
Oleh: Fikrul Hanif Sufyan, periset dan pengajar sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Namanya memang tidak ditemukan dalam lembaran sejarah nasional. Namun perannya diabadikan oleh Taufik Abdullah (1971), Audrey Kahin (2008), Mestika Zed (2024) dan Fikrul Hanif Sufyan (2021) dalam risetnya.
Di Padang pada awal abad ke-20, salah satu ruang penting itu adalah Pasar Gedang (Gadang). Di sanalah kain, batik, barang besi, hasil bumi, modal, dan gagasan beredar hampir bersamaan. Dan di tengah denyut pasar itu muncul seorang saudagar Minangkabau bernama Abdullah, yang kemudian dikenal sebagai Inyiak Basa Bandaro atau Angku Basa yang turut menghiasi dunia pergerakan nasional.
Perjalanan hidupnya menarik bukan karena berasal dari keluarga bangsawan atau menempuh pendidikan tinggi. Justru sebaliknya. Abdullah sebagai anak kampung dari Maninjau yang tidak pernah duduk di bangku sekolah formal pada masa kecilnya. Pendidikan pertamanya berlangsung di surau, di tengah adat, agama, pergaulan kampung, dan kehidupan ekonomi masyarakat Danau Maninjau.
Dari dunia semacam itulah seorang anak bernama “Dulah” perlahan menjelma menjadi saudagar, guru silat, penggerak organisasi perdagangan, penyokong pendidikan, perantara masyarakat dengan penguasa kolonial, lalu bersentuhan dengan arus nasionalisme Indonesia.
Kisah Abdullah karena itu bukan sekadar biografi seorang pedagang. Ia memperlihatkan bagaimana pasar, surau, rantau, pendidikan, dan politik bertemu dalam pembentukan kelompok elite pribumi pada penghujung masa kolonial.
Abdullah yang lahir pada 1880 berasal dari Suku Melayu Taban di Maninjau. Ayahnya bernama Ali dari Suku Caniago, sedangkan ibunya bernama Cakap. Kampung asalnya disebut Teratak Jambu Putih, Jorong Bancah, Maninjau (Samad, 1987). Masa kecil Abdullah tidak digambarkan melalui ruang kelas, tetapi melalui surau dan kehidupan kampung.
Sejak remaja, ia disebut menonjol di antara teman-temannya: berani, cerdik, gigih, bertanggung jawab, dan setia kawan. Salah satu kisah kecil dalam buku itu justru penting untuk membaca wataknya. Bersama kawan-kawannya, Abdullah mengorganisasi pencarian buah pala yang jatuh pada malam hari. Buah itu kemudian dijual di pekan, sementara hasilnya dipakai untuk kebutuhan kelompok dan kegiatan mereka di surau.
Lingkungan Maninjau juga mendidiknya melalui tuntutan adat terhadap laki-laki muda. Untuk memperoleh pengakuan, seorang pemuda harus mampu menjaga dirinya, kaum, dan nagarinya. Abdullah kemudian mempelajari silat. Sumber menyebut ia mendalami salah satu bentuk silek kampuang di Maninjau, di samping memperluas pengetahuan agama dari ulama setempat.
Menariknya, ilmu bela diri dalam narasi Abdullah tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan pendidikan agama dan pembentukan watak. Ia bergaul dengan ulama, mempelajari tauhid dan syariat, sekaligus hidup dalam dunia yang menempatkan keberanian dan kemampuan mempertahankan diri sebagai bagian dari kehormatan laki-laki Minangkabau. Tetapi menjadi laki-laki dewasa di Minangkabau juga berarti menghadapi tuntutan lain, merantau.
Rantau sebagai Sekolah Kehidupan
Dalam dunia Minangkabau lama, rantau adalah jalan untuk memperoleh penghidupan sekaligus pengalaman. Abdullah mengikuti jalur itu. Ia mula-mula bergerak ke Pesisir Selatan, mengikuti jaringan keluarga dan pedagang dari daerah Danau Maninjau. Perjalanan tidak selalu dilakukan dengan sarana yang nyaman. Buku tersebut menggambarkan rombongan Abdullah berjalan melalui Bungus dan Siguntur, mendaki bukit sebelum turun ke kawasan Painan.
Rantau kemudian membawanya ke Pariaman, Tanah Datar, Solok, dan Sawahlunto. Di Sicincin, sekitar dekade 1890-an menurut sumber, Abdullah berdagang sekaligus membuka sasaran silat. Dari lingkungan ini muncul gelar Bagindo Kinya, nama yang menandai reputasinya dalam dunia persilatan (Samad, 1987).
Kisah-kisah mengenai kesaktiannya tentu perlu dibaca sebagai bagian dari tradisi biografi lisan Minangkabau. Namun, di balik cerita tentang silat terdapat sesuatu yang lebih historis: kemampuan bela diri membuka jaringan pergaulan Abdullah.
Ia tidak hanya bergaul dengan pedagang, tetapi juga penghulu, ulama, parewa, dan berbagai lapisan masyarakat. Jaringan sosial itu menjadi modal penting ketika kemudian ia memutuskan menetap di Padang.
Sekitar tahun 1900 Abdullah menikah. Sumber memperkirakan usianya ketika itu mendekati 30 tahun. Setelah berumah tangga ia mulai mengalihkan orientasi hidupnya ke Padang. Inyiak Basa Bandaro pun melekat dalam panggilan dan ingatan untuknya pasca melepas masa lajang.
Namun, memasuki kota perdagangan kolonial tanpa modal besar bukan perkara mudah.
Inyiak Basa Bandaro tidak memiliki modal cukup untuk langsung membuka toko. Ia juga belum mempunyai nama di antara saudagar dan tokoh berpengaruh Padang. Jalan yang ditempuhnya khas: menggunakan kemampuan yang telah dimilikinya untuk membangun jaringan baru.
Inyiak Basa Bandaro membuka sasana silat. Dari sasaran itu datang murid-murid, termasuk orang-orang terpandang. Sedikit demi sedikit Abdullah memperoleh reputasi dan kepercayaan. Ia menerima barang titipan dari toko-toko di kawasan Batang Arau dan Jalan Muara. Dari titik itu dimulailah transformasi penting dalam hidupnya: dari guru silat menjadi saudagar. Dan panggung terpenting transformasi itu bernama Pasar Gedang.
Pasar Gedang, Jantung Perdagangan Pribumi
Pada awal abad ke-20, Pasar Gedang merupakan salah satu pusat perdagangan penting di Padang. Dalam manuskripnya Samad (1987), menulis bahwa pasar ini terutama digambarkan sebagai pusat tekstil dan manufaktur yang memiliki hubungan dagang luas dengan pedalaman Minangkabau.
Pasar tersebut terbagi dalam kawasan Pasar Mudik dan Pasar Hilir. Para pedagang datang dari berbagai daerah: Mandailing, Tanah Datar, Agam, Sumpur, Solok, dan Padang (Sufyan, 2021). Ada kelompok pedagang yang dikenal melalui komoditas dan asal daerahnya. Pedagang Kumango, misalnya, identik dengan perdagangan barang besi dan peralatan, sementara pedagang lain menekuni tekstil, batik, dan barang manufaktur.
Pasar Gedang dengan demikian bukan sekadar tempat transaksi. Ia merupakan peta sosial Minangkabau dalam bentuk ekonomi. Kain dari luar daerah, termasuk produk manufaktur dan batik Jawa, bertemu dengan jaringan pedagang dari pedalaman. Barang kemudian bergerak ke pasar-pasar di kota dan nagari lain (Sufyan, 2022).
Jangkauan Pasar Gedang bahkan terhubung dengan daerah Jambi dan Riau. Di lingkungan inilah Inyiak Basa Bandaro —membangun kedudukannya. Ia bukan satu-satunya saudagar besar. Buku tersebut menyebut sejumlah nama pedagang dari berbagai kelompok daerah. Namun, ia memperoleh posisi tersendiri karena kemampuannya membangun hubungan dengan banyak lapisan masyarakat.
Popularitasnya lahir bukan hanya dari besarnya usaha, melainkan dari jaringan sosialnya. Ia berhubungan dengan pedagang, ulama, tokoh adat, hingga pejabat kolonial. Sebagai saudagar pribumi yang berkepentingan menjaga daya tawar kelompoknya, Inyiak Basa Bandaro kemudian ikut mengorganisasi pedagang Pasar Gedang (Sufyan, 2018).
Sekitar 1918 disebut berdiri sebuah perkumpulan bernama Saudagar Vereeniging (S.V.), berkantor di Pasar Malintang, kemudian pindah ke Pasar Mudiak. Organisasi ini dimaksudkan untuk membantu usaha anggota sekaligus memperkuat persatuan dan disiplin para saudagar ketika menghadapi persaingan dagang (Salim, 1971).
Episode ini penting karena menunjukkan bahwa kelas saudagar Minangkabau tidak pasif menghadapi struktur ekonomi kolonial. Mereka mencoba membentuk organisasi, memperkuat jaringan internal, dan menciptakan mekanisme pertolongan antarpedagang (Kahin 2008). Dari pasar, kesadaran berorganisasi bergerak ke pendidikan dan kehidupan sosial.
Dari Modal Dagang ke Modal Pendidikan
Inyiak Basa Bandaro tidak berhenti pada organisasi saudagar. Ia juga terlibat dalam Syarikat Usaha, bersama sejumlah tokoh lain. Perkumpulan itu mengelola sekolah HIS Adabiah yang mendapat subsidi pemerintah Hindia Belanda. Keterlibatannya dalam pendirian atau pengembangan perguruan agama Thawalib di Lubuk Mata Kucing, Padang Panjang.
Hubungannya dengan lingkungan pendidikan Islam cukup luas. Ia disebut dekat dengan tokoh seperti Haji Karim Amrullah atau Haji Rasul dan Engku Mudo Hamid. Ia juga berhubungan dengan Zainuddin Labay dan membantu lingkungan yang kemudian melahirkan pendidikan perempuan Diniyah School Puteri yang dipimpin Rahmah El Yunusiyah.
Catatan ini tentunya menarik, ketika ditempatkan berhadapan dengan latar belakang pribadi Abdullah sendiri. Ia adalah seseorang yang menurut biografinya tidak memperoleh pendidikan sekolah formal pada masa kecil, tetapi ketika mencapai posisi ekonomi dan sosial yang kuat, justru pendidikan menjadi salah satu bidang yang didukungnya.
Lebih jauh lagi, sumber menyebut prinsipnya terhadap generasi berikutnya: anak dan kemenakan sebaiknya disekolahkan, bukan semata-mata diarahkan menjadi penerus toko. Perubahan ini menggambarkan salah satu transformasi besar masyarakat Minangkabau pada awal abad ke-20. Kekayaan saudagar tidak hanya ditransmisikan sebagai modal dagang, tetapi mulai diubah menjadi modal pendidikan. Sekolah menjadi bentuk baru investasi keluarga.
Perubahan ekonomi global setelah Perang Dunia I juga menarik perhatian Inyiak Basa Bandaro. Ia mulai melirik perdagangan hasil bumi, ketika kopi, kulit manis, kemenyan, kopra, dan komoditas lain menjadi bagian penting dari mata rantai ekspor Sumatera Barat. Pedagang pribumi berhadapan dengan jaringan perdagangan yang lebih besar dan telah terkoneksi dengan perusahaan ekspor kolonial.
Beberapa kawannya sesama saudagar pun gulung tikar akibat Perang Dunia I. Sebut saja engku Sulaiman – yang merupakan ayah kandung dari Chatib Sulaiman. Ketika usahanya gulung tikar dan Chatib gagal melanjutkan pendidikanya di MULO, Inyiak Basa Bandaro membiayai sekolahnya, sekaligus mengangkatnya sebagai anak.
Di Maninjau, Angku Basa ikut mengorganisasi pedagang hasil bumi dalam perkumpulan yang disebut N.V. K.O.M., atau Kesatuan Onderafdeling Maninjau, dengan akta notaris tahun 1919. Usaha dagangnya tidak selalu berhasil. Pada 1926, banjir besar di Padang menimbulkan kerugian besar. Sumber menyebut sekitar 1.200 pikul kopi miliknya yang tersimpan di gudang Pasar Gedang terendam dan rusak. Ia masih mencoba bertahan beberapa tahun, tetapi sekitar 1929 kegiatan dagangnya berhenti.
Bagi banyak orang, keruntuhan bisnis mungkin berarti akhir pengaruh. Bagi Inyiak Basa Bandaro, justru dimulailah babak lain. Ia memasuki dunia politik dan pergerakan dengan jaringan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun.
Saudagar Memasuki Politik
Sesudah berhenti berdagang, Inyiak Basa Bandaro semakin dekat dengan arus politik kebangsaan. Sumber menyebut keterlibatannya setelah berdirinya PNI serta pergaulannya dengan tokoh-tokoh politik. Bahkan, ketika gerakan Kuminih membesar, ia menjadi satu di antara donatur yang membiayai penerbitan Pemandangan Islam dan Djago! Djago!.
Pada 1928-1929 ia beberapa kali pergi ke Jakarta dan bertemu Muhammad Yamin, Adnan Kapau Gani, serta tokoh pergerakan lainnya. Tahun 1933, setelah berdirinya Persatuan Muslim Indonesia atau Permi, ia dikisahkan menemui Mohammad Hatta dan menanyakan pilihan antara Islamisme dan nasionalisme sebagai dasar menggerakkan rakyat.
Jawaban Hatta sederhana, keduanya sama pentingnya. Inyiak Basa Bandaro atau Angku Basa juga memiliki hubungan keluarga dengan Rasuna Said. Ketika Rasuna menghadapi perkara politik dan berada dalam tahanan, Angku Basa berusaha mencari nasihat hukum hingga ke Batavia.
Di titik ini terlihat bagaimana jaringan kekerabatan Minangkabau bersentuhan dengan pergerakan modern. Hubungan mamak-kemenakan, saudagar, sekolah, organisasi Islam, dan politik tidak berdiri pada ruang terpisah. Semuanya bertemu di dalam jaringan orang yang sama.
Berhadapan dengan Pemerintah Kolonial
Salah satu episode paling menarik terjadi sesudah pergolakan di Onderafdeling Sawahlunto/Sijunjung. Dalam narasi sejarah menyebutnya peristiwa Silungkang. Pemerintah Hindia Belanda menempatkan pasukan di sejumlah nagari Minangkabau. Kebijakan itu mendapat keberatan dari para pemimpin masyarakat.
Pemerintah kemudian mengirim pejabat bernama Hamerster untuk berunding dengan wakil masyarakat Minangkabau. Wakil yang berhadapan dengan pejabat kolonial itu adalah Angku Basa. Argumennya menarik. Angku Basa tidak langsung berbicara dalam bahasa “pemberontakan.”
Ia menggunakan logika tanggung jawab pemerintah. Kalau pemerintah menganggap paham politik tertentu membahayakan masyarakat, katanya dalam substansi percakapan itu, maka tugas pemerintahlah melakukan pengawasan secara tepat; bukan menjadikan seluruh masyarakat sebagai pihak yang harus diperlakukan dengan pendekatan militer.
Inyiak Basa Bandaro mengibaratkan masyarakat sebagai penghuni rumah dan pemerintah sebagai pihak yang bertugas menjaga keamanan. Apabila rumah dimasuki pencuri pada siang bolong, kelalaian penjaga juga harus dipersoalkan.
Pengawasan militer di nagari-nagari, menurut Inyiak Basa Bandaro harus diganti dengan mekanisme kepolisian politik dan pemerintahan sipil.Apakah perubahan kebijakan itu sepenuhnya merupakan akibat argumentasi Inyiak Basa Bandaro tentu membutuhkan pembuktian dari arsip kolonial.
Hubungan Inyiak Basa Bandaro dengan politik nasional berlanjut. Ketika Soekarno berada dalam pembuangan di Bengkulu, Inyiak Basa Bandaro menemuinya dalam perjalanan kembali ke Padang pada 1938. Satu dekade kemudian, ketika Presiden Soekarno berada di Bukittinggi pada 1948, ia kembali disebut hadir dalam lingkungan pertemuan tersebut.
Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi anggota Tjuo Sangi Kai Sumatera Barat. Ada sebagian kecil yang menyebut Inyiak Basa Bandaro adalah tokoh dibalik hadirnya pendidikan kemiliteran bagi pemuda. Namun sebagian besar menghubungkan pembentukan Gyugun di Minangkabau adalah prakarsa dari anak angkatnya, yakni Chatib Sulaiman. Namun, ia memperlihatkan bahwa pada usia lanjut sekalipun Angku Basa masih dianggap berada dalam lingkaran pembicaraan mengenai masa depan masyarakat.

4 hours ago
3















































