Utang Dunia Tembus Rekor Baru US$348 T, Ini Dia Biang Keroknya

5 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

28 February 2026 13:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang global melonjak ke rekor baru pada akhir 2025, didorong terutama oleh belanja pemerintah.

Hal ini disampaikan oleh Institute of International Finance (IIF) melaui laporannya. Tercatat total utang dunia mencapai US$348 triliun atau setara Rp5.830 kuadriliun (asumsi kurs Rp16.755/US$) pada Desember 2025.

Nilai tersebut naik hampir US$29 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$319,5 triliun, atau meningkat sekitar 8,9% secara tahunan, sekaligus menjadi kenaikan tahunan tercepat sejak lonjakan pada masa pandemi 2019.

Lonjakan Utang Pemerintah Jadi Pengerek Utang Dunia

IIF menyebut, kenaikan tersebut terutama berasal dari sektor pemerintah yang menyumbang lebih dari US$10 triliun. Amerika Serikat, China, dan Eropa disebut bertanggung jawab atas sekitar tiga perempat dari lonjakan tersebut.

Meski nominal utang naik, rasio utang global terhadap output ekonomi turun tipis menjadi sekitar 308% dari PDB pada 2025. Penurunan rasio ini terutama didorong negara maju. Sebaliknya, rasio utang di pasar berkembang terus meningkat dan menembus rekor di atas 235% dari PDB.

IIF juga mengingatkan akan akumulasi utang yang berpotensi berlanjut. "Perpaduan kuat antara ekspansi fiskal, kebijakan moneter yang akomodatif, dan penyederhanaan regulasi dengan pendekatan lebih longgar dapat mendorong akumulasi utang lebih lanjut sekaligus meningkatkan kekhawatiran atas naiknya leverage dan overheating di sebagian pasar," tulis IIF, dikutip dari Reuters.

Komposisi Bergeser, Jatuh Tempo Mengintai

Secara rinci, utang pemerintah global berada di kisaran US$106,7 pada akhir 2025, naik dari US$96,3 triliun pada akhir 2024. Sementara itu, utang korporasi non keuangan mencapai sekitar US$100,6 triliun. Kewajiban rumah tangga pun meningkat menjadi US$64,6 triliun, namun peningkatan utang rumah tangga dinilai masih cukup moderat.

Di pasar negara maju, total utang naik ke sekitar US$231,7 triliun. Di emerging markets, total utang mencapai sekitar US$116,6 triliun. Keduanya sekaligus mencatatkan rekor tertinggi baru.

IIF turut menyoroti perubahan komposisi utang yang makin terliat jelas. Rasio utang di sektor swasta mengalami penurunan dari puncaknya ketika pandemi, sementara utang publik terus membesar. Pergeseran ini membuat neraca global lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kepercayaan investor.

Pada Januari 2026, penerbitan obligasi pemerintah global mencatat salah satu awal tahun tersibuk, ketika pemerintah bergegas melakukan pendanaan di muka untuk kebutuhan anggaran di tengah permintaan investor yang masih kuat.

Dari sisi korporasi, penerbitan surat utang juga terbilang ramai. Penerbitan obligasi investment grade di Amerika Serikat disebut berada di jalur menuju tahun yang kuat setelah Januari yang cepat, dibantu penerbit besar dari sektor teknologi dan industri.

IIF menilai kondisi keuangan yang lebih longgar dapat mendukung mobilisasi modal untuk prioritas nasional, termasuk pertahanan.

"Kondisi keuangan yang lebih mudah semestinya mendukung upaya memobilisasi modal yang sangat dibutuhkan untuk prioritas nasional, termasuk pembiayaan pertahanan," tulis IIF

IIF juga menyebut gelombang baru supercycle belanja modal global berpotensi memperkuat momentum tersebut. Investasi skala besar pada pusat data berbasis kecerdasan buatan, keamanan dan transisi energi, serta infrastruktur yang tangguh disebut muncul sebagai mesin pertumbuhan utama bagi pasar utang global.

Dengan latar itu, IIF menilai utang global bisa tetap meningkat pada 2026 jika defisit fiskal masih lebar dan perusahaan terus membiayai belanja modal lewat pasar obligasi.

Namun bantalan pertumbuhan dinilai terbatas. IMF dalam pembaruan World Economic Outlook Januari 2026 memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,3% pada 2026, dengan negara maju tumbuh sekitar 1,8% dan pasar berkembang sedikit di atas 4%. Menurut IIF, laju tersebut belum cukup kuat untuk cepat mengencerkan stok utang yang terus naik jika laju penambahan utang berlanjut seperti 2025.

IIF memperkirakan pasar berkembang menghadapi utang lebih dari US$9 triliun yang akan jatuh tempo utang pada 2026. Hal ini dinilai dapat menjadi rekor beban refinancing. Sementara negara maju menghadapi lebih dari US$20 triliun obligasi dan pinjaman yang akan jatuh tempo.

Untuk saat ini, permintaan yang kuat membantu menjaga pendanaan tetap teratur. Namun tingginya pembiayaan pemerintah, kebutuhan rollover yang besar, serta penerbitan besar di awal tahun membuat level utang global diperkirakan tetap berada dekat rekor historis. IIF menilai, pilihan kebijakan fiskal semakin menentukan arah neraca dunia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research