Tekan Eropa Patuhi Kesepakatan, Trump Ancam Naikkan Tarif Dagang

4 hours ago 1

presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Sabtu (18/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketegangan perdagangan antara Amerika dan Eropa kembali meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap produk Eropa jika Brussel gagal memenuhi komitmen perjanjian dagang yang telah disepakati kedua pihak.

Usai berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, Trump memutuskan menunda ancaman kenaikan tarif hingga 4 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan AS.

“Saya telah dengan sabar menunggu Uni Eropa memenuhi bagiannya dari perjanjian perdagangan bersejarah yang kami negosiasikan di Turnberry, Skotlandia,” tulis Trump melalui media sosial.

Ia menegaskan, apabila Uni Eropa gagal mengimplementasikan penuh kesepakatan tersebut hingga tenggat waktu, Washington akan memberlakukan tarif “jauh lebih tinggi” terhadap produk-produk Eropa.

Ancaman terbaru ini memperpanjang eskalasi perang dagang trans-Atlantik yang sebelumnya dipicu rencana Washington menaikkan tarif kendaraan produksi Eropa dari 15 persen menjadi 25 persen.

Dalam perjanjian yang dicapai musim panas lalu, Uni Eropa berkomitmen menghapus sisa tarif terhadap berbagai produk asal AS. Sebagai imbalannya, Washington menyetujui skema tarif tetap 15 persen bagi sebagian besar produk Uni Eropa guna mencegah akumulasi hambatan perdagangan baru, sebagaimana diberitakan Euronews pada Jumat (8/5/2026).

Namun implementasi kesepakatan tersebut kini tersendat di internal Eropa. Parlemen Eropa dan negara-negara anggota masih bernegosiasi terkait rancangan undang-undang yang memungkinkan penghapusan tarif secara penuh.

Perdebatan utama muncul terkait tuntutan sejumlah anggota parlemen Eropa agar dimasukkan klausul perlindungan apabila AS melanggar kesepakatan atau mengancam integritas teritorial Uni Eropa.

Kekhawatiran itu menguat setelah Trump sebelumnya memicu kontroversi dengan pernyataannya mengenai kemungkinan mengambil alih Greenland dari Denmark.

Sementara itu, sebagian negara anggota Uni Eropa memilih mempertahankan rumusan asli perjanjian tanpa klausul tambahan demi mempercepat implementasi kesepakatan dagang tersebut.

Ancaman Trump menaikkan tarif hingga 25 persen juga memperkuat kritik terhadap perjanjian itu di kalangan politik Eropa. Sejumlah pihak menilai Washington berpotensi terus menekan Brussel untuk memberikan konsesi tambahan, terutama terkait regulasi digital dan kebijakan lingkungan Uni Eropa yang selama ini kerap dikritik Gedung Putih.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research