REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Permintaan produk halal terus meningkat seiring meluasnya pasar konsumen Muslim dunia. Namun, keterhubungan ekosistem halal global masih menjadi persoalan.
Berbagai mata rantai, mulai dari bahan baku, produksi, sertifikasi, logistik, hingga distribusi, belum sepenuhnya terintegrasi sehingga peluang perdagangan, investasi, dan penciptaan nilai tambah di sektor ini belum berkembang secara optimal.
Persoalan keterhubungan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 di Stadion Tenis Indoor Senayan, Jakarta, pada 8-12 Juli. Sebagai pemegang keketuaan Developing Eight (D-8) periode 2026-2027, Indonesia menjadikan pameran itu sebagai sarana memperkuat kerja sama ekonomi antarnegara anggota.
Mengusung tema "Memperkuat Ekonomi Halal D-8 Melalui Kolaborasi Internasional", D-8 HEI mempertemukan pelaku usaha, investor, regulator, dan lembaga riset untuk memperluas kolaborasi di sektor ekonomi halal.
Pameran tersebut menghadirkan kegiatan perdagangan, business matching, diskusi panel, serta pertemuan bisnis yang melibatkan negara anggota D-8 dan sejumlah negara mitra. D-8 atau Developing Eight merupakan organisasi kerja sama ekonomi antarnegara berkembang yang didirikan di Istanbul, Turki, pada 15 Juni 1997 untuk memperkuat perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi antaranggota. Organisasi ini awalnya beranggotakan Indonesia, Malaysia, Turki, Iran, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan Nigeria. Pada akhir 2024, Azerbaijan resmi bergabung sebagai anggota kesembilan.
Secara kolektif, negara-negara D-8 memiliki potensi ekonomi besar dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 miliar jiwa atau 16 persen populasi dunia serta produk domestik bruto gabungan sekitar 5,1 triliun dolar AS. Kekuatan tersebut menjadi modal bagi D-8 untuk memperluas perdagangan, investasi, dan kerja sama industri di berbagai sektor strategis.
Negara-negara D-8 telah menetapkan target perdagangan internal mencapai 500 miliar dolar AS pada 2030. Untuk mengejar sasaran itu, penguatan industri halal menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian karena mencakup sektor bernilai tambah, mulai dari makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, fesyen, pariwisata, keuangan syariah, hingga layanan digital.
Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menyampaikan Indonesia mendorong D-8 menjadi kekuatan baru ekonomi halal global melalui penguatan integrasi ekonomi dengan dunia Islam. D-8 HEI 2026 dirancang sebagai wadah untuk memperluas kemitraan bisnis, investasi, dan pertukaran pengetahuan antarnegara anggota.
Penyelenggaraan pameran tersebut juga sejalan dengan komitmen Indonesia memperkuat rantai nilai halal global. Hal itu selaras dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada KTT Ke-11 D-8 di Kairo pada Desember 2024 mengenai pentingnya penguatan jejaring ekonomi halal dan peran Indonesia sebagai salah satu hub ekonomi halal dunia.
Menurut Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis pada Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Ary Aprianto, D-8 HEI diarahkan untuk memperkuat rantai pasok halal dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bahan mentah, kawasan industri, logistik, distribusi, peningkatan kapasitas, hingga pertukaran teknologi.
Artinya, daya saing industri halal tidak cukup bertumpu pada produk akhir, tetapi juga pada kemampuan membangun rantai pasok yang efisien dan terintegrasi.
sumber : Antara

1 week ago
24
















































