Manufaktur Menguat Awal 2026, Neraca Dagang Surplus dan Inflasi Tetap Terkendali

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kinerja ekonomi Indonesia mengawali 2026 dengan sejumlah indikator positif, ditandai penguatan sektor manufaktur, neraca perdagangan yang kembali surplus, serta inflasi yang masih dalam rentang terkendali. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level 52,6 pada Januari 2026, disertai surplus neraca perdagangan sebesar 2,51 miliar dolar AS dan inflasi tahunan 3,55 persen.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, penguatan tersebut menjadi sinyal optimistis bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan domestik dan global.

“Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global,” ujar Febrio di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Penguatan PMI manufaktur didorong kenaikan permintaan domestik dan output produksi. Meski masih dibayangi gangguan rantai pasok global dan lemahnya pesanan ekspor, optimisme pelaku usaha tercatat berada di level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Di kawasan regional, PMI ASEAN agregat berada di level 52,8, dengan Filipina 52,9 dan Vietnam 52,5. Sementara itu, PMI India tercatat 56,8 dan Amerika Serikat 51,9, yang sama-sama masih berada di zona ekspansif.

Kinerja manufaktur sejalan dengan penguatan indikator domestik pada akhir 2025. Indeks Penjualan Riil tumbuh 4,4 persen, penjualan sepeda motor meningkat 14,5 persen, mobil naik 17,9 persen, dan penjualan listrik bertambah 4,8 persen. Indeks Keyakinan Konsumen Desember 2025 tercatat 123,5, mencerminkan kondisi optimistis.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus 2,51 miliar dolar AS, meningkat dari 0,42 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor mencapai 26,34 miliar dolar AS atau tumbuh 11,64 persen secara tahunan, dengan ekspor nonmigas naik 13,72 persen, terutama dari industri pengolahan yang meningkat 19,26 persen.

Secara kumulatif sepanjang 2025, ekspor mencapai 282,91 miliar dolar AS atau tumbuh 6,15 persen. Impor tercatat 23,83 miliar dolar AS dengan kenaikan 10,81 persen, didorong lonjakan impor barang modal sebesar 34,66 persen. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan tahunan mencapai 41,05 miliar dolar AS, melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020.

Sementara itu, inflasi Januari 2026 tercatat 3,55 persen secara tahunan, meningkat dari 2,92 persen pada Desember 2025 akibat basis rendah tahun sebelumnya seiring kebijakan diskon listrik. Inflasi administered price naik ke 9,71 persen. Secara bulanan, terjadi deflasi sebesar 0,15 persen, dengan inflasi volatile food turun menjadi 1,14 persen seiring penurunan harga cabai, bawang, daging ayam, telur, dan sayuran. Inflasi inti berada di level 2,45 persen, didorong kenaikan harga emas yang mencapai 76,5 persen.

Febrio menegaskan, pemerintah terus memperkuat hilirisasi, daya saing ekspor, serta diversifikasi mitra dagang.

“Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3-5 persen di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi,” kata Febrio.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research