Tak Tidur 24 Jam, Trader Korea Selatan Nekat Main Forex Nonstop

5 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

12 January 2026 12:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Korea Selatan mengambil langkah besar dalam reformasi pasar keuangannya. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa mulai Juli 2026, perdagangan mata uang asing (valas) di pasar domestik Korea Selatan akan beroperasi penuh selama 24 jam.

Kebijakan ini merupakan upaya strategis Seoul untuk menaikkan status pasar modal mereka dari Emerging Market menjadi Developed Market dalam indeks global MSCI.

Salah satu syarat utama untuk masuk ke dalam kelompok elit tersebut adalah kemudahan akses bagi investor asing untuk menukarkan mata uang Won (KRW) kapan saja, tanpa terhalang perbedaan zona waktu.

Selama bertahun-tahun, investor global mengeluhkan sulitnya bertransaksi di pasar Korea karena jam operasional yang terbatas. Dengan sistem baru ini, investor dan perusahaan manajer investasi di New York atau London dapat membeli dan menjual Won secara real-time saat jam kerja mereka, tanpa perlu menunggu pasar Seoul dibuka keesokan harinya.

Peta Persaingan Global

Keputusan Korea Selatan ini secara otomatis mengubah peta jam perdagangan valas. Sebelumnya, pasar valas domestik (onshore) di Asia cenderung konservatif dengan jam operasional yang mengikuti jam kerja kantor. Namun, langkah Korea Selatan ini menjadi salah satu perjalanan penting pasar dunia.

Apa yang dilakukan Korea Selatan menjadi terobosan baru bagi negara-negara tetangganya terutama yang membutuhkan funding dari MSCI. Dari sekian banyak negara, terdapat kemiripan untuk masing-masing market saat ini, kini pasar valas dibagi ke dalam tiga jenis persamaan dari masing-masing negara.

1. Kelompok Pasar 24 Jam (Pasar Bebas)

Ini adalah standar tertinggi dalam sistem keuangan global. Negara seperti Amerika Serikat dan Australia menerapkan sistem pasar bebas (free float), di mana bank sentral tidak membatasi jam operasional bank komersial.

Di kedua negara ini, likuiditas tersedia selama 24 jam setiap hari kerja. Korea Selatan akan segera melompat masuk ke kelas ini, mensejajarkan diri dengan raksasa keuangan Barat.

2. Kelompok Pasar Lembur (Extended Hours)

Di lapisan kedua, terdapat negara-negara ekonomi besar yang mata uangnya masih dikontrol pemerintah, namun jam dagangnya diperpanjang secara agresif. China adalah contoh paling nyata.

Demi menyaingi dominasi Dolar AS, China memperpanjang jam perdagangan Yuan domestik hingga pukul 03.00 pagi (hari berikutnya). Begitu pula dengan Rusia, yang meskipun di bawah sanksi, tetap membuka pasar valasnya dari pagi hingga pukul 23.50 malam untuk memfasilitasi perdagangan dengan mitra dagangnya.

3. Kelompok Pasar Jam Standar (Standard Hours)

Mayoritas negara lain masih bertahan dengan jam operasional konvensional. Di Asia, Jepang menutup pasar valasnya pada pukul 18.00 sore, dan India menutup perdagangan pasar spot di Mumbai pada pukul 17.00 sore.

Pola serupa juga terjadi di Eropa, di mana pasar Uni Eropa umumnya beroperasi dari 08.30 hingga 17.30, dan Inggris (London) beroperasi dari pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat.

Implikasi bagi Ekonomi Dunia

Perubahan drastis yang dilakukan Korea Selatan memberikan tekanan baru bagi negara-negara emerging market lainnya. Dalam era arus modal yang bergerak sangat cepat, fleksibilitas adalah kunci. Investor asing cenderung lebih nyaman menanamkan modal di negara yang mata uangnya mudah diperdagangkan dan dilindung nilai (hedging) setiap saat.

Jika negara-negara dengan jam operasional pendek-seperti India atau bahkan Indonesia-tidak melakukan penyesuaian, ada risiko aliran modal asing akan beralih ke pasar yang lebih likuid dan fleksibel seperti Korea Selatan.

Kompetisi untuk memperebutkan dana asing kini bukan hanya soal suku bunga atau fundamental ekonomi, tetapi juga soal siapa yang bisa melayani investor paling lama.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research