggu karena eskalasi konflik, maka akan dialihkan melalui jalur lain. Misalnya melalui negara di kawasan Afrika atau jalur yang tidak terdampak konflik," ungkapnya.
Jauhar menambahkan, hasil koordinasi dengan DPR dan pemerintah pusat juga memastikan bahwa kenaikan biaya penerbangan tidak akan dibebankan kepada jamaah, sehingga calon jamaah diharapkan tidak khawatir akan hal tersebut.
Adapun pemberangkatan calon jamaah, nantinya akan diawali dengan masuk asrama haji pada 21 April pagi hari, kemudian diberangkatkan pada malam harinya melalui Yogyakarta International Airport sekitar pukul 23.40 WIB.
Secara keseluruhan, DIY tahun ini memperoleh kuota 3.748 jemaah. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 10,5 kelompok terbang (kloter) akan diisi penuh oleh jamaah asal DIY, sementara setengah kloter lainnya merupakan gabungan dengan jamaah dari wilayah Kedu.
Untuk mempermudah layanan, Jauhar menjelaskan, penyelenggaraan haji tahun ini juga ditandai dengan penerapan digitalisasi layanan yang lebih luas. Seluruh visa jemaah haji DIY telah selesai diproses sebelum keberangkatan.
Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya saat masih ada jemaah yang visanya belum selesai saat masuk asrama. Selain itu, kartu identitas elektronik haji atau kartu Nusuk Haji juga akan dibagikan kepada jemaah sebelum berangkat. Ia tak menepis, pada tahun-tahun sebelumnya kartu tersebut sering baru diterima jamaah setelah tiba di Arab Saudi. Akibatnya sempat menimbulkan berbagai kendala dalam aktivitas jamaah.
"Sekarang kartu Nusuk sudah dibagikan saat di embarkasi sebelum jamaah berangkat. Ini tentu akan memudahkan jamaah ketika sudah tiba di sana," ungkapnya.
Meski persiapan hampir sepenuhnya selesai, Jauhar mengingatkan para calon jamaah untuk menjaga kondisi kesehatan menjelang keberangkatan. Pasalnya, saat masuk asrama haji, seluruh jamaah akan menjalani pemeriksaan kesehatan akhir.
Hasil pemeriksaan itu nantinya akan menentukan apakah calon jamaah dinyatakan layak terbang atau harus menunda keberangkatan. Apabila lolos pemeriksaan kesehatan, maka calon jamaah akan diberangkatkan.
"Tetapi kalau tidak memenuhi syarat, bisa saja keberangkatannya ditunda," ujarnya.

2 hours ago
1











































