Denyut Lebaran di ruang kota.
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM, – Momen Lebaran di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menghadirkan tradisi unik yang memadukan nilai religius dengan potensi ekonomi dan budaya lokal. Perayaan dimulai dari gema takbir di pagi hari hingga tradisi sosial seperti halal bihalal dan wisata pantai yang memikat banyak pengunjung.
Setelah Shalat Id, warga Mataram tidak hanya saling bersalaman, tetapi juga mulai merayakan Lebaran dengan berbagai aktivitas. Tradisi halal bihalal kini dilakukan dengan konsep baru yang lebih inklusif, menggantikan pola open house pejabat. Hal ini mencerminkan upaya pemerintah kota untuk membangun relasi egaliter dengan masyarakat.
Di tingkat masyarakat, rumah-rumah terbuka bagi keluarga besar, memperkuat kohesi sosial di kota yang heterogen. Namun, peningkatan mobilitas warga juga memicu kepadatan lalu lintas dan masalah sampah, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dengan pengawasan dan strategi pemberdayaan.
Ledakan Wisata Pantai
Setelah momen silaturahmi, pantai menjadi destinasi utama warga Mataram. Kawasan pesisir seperti Pantai Ampenan dan Loang Baloq dipenuhi pengunjung, menciptakan perputaran ekonomi signifikan. Namun, masalah kebersihan dan keselamatan masih menjadi tantangan yang harus diatasi dengan pendekatan edukatif dan infrastruktur yang memadai.
Lebaran Topat
Puncak perayaan setelah Idul Fitri di Mataram adalah Lebaran Topat, dirayakan pada 8 Syawal. Tradisi ini menggabungkan religiusitas, budaya, dan kebersamaan sosial, serta memberikan dampak positif pada ekonomi lokal. Namun, di tengah modernisasi, pelestarian makna tradisi ini menjadi tantangan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan tokoh masyarakat.
Aktivitas pasca-Shalat Id di Mataram bukan sekadar rutinitas, tetapi cerminan bagaimana masyarakat memaknai kemenangan dan menggerakkan ekonomi dengan harmoni dan tradisi yang terus hidup.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

9 hours ago
3















































