REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi bersama Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung meletakkan batu pertama proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Rabu (29/7/2026).
Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Jabar dalam menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan.
Menurut KDM --sapaan akrab Gubernur Dedi Mulyadi, pembangunan PSEL Legok Nangka wujud komitmen Pemda Provinsi Jabar menuntaskan permasalahan sampah, khususnya di wilayah aglomerasi Bandung Raya dan sekitarnya.
Dengan demikian, PSEL Legok Nangka merupakan komitmen Pemda Provinsi Jabar dalam menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
‘’Kami ingin menjadikan persoalan sampah bukan lagi sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya yang dapat memberikan nilai tambah melalui energi bersih, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat Jawa Barat," tegas KDM dikutip Sabtu (1/8/2026).
TPPAS Regional Legok Nangka dirancang dengan kapasitas pengolahan sekira 2.131 ton sampah per hari. Fasilitas ini melayani enam wilayah di Jawa Barat, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.
Melalui pemanfaatan teknologi waste-to-energy, proyek strategis ini tidak hanya akan mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga memproduksi energi listrik ramah lingkungan yang akan berkontribusi pada bauran energi nasional.
Turut dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Pengembangan Waste-to-Energy di Jawa Barat, proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Pusat.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengapresiasi terobosan Pemda Provinsi Jabar beserta seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, proyek ini akan memberikan multiplier effect (efek ganda) yang luas, mulai dari penyediaan energi bersih, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekonomi daerah, hingga penurunan emisi.
"Proyek ini diharapkan menjadi percontohan nasional untuk pengembangan waste-to-energy di Indonesia, sekaligus menjadi fondasi percepatan implementasi proyek serupa melalui kolaborasi yang solid," ungkap Yuliot.
Dukungan Penjaminan Investasi dari PT PII
Keberhasilan dimulainya konstruksi PSEL Legok Nangka juga tidak lepas dari kolaborasi kuat antara pemerintah dan badan usaha, termasuk dukungan penjaminan investasi dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) atau PT PII, yang merupakan Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan.
PT PII telah memberikan penjaminan pemerintah melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) TPPAS Regional Legok Nangka pada April 2026, yang melibatkan PT Jabar Environmental Solutions (JES) selaku Badan Usaha Pelaksana dan Pemdaprov Jabar selaku Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).
Plt Direktur Utama PT PII Andre Permana menjelaskan, penjaminan yang diberikan bertujuan meningkatkan kelayakan pembiayaan proyek serta memberi kepastian alokasi risiko yang proporsional sehingga proyek dapat berjalan lancar dan berkesinambungan.
"Groundbreaking PSEL Legok Nangka merupakan milestone penting dalam pengembangan infrastruktur persampahan berbasis KPBU di Indonesia. Kami berharap proyek ini menjadi model pengembangan infrastruktur hijau yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan," ujar Andre.
Melalui sinergi erat Pemda Provinsi Jabar, pemerintah pusat, PT PII, badan usaha, dan seluruh pemangku kepentingan, PSEL Legok Nangka diyakini segera beroperasi optimal demi mewujudkan ketahanan energi dan lingkungan hidup lebih sehat bagi warga Jabar.

6 hours ago
2

















































