Tokoh Lintas-Agama se-Jateng Kutuk Aksi Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus 

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Tokoh-tokoh lintasagama di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mengutuk aksi penyiraman air keras yang dialami Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus. Mereka mendesak negara, khususnya aparat penegak hukum, mengusut tuntas kasus tersebut. 

Dikoordinasi oleh Persaudaraan Lintas-Agama (Pelita) Semarang, tokoh-tokoh lintas-agama se-Jateng, termasuk pegiat hak asasi manusia (HAM), berkumpul di Vihara Tanah Putih Semarang pada Senin (16/3/2026). Mereka berhimpun untuk menyuarakan kecaman keras atas aksi penyerangan terhadap Andrie Yunus. 

Mereka yang hadir di Vihara Tanah Putih antara lain Wakil Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia Provinsi Jateng Pandita Aggadhammo Suwarto, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Semarang Romo Ratmo, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Kristen Kota Semarang Pendeta Rahmat Raja Gukguk, Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia Kota Semarang Lukito, perwakilan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jateng, dan lainnya. 

Hadir pula sejumlah tokoh pegiat HAM, seperti Direktur LBH Semarang Ahmad Syamsuddin Arief, Ketua Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) eLSA Semarang Tedi Kholiludin, dan Direktur LRC KJHAM Witi Muntari. Sebelum pembacaan pernyataan sikap bersama, Tedi Kholiludin sempat menyampaikan pembukaan. 

Dia mengatakan, aksi penyiraman air keras kepada Andrie Yunus bukan kekerasan biasa, melainkan bentuk teror. Oleh sebab itu, Tedi menekankan, penting bagi aparat penegak hukum untuk mengusut dan mengungkap secara gamblang kasus tersebut. 

"Karena sekali lagi, ini bukan kasus biasa. Ini tentang kriminalisasi yang terjadi pada teman-teman human right defender. Andrie Yunus kemarin, hari ini bisa saja kita, atau bulan depan mungkin teman-teman yang sedang memperjuangkan hak asasi manusia, bukan tidak mungkin menjadi korban berikutnya," ucap Tedi. 

Tedi mengungkapkan, aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus turut membawa pesan bernuansa ancaman. "Dengan menyerang Andrie, mungkin aktor intelektual ini ingin mengatakan, 'Kalau kamu melakukan apa yang seperti Andrie lakukan, kamu akan seperti dia'. Ini kan pesan yang sedang diberikan melalui teror itu kepada Andrie Yunus," ujarnya. 

"Dalam perspektif demokrasi, teror ini bukan hanya kriminalitas biasa, tapi ini adalah ancaman serius yang kemudian menarik mundur demokrasi seperti ketika kita berada di Orde Baru, menjadikan pengkhianatan terhadap reformasi dan seterusnya," tambah Tedi. 

Koordinator Pelita Semarang, Setyawan Budy, mengatakan, acara di Vihara Tanah Putih diikuti tokoh lintas-agama se-Jateng. Dia mengungkapkan, mereka berkumpul karena merasa prihatin dengan aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. "Ini di luar norma-norma kemanusiaan," tegasnya.

Setyawan mengingatkan kembali bahwa serangan terhadap Andrie Yunus terjadi pada bulan Ramadhan dan ketika umat Hindu sedang bersiap memperingati Nyepi. "Ini juga melukai kita sebagai umat beragama," ujarnya. 

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research