Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
14 January 2026 13:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan signifikan anggaran pertahanan negaranya hingga mencapai US$1,5 triliun pada tahun fiskal 2027 atau setara dengan Rp25.290 triliun (asumsi kurs Rp16.860/US$1). Angka tersebut melonjak lebih dari US$500 miliar dibandingkan proyeksi belanja pertahanan pada 2026.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada 7 Januari 2026, di mana dia menyebut lonjakan anggaran ini akan digunakan untuk membangun apa yang sebut sebagai "Dream Military", sekaligus memastikan keamanan Amerika Serikat dari berbagai ancaman. Trump menegaskan, kenaikan anggaran sekitar 50% itu akan dibiayai dari pendapatan tarif.
Rencana tersebut mendapat sambutan positif dari pimpinan Partai Republik di Kongres. Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, Roger Wicker, menilai kenaikan ini sejalan dengan dorongannya agar belanja pertahanan AS mencapai 5% dari produk domestik bruto (PDB).
Bersama Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR Mike Rogers, Wicker menyebut tambahan dana akan mempercepat berbagai program modernisasi di seluruh matra militer.
Menurut mereka, peningkatan anggaran akan mendorong percepatan produksi pesawat dan kapal perang, modernisasi persenjataan, serta pengembangan teknologi baru guna menjaga keunggulan militer AS.
Namun demikian, rencana ambisius tersebut juga memunculkan pertanyaan. Hingga kini belum ada kejelasan mengenai pembagian dana ke masing-masing matra militer, setidaknya sampai Gedung Putih merilis permintaan anggaran resmi 2027 yang biasanya disampaikan pada Februari atau Maret.
Jika kenaikan anggaran pertahanan AS pada tahun fiskal 2027 benar-benar disetujui, maka nilainya akan menjadi rekor tertinggi. Sebelumnya, pada tahun fiskal 2026 anggaran pertahanan tercatat sebesar US$962 miliar atau setara Rp16.219 triliun.
Manfaat Bagi Angkatan Udara AS
Bagi Angkatan Udara AS, tambahan anggaran ini dinilai berpotensi mempercepat rencana modernisasi besar-besaran. Secara historis, Angkatan Udara menerima sekitar 20% dari total anggaran militer AS. Jika proporsi tersebut tetap, maka tambahan dana pada 2027 diperkirakan mencapai sekitar US$100 miliar.
Purnawirawan Letjen Dave Deptula, dekan Mitchell Institute for Aerospace Studies, menilai dana tersebut sebaiknya difokuskan untuk memperbarui inventaris pesawat guna menggantikan armada yang menua, meningkatkan anggaran pemeliharaan, serta menambah jam terbang demi memperkuat kesiapan tempur.
Dia menyebut sebagian dana juga bisa dialokasikan ke program F-47 dan Collaborative Combat Aircraft, namun menekankan bahwa peningkatan pengadaan dari lini produksi yang sudah berjalan merupakan langkah paling mendesak.
F-47 merupakan calon pesawat tempur generasi ke enam milik Angkatan Udara AS yang ditujukan untuk misi air superiority yang diperkirakan akan menggantikan jet tempur F-22 Raptor.
Foto: Boeing
F-47
Pandangan serupa disampaikan peneliti American Enterprise Institute, Todd Harrison, yang menyarankan agar tambahan dana digunakan untuk menutup pembengkakan biaya program strategis seperti Sentinel, pengganti rudal balistik antarbenua Minuteman III, serta mempercepat pengembangan jet tempur generasi baru dan pembaruan armada pesawat pengisian bahan bakar.
Meski demikian, para analis mengingatkan agar Angkatan Udara tidak menganggap lonjakan anggaran ini sebagai peningkatan jangka panjang. Kenaikan satu kali dinilai kurang ideal dibandingkan pendanaan tahunan yang berkelanjutan.
Space Force AS Ikut Terdampak
Angkatan Luar Angkasa AS saat ini memiliki porsi anggaran terkecil, sekitar 3% dari total belanja Pentagon, atau sekitar US$26 miliar pada 2026, meski kemudian meningkat menjadi sekitar US$40 miliar melalui mekanisme rekonsiliasi.
US Space Force sendiri adalah cabang keenam dari angkatan bersenjata AS yang dibentuk pada tahun 2019 dan bertugas melindungi kepentingan Amerika Serikat di luar angkasa, mengelola aset luar angkasa seperti GPS, mendeteksi ancaman, dan mengembangkan teknologi antariksa untuk keamanan nasional.
Jika mengikuti proporsi yang sama, Space Force berpotensi menerima tambahan sekitar US$15 miliar pada 2027.
Namun, sejumlah pengamat menilai porsi tersebut seharusnya lebih besar. Selain kebutuhan penambahan personel, permintaan misi berbasis antariksa terus meningkat, termasuk pemantauan target bergerak dari luar angkasa dan penguatan kapabilitas keunggulan antariksa.
Space Force juga akan memainkan peran penting dalam proyek Golden Dome, yakni sistem pertahanan rudal berlapis milik Pentagon yang menggabungkan sensor dan teknologi pencegat canggih. Tambahan dana dinilai dapat mempercepat pengembangan sensor, sistem komando dan kendali, serta memperluas skala produksi teknologi yang sudah ada.
Meski demikian, ada pula pandangan yang lebih berhati-hati. Harrison menilai tantangan utama Space Force saat ini bukan kekurangan dana, melainkan kemampuan mengeksekusi program yang sudah berjalan. Dia menekankan pentingnya menyelesaikan proyek yang ada sebelum meluncurkan inisiatif baru.
Ujian bagi Industri Pertahanan
Lonjakan anggaran ini juga menjadi ujian bagi basis industri pertahanan AS, baik di sektor udara maupun antariksa. Menurut Deptula, tambahan dana tidak akan digunakan untuk menciptakan teknologi sepenuhnya baru, melainkan memperluas program dan lini produksi yang sudah ada.
Sementara itu, Charles Galbreath dari Mitchell Institute menilai industri antariksa siap merespons permintaan pemerintah. Namun, dia mengingatkan bahwa tantangan terbesar ada pada rantai pasok dan kecepatan produksi, seiring meningkatnya kebutuhan operasional akibat ancaman yang dinilai semakin besar.
Trump sendiri menyebut angka US$1,5 triliun tersebut disusun berdasarkan tingkat ancaman yang dihadapi AS. Dengan demikian, keberhasilan rencana ini tidak hanya bergantung pada persetujuan politik, tetapi juga pada kemampuan industri pertahanan untuk memenuhi kebutuhan dalam skala dan waktu yang ditentukan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)















































