Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
01 March 2026 11:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan mempengaruhi pergerakan harga komoditas energi global. Insiden yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada saat ini menjadi fokus utama para pelaku pasar dalam memantau stabilitas pasokan minyak mentah dunia.
Selain itu, belum tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi faktor tambahan yang diperhatikan oleh pasar dalam beberapa waktu terakhir, namun eskalasi juga kian memanas mengingat Iran telah memastikan bahwa Ali Hosseini Khamenei telah dinyatakan wafat per Minggu (1/3/2026) pukul 9.00 WIB.
Dengan hal ini, Iran juga menyatakan telah mengecam kejadian tersebut hingga mengancam akan menutup jalur perdagangan di selat Hormuz dengan adanya insiden ini yang mampu mengakibatkan kelanjutan kenaikan harga minyak dunia.
Kinerja Harga Minyak Sepekan Terakhir
Berdasarkan data perdagangan pada pekan terakhir Februari 2026, harga minyak dunia menunjukkan pergerakan yang dinamis namun cenderung stabil pada awal hingga pertengahan minggu. Pada Senin (23/2/2026), minyak mentah acuan global, Brent, dibuka pada level US$ 71,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$ 66,31 per barel.
Memasuki pertengahan pekan, harga mengalami konsolidasi dan menyentuh level US$ 70,75 per barel untuk Brent serta US$ 65,21 per barel untuk WTI pada Kamis (26/2/2026). Pergerakan berbalik pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), di mana Brent ditutup menguat sekitar 2% pada level US$ 72,48 per barel dan WTI mencatatkan posisi penutupan di US$ 67,02 per barel.
Peningkatan harga pada akhir pekan tersebut mengindikasikan adanya langkah penyesuaian posisi portofolio oleh para pelaku pasar sebelum penutupan bursa. Langkah ini merupakan bentuk mitigasi risiko terhadap potensi perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah selama akhir pekan.
Proyeksi dan Risiko Rute Distribusi Global
Sejalan dengan perkembangan situasi tersebut, sejumlah institusi perbankan melakukan pembaruan terhadap proyeksi pasar energi. Barclays, dalam laporan terbarunya, merevisi perkiraan harga minyak berjangka Brent dari US$ 80 per barel menjadi sekitar US$ 100 per barel.
Revisi proyeksi tersebut didasarkan pada perhitungan risiko logistik di perairan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz. Berdasarkan data industri, sekitar 20% dari total konsumsi minyak global didistribusikan melalui jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab tersebut. Potensi hambatan atau disrupsi pada rute distribusi ini menjadi faktor risiko utama yang diantisipasi oleh pasar komoditas.
Pembukaan perdagangan pada awal pekan diperkirakan akan mencatatkan peningkatan volatilitas. Penentuan harga dalam jangka waktu terdekat diproyeksikan akan lebih banyak merespons informasi mengenai eskalasi geopolitik serta kondisi infrastruktur energi di wilayah terkait, dibandingkan dengan indikator fundamental neraca permintaan dan penawaran reguler. Pasar akan melakukan penyesuaian harga berdasarkan informasi riil yang terjadi di lapangan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google














































