Bahaya Keracunan Makanan: Mengapa Otak dan Saraf Bisa Terdampak?

9 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Korban keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah. Berdasarkan pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), setidaknya 40.759 orang diduga mengalami keracunan sejak MBG dijalankan pada 2025, dengan 12.656 di antaranya tercatat sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026.

Gejala keracunan yang dialami para siswa umumnya mencakup mual, muntah, diare, sakit perut atau kram perut, hingga lemas dan demam. Tidak hanya itu, seorang siswi berinisial FP berusia 16 tahun dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami gangguan daya ingat dan kerusakan fungsi saraf setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program MBG.

Menanggapi hal ini, dokter spesialis gizi klinik Dr dr Nurul Ratna Mutu Manikam, mengatakan gangguan fungsi otak akibat keracunan makanan bisa terjadi karena tubuh kehilangan elektrolit. la menjelaskan, reaksi awal tubuh ketika mengalami keracunan makanan adalah muntah dan diare. Ini adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan zat asing melalui saluran pencernaan.

"Kalau reaksi awal keracunan tubuh itu kan muntah. Jadi benda asing akhirnya dikeluarkan oleh saluran cerna. Jadinya lebih banyak muntah, diare, segala macam," kata dr Nurul saat diwawancara seusai peluncuran Gut and Immunity Council di Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026).

Gejala muntah dan diare yang terus-menerus dapat menyebabkan kadar elektrolit tubuh berkurang. Jika elektrolit banyak hilang, kadar natrium dan kalium dalam tubuh juga dapat menurun.

Menurut dr Nurul, gangguan elektrolit tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi perkembangan otak. Pada anak, kondisi ini dapat menyebabkan kejang maupun sakit yang berulang.

"Kalau dia elektrolitnya banyak berkurang, natriumnya kurang, kalium kurang, itu akan memengaruhi perkembangan otaknya juga. Jadi akhirnya anak bisa kejang, atau bisa sakit berulang. Terus anak itu rentan terhadap penyakit karena efek dari keracunan makanan," kata dia.

Meski demikian, dr Nurul menilai kasus keracunan yang sampai berdampak pada fungsi otak dan saraf merupakan kasus yang langka. Kendati begitu, kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai.

Dokter Nurul mengatakan keracunan dapat terjadi bahkan dari makanan yang diolah di rumah. Jika pengolahan dan penyimpanannya tidak tepat, maka makanan tersebut bisa menyebabkan keracunan.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research