Khamenei Meninggal, Ini Daftar Petinggi Iran Tewas di Tangan AS-Israel

4 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

01 March 2026 10:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mencapai titik eskalasi tertinggi menyusul operasi militer skala besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan bahwa serangan tersebut telah mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di kompleks kediamannya di Teheran melalui ungggahan sosial medianya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mengkonfirmasi bahwa kompleks utama di Teheran telah dihancurkan melalui serangan kejutan yang terkoordinasi guna melumpuhkan pertahanan dalam negeri.

Otoritas Iran juga akhirnya memberikan konfirmasi resmi mengenai status Khamenei yang sudah meninggal. Media pemerintah Iran mengatakan negara berduka selama 40 hari ke depan.

Operasi militer gabungan ini-yang diklasifikasikan oleh Departemen Pertahanan AS sebagai "Operation Epic Fury" dan oleh Israel sebagai "Lion's Roar"secara spesifik menargetkan infrastruktur militer krusial Iran. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan pengerahan sekitar 200 jet tempur yang secara simultan menjatuhkan ratusan amunisi ke sekitar 500 target strategis.

Sasaran utama mencakup fasilitas komando dan kendali Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sistem pertahanan udara, serta situs peluncuran rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).

Militer Israel mengkonfirmasi tewasnya sejumlah petinggi pertahanan Iran dalam operasi tersebut, termasuk Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Shamkhani, Komandan IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, dan Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh.

Presiden Trump menyatakan bahwa kampanye militer ini bertujuan untuk melumpuhkan kapasitas produksi rudal Iran, menghancurkan armada angkatan lautnya, dan memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir. Ia juga memberikan ultimatum kepada militer Iran untuk meletakkan senjata guna mendapatkan amnesti, atau menghadapi konsekuensi operasi lanjutan yang mematikan.

Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh menunggu sesi foto bersama sebelum Pertemuan Menteri Pertahanan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Qingdao, provinsi Shandong, Tiongkok, 26 Juni 2025. REUTERS/Florence LoFoto: REUTERS/Florence Lo
Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh menunggu sesi foto bersama sebelum Pertemuan Menteri Pertahanan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Qingdao, provinsi Shandong, Tiongkok, 26 Juni 2025. REUTERS/Florence Lo

Dampak Domestik dan Seruan Perubahan Rezim

Eskalasi ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi nuklir yang dimediasi oleh Oman. Washington dan Tel Aviv secara terbuka menggunakan momentum ini untuk mendorong perubahan rezim, dengan seruan langsung kepada warga sipil Iran untuk mengambil alih pemerintahan.

Dampak serangan di dalam negeri Iran sangat masif dan meluas. Laporan Bulan Sabit Merah Iran pada Sabtu malam mencatat sedikitnya 201 korban jiwa dan 747 orang luka-luka yang tersebar di 24 dari 31 provinsi, termasuk di Teheran, Isfahan, Qom, dan Kermanshah.

Media pemerintah juga melaporkan setidaknya 85 orang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar di Minab, provinsi Hormozgan. Serangan ini juga menargetkan area di sekitar kantor Presiden Masoud Pezeshkian, meski yang bersangkutan dilaporkan aman. Merespons situasi ini, otoritas penerbangan sipil Iran segera menutup seluruh wilayah udaranya, diiringi dengan pemadaman jaringan internet berskala besar.

Serangan Balasan Retributif ke Pangkalan AS dan Israel

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal. Sebagai respons, militer Iran melalui IRGC melancarkan serangan retribusi yang ekstensif.

Laporan intelijen mengindikasikan peluncuran sekitar 150 rudal balistik dan puluhan drone penyerang yang menargetkan wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Di Israel, layanan ambulans Magen David Adom melaporkan jatuhnya korban luka akibat pecahan peluru dan gelombang kejut di wilayah tengah dan utara, serta laporan media setempat mengenai satu korban jiwa di Tel Aviv setelah rudal menghantam sebuah gedung.

Sementara itu, pangkalan militer AS yang menjadi target presisi meliputi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al Dhafra di Uni Emirat Arab (UEA), markas Armada Kelima AS di Bahrain, hingga Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.b IRGC mengklaim telah memberikan pukulan pada kapal pendukung tempur AS dan menghancurkan sistem radar FP-132 milik AS di Qatar.

Kerusakan kolateral juga meluas ke infrastruktur sipil. Di UEA, dilaporkan adanya korban jiwa warga sipil akibat jatuhnya puing proyektil di Abu Dhabi, serta insiden yang melukai staf di Bandara Internasional Dubai. Di Bahrain, sebuah drone dilaporkan menghantam gedung pencakar langit dan memicu kebakaran besar.

Ancaman Rantai Pasok Energi dan Respons Global

Dari perspektif ekonomi makro, peringatan yang dikeluarkan oleh misi angkatan laut Uni Eropa (EUNAVFOR ASPIDES) menjadi sinyal kewaspadaan tinggi. IRGC dilaporkan telah mengeluarkan instruksi yang melarang kapal komersial melintasi Selat Hormuz.

Jalur maritim ini merupakan urat nadi pasokan energi dunia yang memfasilitasi distribusi sekitar 20% dari total minyak mentah dan gas alam global. Potensi blokade di titik sempit ini berisiko memicu disrupsi rantai pasok serius yang dapat memacu lonjakan harga komoditas energi.

Krisis ini juga melumpuhkan sektor aviasi regional. Maskapai penerbangan internasional seperti Emirates, British Airways, Wizz Air, dan Lufthansa menghentikan operasi komersial ke area konflik guna memitigasi risiko keselamatan penumpang dan armada.

Komunitas internasional merespons krisis ini dengan tindakan darurat. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar pertemuan atas permintaan Prancis, Tiongkok, dan Rusia. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyesalkan hilangnya peluang diplomasi, sementara para pemimpin negara-negara Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak de-eskalasi segera guna mencegah perang regional yang berpotensi mengguncang stabilitas makroekonomi global.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research