REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- — Kebutuhan nasional akan tenaga kesehatan mental di fasilitas layanan kesehatan primer dapat dipenuhi lebih cepat apabila kompetensi psikolog lulusan pendidikan profesi psikologi dioptimalkan.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bersama dengan Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Seminar menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Brian Yuliarto, sebagai pembicara kunci, serta mempertemukan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan psikologi, organisasi profesi, kementerian dan lembaga terkait, dan perwakilan masyarakat pengguna layanan.
Ketua AP2TPI, Rahmat Hidayat PhD, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan profesi psikologi telah mengalami transformasi mendasar sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi.
Program profesi kini merupakan jalur pendidikan tersendiri yang menghasilkan lulusan dengan sebutan psikolog, dan setiap mahasiswa wajib menjalani praktik terbimbing pada empat latar layanan sekaligus: latar kesehatan, sekolah, tempat kerja, dan komunitas.
Rancangan kurikulum tersebut, kata dia, diarahkan sejalan dengan karakter layanan di Puskesmas. Layanan kesehatan primer tidak semata menangani gangguan jiwa, melainkan mencakup fungsi promosi kesehatan mental, pencegahan, deteksi dan asesmen awal, intervensi klinis, serta kolaborasi lintas profesi — seluruhnya merupakan kompetensi yang dilatihkan secara langsung dalam pendidikan profesi psikologi.
"Data praktik mahasiswa pada latar layanan kesehatan di 19 kampus yang telah menjadi penyelenggara program profesi psikolog menunjukkan bahwa lulusan telah menjalankan fungsi-fungsi tersebut," kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Prof Harry Minas, psikiater dan pakar kesehatan mental global dari Australia yang menjadi salah satu pembicara, mengingatkan bahwa penentuan jenis tenaga psikologi yang dibutuhkan semestinya berangkat dari analisis kebutuhan dan ruang lingkup tugas di layanan primer terlebih dahulu, baru kemudian ditetapkan kompetensi dan kualifikasi yang sesuai.
Dalam kerangka itu, psikolog dan psikolog klinis berada dalam hubungan yang saling melengkapi — analog dengan dokter umum dan dokter spesialis — di mana psikolog menjalankan sebagian besar fungsi layanan primer, sementara psikolog klinis menangani kasus kompleks serta berperan sebagai penerima rujukan dan supervisor.

2 hours ago
4














































