Trump Bakal Minta 'Jatah Preman' untuk Kendalikan Hormuz

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Hormuz. Ia juga menyatakan seharusnya mendapatkan bayaran atas perannya mengendalikan jalur perairan vital tersebut. 

"Kami akan menguasai selat itu dan kemungkinan besar akan mengelolanya. Kami akan menjadi penjaga selat tersebut. Mungkin kami akan menyebutnya 'malaikat pelindung' selat itu, dan kami seharusnya dibayar untuk hal tersebut," ujarnya dalam sebuah wawancara telepon dengan Fox News, semalam. 

"Kami akan dibayar untuk menjaganya—dengan bayaran yang sangat besar," tambah Trump. "Kami harus mendapatkan bayaran karena negara-negara lain itu sangat kaya. Mereka berada di pihak kami, dan kami tidak bisa diharapkan untuk melakukan hal itu secara cuma-cuma."

Negara-negara yang ia maksudnya adalah kerajaan-kerajaan di Teluk yang selama ini menggunakan jalur Selat Hormuz untuk mendistribusikan minyak mereka. Komentar Trump menyiratkan bahwa negara-negara itu membantu AS melancarkan serangan ke Iran.

Komando terpadu angkatan bersenjata Iran telah memperingatkan AS agar tidak mencoba melakukan intervensi di Selat Hormuz. Mereka juga mengancam akan melancarkan serangan terhadap pihak-pihak yang bekerja sama dengan Washington. 

"Kami tidak dan tidak akan pernah membiarkan Amerika Serikat mencampuri pengelolaan Selat Hormuz," ujar Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, dalam pernyataan yang disiarkan oleh lembaga penyiaran negara IRIB. 

Pasukan Iran akan menindak tegas segala bentuk gangguan dan ancaman keamanan di luar jalur yang telah ditetapkan oleh Teheran. "Segala bentuk kerja sama dengan Amerika Serikat serta dukungan logistik bagi militer agresor negara tersebut akan dianggap sebagai tindakan perang terhadap kedaulatan dan keamanan nasional Iran," kata Zolfaghari. Ia menambahkan bahwa perang semacam itu dapat "melibatkan seluruh negara di kawasan ini".

Ketegangan yang melibatkan aksi saling serang antara militer AS dan Garda Revolusi Iran telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, seiring upaya kedua belah pihak untuk menguasai Selat Hormuz—jalur yang sebelumnya dilalui oleh 20 persen pengiriman minyak dan gas sebelum pecahnya perang pada bulan Februari.

Iran melancarkan respons militer paling masif sejauh ini terhadap pasukan AS di seluruh Timur Tengah pada Ahad, dengan menyerang pangkalan militer dan infrastruktur logistik di berbagai negara setelah Washington melakukan gelombang serangan ketiga terhadap wilayah Iran.

Aksi balasan tersebut berlangsung dalam tiga tahap berturut-turut dan disertai dengan pengumuman dari Korps Garda Revolusi Islam bahwa Selat Hormuz telah ditutup bagi lalu lintas maritim hingga intervensi AS di kawasan tersebut berakhir.

Eskalasi ini terjadi menyusul serangan Amerika pada malam sebelumnya yang menyasar fasilitas militer dan infrastruktur komunikasi di wilayah selatan Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi tersebut menghantam sekitar 140 target—termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, aset angkatan laut, jaringan komunikasi, serta gudang amunisi—dan menyebutnya sebagai rangkaian serangan ketiga yang dilancarkan terhadap Iran dalam kurun waktu satu minggu.

Washington mengklaim serangan tersebut dilakukan setelah Iran menargetkan sebuah kapal komersial di Selat Hormuz, sementara Teheran bersikeras bahwa insiden itu melibatkan tembakan peringatan setelah kapal tersebut mengabaikan instruksi navigasi.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research