Alasan Orang China Dulu Punya Rambut Setengah Botak dan Kepang

2 months ago 29

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam budaya populer, terutama film, banyak pria di China masa lalu punya gaya rambut unik, yakni setengah botak licin dan setengah sisanya dikepang panjang. Jika dilihat dari kacamata saat ini, maka model rambut tersebut bisa saja mengundang gelak tawa sebab berbeda 180 derajat dibanding model kekinian. 

Lantas, kenapa mereka punya gaya rambut seperti itu?

Dalam sejarah, gaya rambut tersebut disebut Bianzin atau Toucang. Ini dimulai pada tahun 1644 atau era Dinasti Qing. Kala itu, penguasa Dinasti Qing melakukan reformasi besar-besaran di kekaisaraan usai terjadi pemberontakan dari suku Manchu. Para pemimpin membuat kebijakan seperti membuang para kasim, membatasi pernikahan, hingga mewajibkan para pria mencukur rambut dengan model seragam.

Dilansir dari Britannica, model tersebut adalah setengah botak licin dan setengah sisanya dikepang panjang. Ketika kewajiban ini rilis para pria yang berasal dari suku Han enggan melakukannya. Bagi mereka rambut merupakan kehormatan. Tak boleh dipotong sebab dianggap bentuk bakti ke orang tua.

Makanya, para pria dari suku Han memiliki tambut panjang dengan beragam model. Jelas, hadirnya peraturan tersebut membuat mereka ogah mencukur rambut. Terlebih, mereka juga menganggap cukuran tersebut aneh dan bisa memalukan diri.

Meski begitu, aturan mesti ditegakkan. Kekaisaran memberi dua pilihan kepada para pria yang enggan mencukur rambit: cukur atau penggal kepala  Praktis, ini membuat mereka tak lagi punya rambut necis dan mengubahnya menjadi setengah botak licin dan kepang.

Mengutip situs History, kebijakan ini tak serta merta diterima pria diseluruh China. Mereka diwarnai rasa malu dan hina, sehingga muncul rasa balas dendam dengan melancarkan gerakan perlawanan anti-banzi atau toucang di China. Mereka ogah tunduk pada tukang cukur dan memilih angkat senjata melawan kekaisaran.

Pertempuran yang hanya gara-gara perkara rambut pun tak bisa dihindari. Meski begitu, kekaisaran tetap tak bisa dilawan. Para pria terpaksa mengikuti aturan tersebut. Barulah 10 tahun kemudian seluruh pria di China punya model rambut seragam. Dari sini, setiap generasi semua pria melakukan itu dan berjalan selama ratusan tahun. Kebijakan tersebut baru berakhir pada tahun 1911 seiring reformasi besar-besaran di internal China.

Akibat bertahan selama ratusan tahun, tak heran di berbagai wilayah dunia sering ditemukan warga China dengan rambut demikian. Di Batavia (kini Jakarta) sekitar abad ke-17 juga banyak warga Tionghoa memiliki rambut setengah botak dan kepang karena berkiblat pada kebijakan di China. 


(mfa/mfa)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Tren Kecantikan 2025 dari Make Up Hingga Skin Care

Next Article Angka Perceraian Meroket, Perusahaan Ini Malah Cuan Besar

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research