REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan penyaluran 11 ribu unit pompa air pada 2026 untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Program pompanisasi tersebut disiapkan agar lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air sehingga produksi pangan nasional dapat terjaga.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah memilih bergerak lebih awal sebelum dampak kekeringan meluas. Menurut dia, penyediaan sumber air melalui pompanisasi menjadi salah satu strategi utama menjaga produktivitas pertanian.
“Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam,” kata Amran dikutip pada Jumat (10/7/2026).
Amran menjelaskan, program pompanisasi terus diperluas di berbagai daerah. Sepanjang 2023 hingga 2025, Kementan telah menyalurkan 80.158 unit pompa air kepada petani di seluruh Indonesia.
Pada 2026, pemerintah kembali menargetkan penyaluran 11 ribu unit pompa untuk memperkuat ketahanan produksi pangan selama musim kemarau.
Sebagai bagian dari program tersebut, Kementan melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian bersama Dinas Pertanian Kabupaten Subang dan penyuluh pertanian melakukan identifikasi di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, guna menyiapkan langkah cepat menghadapi ancaman kekeringan.
Hasil identifikasi menunjukkan sejumlah desa di Kecamatan Cipunagara membutuhkan tambahan irigasi perpompaan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi yang sedang memasuki fase pertumbuhan. Karena itu, Kementan menyiapkan bantuan delapan unit pompa yang akan dibangun secara bertahap.
Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian Wilayah I Bandung Hamid Sangadji mengatakan, bantuan tersebut merupakan respons cepat pemerintah terhadap laporan ancaman kekeringan di sentra produksi padi.
“Kami menindaklanjuti informasi mengenai dampak kekeringan ini dengan melakukan respons cepat bersama Dinas Pertanian dan penyuluh wilayah Kabupaten Subang untuk melihat langsung kondisi riil di lapangan. Terhadap tiga hingga empat desa yang kami kunjungi di dua kecamatan, akan diupayakan bantuan sebanyak delapan unit irigasi perpompaan. Pelaksanaannya dimulai secara bertahap mulai besok dan dilanjutkan pada minggu-minggu berikutnya,” kata Hamid.
Hamid mengatakan, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian terus memetakan wilayah yang mengalami maupun berpotensi terdampak kekeringan hingga puncak musim kemarau pada Agustus. Pemetaan dilakukan agar bantuan dapat segera disalurkan sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.
Di Desa Manyingsal, pompa air dipilih sebagai solusi karena wilayah tersebut tidak memiliki sumber air permukaan. Pemerintah akan memulai survei geolistrik untuk menentukan titik sumber air sebelum melakukan pengeboran sumur dan membangun jaringan irigasi perpompaan.
Menurut Hamid, infrastruktur tersebut diharapkan tidak hanya menyelamatkan musim tanam tahun ini, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang untuk menghadapi musim kemarau sekaligus mendukung target swasembada pangan.

4 hours ago
3






































