ITB Ingatkan Potensi Kekeringan 1998 Bisa Terulang Saat Ini

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG- Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan fenomena El Nino di Indonesia diprediksi akan bertahan delapan hingga sembilan bulan atau terjadi hingga tahun 2027 mendatang. Kondisi tersebut perlu diwaspadai sebab berpotensi menyebabkan kekeringan dua kali lipat lebih parah.

Kepala PPI ITB Prof Djoko Santoso Abi Suroso mengatakan fenomena El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan terus meningkat menjadi sangat kuat atau ekstrem hingga Januari tahun 2027. Oleh karena itu, masyarakat perlu mewaspadai El Nino mengingat datangnya bersamaan dengan musim kemarau.

Ia mengatakan saat ini sebagian wilayah Indonesia sudah mengalami puncak musim kemarau tahun 2026 sejak bulan Agustus hingga September bersamaan dengan El Nino menguat. Akibatnya, kondisi kekeringan diprediksi meningkat dari biasanya.

Selain itu, terdapat fenomena lain yang bisa memperkuat efek El Nino yaitu potensi muncul Indian ocean dipole (IOD) dengan kejadian dipole mode positif (DM) pada September Desember tahun 2026 membuat berkurang curah hujan di bagian barat Indonesia.

"El Nino kuat atau sangat kuat dan DM+ yang terjadi bersamaan dapat menyebabkan kondisi kering yang lebih parah di Indonesia seperti pada kejadian di tahun 1997-1998," ucap dia, Kamis (13/8/2026).

Ia mengatakan pada tahun 1997/1998 akibat kekeringan yang parah sampai pemerintah membuat tim nasional penanggulangan kebakaran hutan. Saat ini El Nino diprediksi bertahan sembilan bulan.

"Yang perlu diwaspadai keterlambatan awal musim hujan dan berkurangnya curah hujan periode Desember, Januari, Februari terutama untuk pertanian," kata dia.

Selain itu, dampak lainnya yaitu kebakaran hutan dari bencana kekeringan. Langkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk bencana kekeringan yaitu pemantauan kondisi hidrologis, pengelolaan tampungan dan alokasi air secara adaptif.

Ia menambahkan pembangunan di Indonesia yang tidak banyak beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini. Mereka mengungkapkan kajian lingkungan hidup strategis (KHLS) yang digunakan dalam penyusunan tata ruang dan pembangunan belum efektif atau beradaptasi dengan perubahan iklim.

"Penyusunan tata ruang dan pembangunan di KHLS ada adaptasi perubahan iklim tapi pas prakteknya belum terlalu efektif," ucap dia.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan 5.690 titik api tersebar di seluruh wilayah Indonesia selama musim kemarau dan El Nino. Titik api terbanyak berada di Kalimantan Barat, Papua Selatan dan Riau.

"Hingga tanggal 02 Agustus, jumlah titik api di Indonesia mencapai 5.690 titik," ucap Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab saat mengikuti diskusi El Nino Kuat 2026-2027 dan dampaknya di Indonesia yang digelar Pusat Perubahan Iklim (PPI) ITB, Kamis (13/8/2026).

Ia melanjutkan peningkatan titik api terjadi lebih cepat pada bulan Maret hingga Juli tahun 2026 dibandingkan tahun 2015, 2019 dan tahun 2023. Provinsi Kalimantan Selatan, Papua Selatan dan Riau menjadi wilayah terbanyak ditemukan titik api.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research