Ekonomi Notifikasi: Ketika Ponsel Lebih Sering Mengatur Belanja Kita

8 hours ago 5

Image Jallu Setiaji

Eduaksi | 2026-07-10 15:48:06

Oleh Jallu Setiaji

Pernahkah Anda membuka ponsel hanya untuk membalas pesan, tetapi beberapa menit kemudian justru selesai membeli barang yang sebelumnya tidak pernah ada dalam daftar kebutuhan? Mungkin kita menganggap itu keputusan spontan. Padahal, bisa jadi keputusan tersebut sudah "dipersiapkan" oleh puluhan notifikasi yang setiap hari muncul di layar ponsel.

Hari ini, kita hidup di tengah ekonomi digital yang tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga terus memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Diskon terbatas, gratis ongkir, flash sale, hingga pemberitahuan "tinggal dua produk lagi" bukan sekadar informasi. Semua itu dirancang untuk mendorong kita segera membeli sebelum sempat berpikir ulang.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 79 persen penduduk. Sementara itu, laporan DataReportal 2025 mencatat bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tujuh jam per hari menggunakan internet. Waktu yang panjang tersebut membuat masyarakat semakin sering terpapar promosi digital yang muncul melalui aplikasi belanja, media sosial, maupun layanan pesan singkat.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep behavioral economics, yaitu bagaimana keputusan ekonomi seseorang tidak selalu diambil secara rasional. Banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia cenderung dipengaruhi oleh rasa takut kehilangan kesempatan (fear of missing out atau FOMO), efek kelangkaan, serta dorongan memperoleh kepuasan sesaat. Tidak mengherankan jika sebuah notifikasi bertuliskan "promo berakhir dalam satu jam" sering kali lebih efektif daripada daftar anggaran yang sudah kita susun sendiri.

Masalahnya bukan terletak pada teknologi atau aplikasi belanja. Kehadiran platform digital telah membuka peluang besar bagi pelaku usaha dan mempermudah masyarakat memperoleh barang maupun jasa. Persoalannya muncul ketika notifikasi mulai mengubah kebutuhan menjadi keinginan, lalu keinginan berubah menjadi kebiasaan konsumtif yang tidak disadari.

Kondisi tersebut juga tercermin dari meningkatnya penggunaan layanan pembayaran digital dan transaksi perdagangan elektronik di Indonesia. Menurut Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik dan pembayaran digital terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat peningkatan aktivitas perdagangan melalui platform digital sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Pertumbuhan ini merupakan kabar baik bagi ekonomi digital, tetapi sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi keuangan masyarakat harus tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi.

Di era ketika setiap aplikasi berlomba mendapatkan perhatian pengguna, kemampuan paling berharga bukan lagi sekadar menghasilkan uang, melainkan mengendalikan cara membelanjakannya. Sebab, ancaman terbesar terhadap keuangan pribadi hari ini bukan selalu berasal dari pengeluaran yang besar, melainkan dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali tanpa disadari.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya, "Apa yang ingin saya beli hari ini?" tetapi juga, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau saya hanya sedang merespons sebuah notifikasi?"

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research