REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Distribusi solar menjadi denyut nadi utama yang menentukan kecepatan napas pemulihan di wilayah-wilayah Sumatera yang kini luluh lantak akibat terjangan bencana.
Di tengah tumpukan material banjir dan longsor yang menutup akses kehidupan, ketersediaan bahan bakar bukan sekadar urusan logistik, melainkan penentu antara hidup dan matinya mobilisasi bantuan bagi masyarakat yang terisolasi.
Memasuki fase krusial rehabilitasi pada Januari 2026, pasokan solar yang melimpah dan tanpa hambatan birokrasi menjadi kunci utama agar mesin-mesin raksasa penyelamat dapat bekerja tanpa henti memulihkan martabat warga di 52 kabupaten/kota terdampak.
Urgensi relaksasi pembatasan solar ini muncul karena kebijakan pembatasan harian yang berlaku dalam kondisi normal justru menjadi penghambat besar di medan bencana. Saat ini, kuota solar subsidi sering kali dibatasi hanya 35 hingga 40 liter per kendaraan atau alat berat, yang praktis hanya cukup untuk mengoperasikan mesin selama kurang lebih 8 jam.
Padahal, dalam kondisi darurat, alat-alat berat tersebut ditargetkan bekerja secara nonstop selama 24 jam untuk mengejar ketertinggalan waktu pemulihan. Tanpa adanya relaksasi, alat berat yang sudah disewa mahal oleh pemerintah dan kontraktor akan sering menganggur di lokasi bencana hanya karena kehabisan bahan bakar, sehingga proses pembersihan wilayah pun berjalan sangat lamban.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, selaku Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, secara tegas meminta Kementerian ESDM dan Pertamina untuk memberikan pengecualian khusus.
Selain penambahan suplai, Tito berharap sistem pembelian menggunakan barcode dapat ditangguhkan sementara di daerah-daerah bencana tertentu agar operasional alat berat tidak terkendala administrasi digital di tengah keterbatasan sinyal dan situasi darurat. Meski demikian, apresiasi tetap diberikan kepada Pertamina yang sejauh ini berhasil menjaga kelancaran pasokan BBM di SPBU pada 52 daerah terdampak, meski tantangan utama kini bergeser pada volume kebutuhan solar untuk alat berat.
Hingga saat ini, ratusan unit alat berat telah dikerahkan dan masuk ke titik-titik terdampak di seluruh Sumatera, mulai dari ekskavator raksasa, bulldozer, hingga dump truck pengangkut material.
Diperkirakan terdapat lebih dari 200 hingga 300 unit alat berat yang tersebar di wilayah Aceh, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara untuk menangani dampak banjir bandang dan longsor. Jumlah yang masif ini diperlukan karena skala kerusakan infrastruktur yang sangat luas, di mana banyak jembatan putus dan jalan lintas provinsi yang tertimbun material tanah serta gelondongan kayu besar.
Fungsi utama dari armada alat berat ini adalah sebagai ujung tombak pembukaan akses jalan yang terisolasi. Ekskavator dan bulldozer bekerja bahu-membahu untuk mengeruk sisa-sisa longsoran dan memindahkan tumpukan kayu yang menyumbat aliran sungai agar risiko banjir susulan dapat ditekan.
sumber : Antara

1 month ago
11











































