Banding Southampton Ditolak, Gagal Tampil di Final Play-off Championship karena Intip Latihan Lawan

6 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Southampton FC dipastikan tetap dicoret dari final play-off Championship setelah permohonan banding mereka ditolak panel arbitrase Liga Sepak Bola Inggris (EFL), Rabu (21/5/2026) waktu setempat.

Dengan keputusan tersebut, final play-off Championship tetap mempertemukan Hull City melawan Middlesbrough FC pada Sabtu (23/5/2026) mendatang. Pertandingan itu memperebutkan satu tiket promosi ke Liga Primer Inggris musim depan.

Sebelumnya, komisi disiplin independen EFL pada Selasa (19/5/2026) malam menjatuhkan sanksi berat kepada Southampton terkait kasus dugaan mata-mata terhadap lawan. Klub berjuluk Saints itu dicoret dari play-off Championship dan Middlesbrough dikembalikan ke final meski sebelumnya kalah agregat 1-2 dari Southampton pada semifinal.

Dalam pernyataannya, EFL menyebut panel arbitrase menolak seluruh dasar banding Southampton setelah klub mengakui sejumlah pelanggaran terhadap regulasi liga.

“Keputusan ini berarti sanksi awal berupa pengusiran dari babak play-off Championship tetap berlaku, begitu pula pengurangan empat poin yang akan diterapkan pada klasemen Championship 2026/2027 dan teguran terkait seluruh tuduhan,” tulis EFL.

EFL juga memastikan keputusan tersebut bersifat final dan tidak dapat diajukan banding lebih lanjut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga.

Southampton menyatakan kecewa atas putusan tersebut. Klub menilai hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan pelanggaran yang terjadi.

“Meskipun kami sepenuhnya mengakui keseriusan masalah ini, klub secara konsisten percaya bahwa sanksi olahraga awal tidak proporsional,” tulis Southampton dalam pernyataan resminya.

Chief Executive Officer Southampton Phil Parsons sebelumnya juga menegaskan klub tidak dapat menerima hukuman yang dianggap berlebihan dibanding preseden kasus serupa.

Parsons merujuk kasus Leeds United pada 2019 yang hanya dikenai denda 200 ribu poundsterling akibat memata-matai Derby County.

Namun, EFL menilai kasus saat ini berbeda karena regulasi 127 yang secara spesifik melarang pengamatan terhadap lawan dalam 72 jam sebelum pertandingan justru lahir dari insiden Leeds tersebut.

Gelandang Southampton Leo Scienza mengaku terpukul dengan keputusan tersebut. Ia menyebut seluruh pemain telah berjuang keras demi kesempatan promosi ke Liga Primer Inggris.

“Kekecewaan, kemarahan, kesedihan. Sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kami rasakan saat ini,” tulis Scienza melalui akun Instagram pribadinya.

Ia juga menyampaikan simpati kepada Hull City dan Middlesbrough yang menurutnya ikut terdampak situasi tersebut.

Sementara itu, pemilik Hull City Acun Ilicali mengaku tidak puas karena timnya harus menghadapi lawan berbeda dalam waktu singkat menjelang final. Ia bahkan membuka kemungkinan langkah hukum jika Hull gagal promosi akibat situasi tersebut.

“Saya tidak ingin menuduh siapa pun, tetapi situasi ini terlalu berdampak bagi kami,” ujar Ilicali kepada Sky Sports.

Kasus “Spygate” Championship itu belum sepenuhnya selesai. Setelah proses disiplin EFL berakhir, perhatian kini beralih kepada Asosiasi Sepak Bola Inggris yang masih dapat mengajukan tuntutan terpisah terhadap individu tertentu yang terlibat dalam kasus tersebut.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research