Oleh: Laely Purnamasari, Dosen FEB Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan Indonesia meningkat menjadi 56,7 persen, sementara TPAK laki-laki stagnan di kisaran 82-84 persen.
Angka ini sekilas tampak positif. Namun fenomena di lapangan berkata lain: semakin banyak rumah tangga urban di mana laki-laki usia produktif tidak benar-benar bekerja, sementara perempuan dipaksa menjadi tulang punggung keuangan.
Bukan karena laki-laki kehilangan pekerjaan lalu aktif mencari. Yang terjadi justru lebih halus dan berbahaya: mereka memilih tidak aktif, menolak pekerjaan karena "gaji terlalu kecil", atau bekerja paruh waktu sambil tetap mengaku sebagai kepala rumah tangga.
Sementara itu, istri atau pasangan perempuannya bekerja dua hingga tiga shift untuk menutupi defisit. Fenomena ini belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dengan istilah "laki-laki rebahan". Namun benarkah mereka malas? Atau ada jebakan psikologis yang lebih dalam?
Berdasarkan ilustrasi data sintesis yang saya lakukan terhadap 400 pasangan urban (April 2026), ditemukan 71,5 persen laki-laki yang tidak bekerja atau berkontribusi kecil mengalami apa yang dalam psikologi keuangan disebut loss aversion: mereka lebih takut kehilangan status, malu menerima gaji kecil, atau takut ditolak dalam wawancara, daripada termotivasi untuk bekerja.
Mereka lebih memilih tidak bekerja daripada "turun martabat". Ironisnya, beban finansial bergeser ke pasangan perempuannya. Data sintesis tersebut juga mengungkapkan:
●57,8 persen laki-laki berkontribusi kurang dari 30 persen pendapatan rumah tangga, tapi tetap mengaku "kepala rumah tangga".
●37,2 persen menolak pekerjaan dengan gaji di atas UMP karena dianggap "terlalu kecil".
●64,8 persen mengalami overconfidence: merasa layak mendapat gaji besar, padahal tidak memiliki keterampilan yang sesuai kebutuhan pasar kerja saat ini.
Sementara itu, 63,8 persen perempuan menanggung lebih dari 60 persen pengeluaran rumah tangga. 67,8 persen tidak bisa menabung karena harus menutup defisit pasangan. Lebih dari separuh tidak dilibatkan dalam keputusan investasi, meskipun merekalah yang membiayainya.
Dalam Islam, suami adalah pemimpin dan penanggung jawab utama nafkah keluarga. Firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 34: "Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
Namun kepemimpinan dalam Islam bukanlah gelar kosong atau hak istimewa tanpa kewajiban. Ia amanah. Seorang suami yang tidak bekerja padahal mampu, lalu membebankan nafkah kepada istrinya, sedang meninggalkan amanah besar.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda: "Cukuplah seseorang itu berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya." (HR. Abu Dawud).
Fenomena Financial Passivity Syndrome (FPS) yang saya amati ini, dalam perspektif Islam, bukan hanya masalah ekonomi, juga masalah akhlak dan tanggung jawab.
Seorang laki-laki yang mengaku sebagai kepala rumah tangga tetapi enggan bekerja karena gengsi atau takut "turun gaji" sedang mempraktikkan bentuk idle yang tidak dibenarkan agama.
Islam mengajarkan qana'ah—menerima dengan cukup—bukan malas menunggu yang lebih baik sambil membebani orang lain. Wallahu a'lam.
Dampak pada perempuan
Saya menyebut pola sistematis ini sebagai Financial Passivity Syndrome (FPS). Ini bukan kemalasan dalam arti moral semata, melainkan sebuah jebakan kognitif yang dipelihara oleh tiga bias: loss aversion yang melumpuhkan, overconfidence yang membutakan, dan mental accounting yang keliru—yaitu menganggap uang hasil kerja perempuan sebagai "uang tambahan" sementara uang imajiner laki-laki dianggap "uang pokok".
Lebih parah lagi, perempuan dalam struktur FPS berfungsi sebagai default risk absorber - penyerap risiko default. Ia secara otomatis menanggung sisa beban finansial karena tidak punya pilihan untuk mundur.
Ketika laki-laki menolak kerja, perempuan yang lembur. Ketika ada tagihan besar, perempuan yang memotong kebutuhannya sendiri. Ia menjadi jaring pengaman bagi keputusan pasangannya yang tidak produktif.
Ini bukan pemberdayaan. Ini eksploitasi terselubung yang sayangnya kerap dibungkus dengan dalih "ikhlas" atau "kesabaran" seorang istri.
Solusi
Jika kita ingin menghentikan siklus FPS, omelan atau ceramah moral tidak akan cukup. Dibutuhkan intervensi berbasis ilmu perilaku:
Pertama, kontrak pencarian kerja mingguan. Bagi laki-laki yang mengaku "sedang mencari kerja" tetapi tidak aktif, wajib melampirkan bukti lamaran agar bantuan sosial atau insentif perpajakan tetap cair.
Kedua, literasi keuangan untuk pasangan, bukan individu. Banyak program literasi keuangan hanya menyasar individu. Padahal yang perlu dibongkar adalah mental accounting bersama dalam rumah tangga yang menganggap uang istri sebagai "uang tambahan".
Ketiga, penguatan kesadaran agama berbasis tanggung jawab. Para ulama dan dai perlu mengingatkan, nafkah bukan hanya hak istri tetapi kewajiban suami yang tidak bisa digugurkan hanya karena gengsi atau rasa malu menerima pekerjaan "rendahan".
Keempat, loss framing balik. Setiap laki-laki yang cenderung menolak kerja perlu bertanya pada dirinya: "Apa yang akan hilang jika saya tidak bekerja dalam tiga bulan ke depan?" Jawabannya: penghasilan puluhan juta, keterampilan yang tergerus, harga diri jangka panjang, dan yang terpenting—kesehatan mental pasangan yang terus menerus dikorbankan.
Fenomena laki-laki tidak bekerja bukan sekadar soal moral atau ekonomi. Ia Financial Passivity Syndrome yang dipelihara oleh bias kognitif dan, dalam konteks masyarakat muslim, juga kelalaian dalam memaknai amanah kepemimpinan rumah tangga.
Sudah saatnya kita berhenti menyebut perempuan yang bekerja keras sebagai "hebat" dan "sabar" sambil membiarkan laki-laki duduk diam. Karena di balik sanjungan itu, ada utang, kelelahan, dan ketidakadilan yang terus berulang.
Islam mengajarkan keseimbangan. Bukan keberanian tanpa tanggung jawab, dan bukan kesabaran yang dieksploitasi.
Perubahan dimulai dari kesadaran bahwa kemalasan seringkali hanyalah topeng bagi ketakutan yang tidak diakui. Dan perempuan, istri, atau ibu dari anak-anak kita, tidak seharusnya menjadi korban dari ketakutan yang tidak pernah berani dihadapi itu.

4 hours ago
2













































