Anak Meninggal Setelah Freestyle, Psikolog Ingatkan Bahaya Paparan Game Online

2 hours ago 1

Anak bermain game online (ilustrasi). Pemerintah segera merampungkan peraturan presiden (perpres) tentang perlindungan anak dari game online.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang bocah kelas satu sekolah dasar (SD) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan meninggalkan dunia setelah mengalami patah leher seusai mengikuti tren freestyle. Aksi berbahaya tersebut diduga terinspirasi dari game online populer.

Psikolog anak dan remaja, Evryanti Cahaya Putri, menyoroti bahaya paparan game online yang mengandung kekerasan bagi anak-anak. Menurutnya, anak usia kelas 1 SD secara psikologis belum mampu membedakan secara utuh antara fiksi dan realitas. Hal ini berkaitan dengan perkembangan otak yang masih dalam tahap awal sehingga sejumlah konsep penting belum berkembang secara matang.

"Anak pada usia ini belum sepenuhnya bisa memahami sebab-akibat, risiko, maupun konsekuensi fisik dari tindakan yang dilakukan. Mereka juga masih kesulitan menahan dorongan impulsif," kata Evryanti saat dihubungi Republika, Rabu (6/5/2026).

Dalam teori perkembangan kognitif yang dikemukakan Jean Piaget, kata dia, anak usia SD awal berada pada tahap operasional konkret. Pada fase ini, anak cenderung memahami hal-hal yang bersifat nyata, namun kesulitan menangkap konsep abstrak seperti kematian atau nyawa.

Karena itulah, anak cenderung menganggap bahwa dirinya tidak akan cedera bahkan bisa "hidup kembali" layaknya karakter game online. "Karena kan kalau di game itu karakternya itu kalau sudah mati, bisa ada nyawa lagi, bisa hidup lagi gitu ya. Anak akan mengira bahwa apa yang terjadi di game dan kehidupan nyata itu sama, padahal kan tidak," kata dia.

Sebagai pencegahan, Evryanti menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan pendampingan. Orang tua dinilai perlu menjelaskan secara konkret risiko dari tindakan berbahaya, seperti kemungkinan cedera serius atau patah tulang.

Selain itu, pembatasan durasi penggunaan gawai (screen time) juga menjadi langkah penting. Orang tua disarankan untuk aktif mengawasi aktivitas anak saat menggunakan perangkat digital, termasuk mengetahui konten yang ditonton maupun game yang dimainkan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research