Ilustrasi berdoa.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Anak adalah penyejuk mata dan kebahagiaan hati. Kehadiran mereka merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada orang tua. Allah berfirman:
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا ٤٦
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
Karena itu, setiap orang tua tentu mendambakan anak yang saleh, taat kepada Allah, bermanfaat bagi dirinya, agama, masyarakat, dan bangsanya.
Berbagai ikhtiar dilakukan untuk mendidik dan membentuk kepribadian mereka. Namun, di samping usaha lahiriah, ada satu senjata yang tidak boleh dilupakan yaitu doa.
Di antara sebab terbesar bagi kesalehan anak—setelah menempuh berbagai ikhtiar pendidikan dan pengasuhan—adalah memperbanyak doa dan bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar memberikan hidayah, menjaga, serta memperbaiki keadaan mereka.
Menariknya, doa untuk anak bukan sekadar tradisi orang tua. Ia merupakan jalan yang ditempuh para nabi dan orang-orang saleh.
Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' (13/265), ketika menuturkan biografi Salim bin Ayyub ar-Razi, menceritakan kisah yang sangat menyentuh.
Ketika masih kecil, Salim pergi kepada seorang muqri' atau guru yang mengajarkan menghafal Alquran.

2 hours ago
3

















































