Jakarta, CNBC Indonesia - Ayatullah Khamenei kembali menjadi salah satu sosok yang paling dicari di tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Sejumlah media Israel melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2). Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait kabar tersebut.
Media Israel, mengutip sumber pejabat setempat, menyebut Khamenei dilaporkan terputus dari komunikasi sejak serangan terjadi. Nasib pemimpin tertinggi Iran itu pun disebut masih belum dapat dipastikan.
Walla melaporkan sejumlah pejabat Israel tidak dapat menghubungi Khamenei setelah serangan berlangsung. Sementara itu, Channel 12 Israel menyebut keyakinan bahwa Khamenei tewas semakin menguat di kalangan pejabat Israel.
Mengutip sumber pemerintah Israel, Channel 12 juga menyatakan Khamenei setidaknya mengalami luka akibat serangan Tel Aviv terhadap sebuah bangunan yang diyakini sebagai lokasi tempat tinggalnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Israel maupun Amerika Serikat terkait kondisi Khamenei maupun hasil serangan di Teheran.
Siapa Khamenei?
Bernama lengkap Sayyid Ali Hosseini Khamenei, dia sudah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader of Iran) sejak 1989 hingga saat ini.
Lahir di Mashhad Iran pada 17 Juli 1939, Khamenei hanyalah satu dari dua Ayatullah yang pernah dilahirkan Iran. Gelar Ayatullah yang merupakan supremasi ulama tingkat tinggi dalam hierarki Syiah sebelumnya hanya disematkan kepada Ayatollah Imam Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini yang merupakan pemimpin Revolusi Islam Iran.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 menggantikan Khomeini.
Dalam kasta kepemimpinan pemerintahan Iran, Pemimpin Tertinggi Iran jauh lebih berkuasa dari presiden. Dia adalah pemimpin agama, politik, dan militer tertinggi, pengambil keputusan utama dalam kebijakan luar negeri, militer, dan urusan strategis.
Jejak Khamenei
Pemimpin Tertinggi Iran adalah peran yang baru ada sejak negara tersebut mengakhiri sistem monarki dan beralih ke Republik pada 1979.
Di puncak struktur tersebut dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei. Dia berasal dari lingkungan ulama dan punya jejak panjang dalam politik Iran, baik sebelum maupun sesudah Revolusi 1979. Setelah Revolusi, Ali masuk ke lingkaran kekuasaan dan perlahan menapaki jalur politik yang makin strategis.
Foto: (REUTERS/Amir Cohen)
Israel melancarkan serangan udara terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Dua suara ledakan dilaporkan terdengar di area Teheran, ibu kota Iran, pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. (REUTERS/Amir Cohen)
Karier politiknya menonjol ketika menjadi Presiden Iran pada tahun 1980-an. Artinya, dia pernah memegang jabatan eksekutif tertinggi yang dipilih melalui mekanisme politik negara.
Namun sejarah Iran berbelok pada 1989 saat pemimpin revolusi Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia. Pada momen itu Iran harus menentukan sosok yang akan menduduki kursi tertinggi negara sebagai Supreme Leader.
Khamenei kemudian dipilih menjadi Pemimpin Tertinggi oleh Assembly of Experts atau Majelis Ahli, yakni lembaga yang secara konstitusional diberi mandat untuk memilih. Sejak itu, posisi Khamenei berubah dari presiden yang kuat menjadi Pemimpin Tertinggi yang memegang kendali jauh lebih luas, bukan hanya urusan pemerintahan, tetapi juga arah politik negara, kebijakan strategis, dan simpul-simpul institusi yang menentukan stabilitas rezim.
Kekuatannya tidak hanya bertumpu pada teks konstitusi, tetapi juga pada cara sistem berjalan sehari-hari.
Ketika pusat kendali berada di posisi tertinggi, sementara banyak lembaga penting bergerak sejalan dengan garis kebijakan pusat, kekuasaan Pemimpin Tertinggi menjadi sangat dominan. Karena itu, nama Khamenei kerap ikut muncul dalam slogan-slogan demonstrasi yang sudah berubah dari protes ekonomi menjadi protes sistem.
Kebijakan Khamenei
Pada akhir 1996, Ayatollah Khamenei mengeluarkan fatwa bahwa pendidikan musik untuk anak-anak di bawah 16 tahun di fasilitas publik dianggap menyesatkan dan merusak moral, sehingga menyebabkan penutupan banyak sekolah musik.
Khamenei adalah pemimpin pertama yang menetapkan fatwa pada 1999 yang memperbolehkan donor gamet pihak ketiga (sperma dan ovum) untuk pasangan infertil, termasuk penggunaan gamet donor bahkan setelah meninggalnya donor
Khamenei adalah pemimpin pertama yang menetapkan fatwa pada 1999 yang memperbolehkan donor gamet pihak ketiga (sperma dan ovum) untuk pasangan infertil, termasuk penggunaan gamet donor bahkan setelah meninggalnya donor
Perbedaan Tugas dan Peran Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran
Menurut konstitusi Republik Islam Iran, Presiden Iran adalah kepala eksekutif yang dipilih melalui pemungutan suara langsung dari rakyat Iran. Pemimpin Tertinggi Iran adalah pemimpin politik dan agama dengan peringkat tertinggi di Republik Islam Iran
Dalam pemilihannya, Pemimpin Tertinggi Iran atau dikenal juga Pemimpin Agung dipilih oleh sekelompok ahli. Hal ini berbeda dengan Presiden yang dipilih rakyat.
Oleh karena itu, secara hirarki, Presiden Iran berada di bawah Pemimpin Tertinggi Iran. Saat ini Pemimpin Tertinggi Iran adalah
Fungsi Presiden dan Pimpinan Tertinggi Iran
Presiden Iran bertanggung jawab untuk menandatangani perjanjian, perjanjian dengan negara lain, organisasi internasional, dan lainnya. Ia memiliki kekuasaan untuk menunjuk menteri, duta besar, gubernur setelah disetujui oleh parlemen.
Presiden Iran adalah Kepala Kabinet dan Pemerintahan, Kepala Dewan Keamanan Nasional, Memilih semua Wakil Presiden, mengirim dan menerima duta besar asing dan merupakan Kepala Dewan Revolusi Kebudayaan.
Sedangkan Pimpinan Tertinggi mempunyai kewenangan untuk menunjuk kepala pos-pos penting seperti komandan angkatan bersenjata, kepala yayasan keagamaan besar, direktur jaringan radio dan televisi nasional, pemimpin salat di masjid-masjid kota, hakim ketua, anggota Dewan Keamanan nasional, dan menangani urusan-urusan. dengan urusan luar negeri dan pertahanan, kepala jaksa, 12 hakim Dewan Wali.
Pemimpin Tertinggi Iran merancang kebijakan umum Iran, mengawasi pelaksanaan kebijakan sistem yang tepat, mengeluarkan keputusan mengenai referendum nasional.
Dia juga memegang komando tertinggi atas angkatan bersenjata dan bertanggung jawab atas deklarasi perang, mobilisasi angkatan bersenjata, kendali penuh atas Fuqaha di Guardian Dewan, otoritas kehakiman Iran, kepala staf gabungan, panglima tertinggi angkatan bersenjata, penandatanganan keputusan pemilu di Iran, pengampunan dan pengurangan hukuman bagi terpidana, dan lainnya.
Pemimpin Tertinggi Iran bersama-sama dengan dua pertiga mayoritas anggota Parlemen juga bisa memakzulkan presiden berkuasa.
Foto: (REUTERS/Rami Shlush)
Ledakan di laut, terlihat dari Haifa, Israel utara, Sabtu (28/2/2026). Ledakan itu diduga berasal dari serangan rudal Iran. (REUTERS/Rami Shlush)
Konflik dan Perang Selama EraKhamenei
Iran sebagai salah satu poros utama Timur Tengah kerap terlibat dalam sejumlah konflikgeopolitik. Sepanjang era kepemimpinanKhamenei, Iran setidaknya terlibat dalam delapan konflik besar. Keberadaannya selalu dicari setiap kali serangan muncul:
1. Perang Teluk (1990-1991)
Iran netral secara resmi, tetapi mengecam invasi Irak ke Kuwait dan kemudian menolak intervensi Amerika Serikat (AS). Iran mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arab.
2. Perang Saudara Afghanistan (1990-an-2001)
Iran mendukung Aliansi Utara melawan Taliban yang didukung Pakistan dan sebagian Arab Saudi. Iran hampir berperang langsung dengan Taliban pada 1998 setelah Taliban membantai diplomat Iran diMazar-i-Sharif.
3. Perang Irak (2003-2011)
Iran tidak terlibat langsung, tetapi memainkan peran penting dengan mendukung milisi Syiah di Irak sepertiBadrCorps danKataibHezbollah, untuk melawan pasukan koalisi pimpinan AS dan mempengaruhi politik Irak pasca-Saddam Hussein.
4. Perang Suriah (2011-sekarang)
Iran menjadi salah satu pendukung utama rezim Basharal-Assad, mengirim penasihat militer, Pasukan Quds (IRGC), dan mendukung milisi seperti Hezbollah Lebanon.
Iran terlibat dalam pertempuran melawan pemberontak Suriah, ISIS, dan kelompok lain yang didukung AS, Turki, dan negara-negara Teluk.
5. PerangYaman(2015-sekarang)
Iran mendukung Houthi(Ansar Allah) secara politik, finansial, dan teknologi (termasuk drone dan rudal). Tidak terlibat langsung dalam pertempuran, tetapi sangat berperan dalam memperkuat kekuatan Houthi melawan koalisi pimpinan Arab Saudi.
6. Konflik Israel-Iran (Bayangan/Shadow War, 2000-an-sekarang)
Iran terlibat dalam perang bayangan melawan Israel meski tidak langsung turun tangan. Dukungan kepada Hezbollah,Hamas, dan kelompok militan Palestina lain.
Operasi di Suriah melawan Israel. Serangan siber, sabotase, dan serangan terhadap kapal/kapal tanker di kawasan Teluk. Israel sering menyerang posisi Iran di Suriah.
7. Konflik Teluk & Insiden Selat Hormuz(berulang, 2000-an-sekarang)
Iran terlibat dalam berbagai insiden di SelatHormuzseperti penyitaan kapal tanker. Serangan drone dan rudal terhadap fasilitas minyak Saudi (dituding dari Iran). Ketegangan dengan Angkatan Laut AS di wilayah Teluk.
8. Konflik Israel-Iran (2025)
Kedua negara melakukan perang terbuka sejak 13 Juni 2025. Amerika Serikat kini turun langsung dengan ikut menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026).
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae)
Addsource on Google














































