
Oleh : Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan bukan hanya tentang takut kepada Allah, tetapi tentang jatuh cinta kepada-Nya. Jika puasa dijalani semata karena kewajiban, ia akan terasa berat; tetapi jika dijalani karena cinta, ia berubah menjadi kerinduan. Di sinilah letak rahasia terdalam ibadah: mahabbah yang menggerakkan, bukan paksaan yang menekan. Ramadhan datang untuk menaikkan kualitas hubungan kita dari sekadar taat menjadi penuh cinta.
Cinta kepada Allah tidak lahir dari retorika, tetapi dari kedekatan yang terus dipupuk. Puasa memperbanyak ruang untuk bersama-Nya—dalam doa, tilawah, dan keheningan. Ketika seorang hamba rela meninggalkan yang halal demi ketaatan, itu bukan sekadar disiplin; itu tanda cinta. Sebab cinta selalu siap berkorban.
Cinta Sebagai Energi Ibadah
Allah berfirman:“Dan orang-orang yang beriman itu sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165). Ayat ini menegaskan bahwa iman bukan hanya keyakinan rasional, tetapi keterikatan emosional yang mendalam. Mahabbah adalah energi yang menghidupkan amal. Tanpanya, ibadah menjadi rutinitas kering tanpa ruh.
Puasa mendidik hati untuk mencintai apa yang dicintai Allah. Ketika waktu berbuka tiba, kebahagiaan itu bukan hanya karena hilangnya lapar, tetapi karena selesainya amanah ketaatan. Rasulullah SAW bersabda:"Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: saat berbuka dan saat bertemu Rabb-nya." (HR. Bukhari dan Muslim). Kebahagiaan kedua itulah puncak cinta.
Dalam tradisi Gontor, perjuangan dibangun di atas loyalitas kepada nilai dan cita-cita yang lebih tinggi. Kesungguhan belajar, disiplin berjamaah, dan khidmah tanpa pamrih berakar pada kecintaan terhadap agama. Mahabbah melahirkan militansi ruhani yang tenang tetapi kokoh. Cinta menjadikan pengorbanan terasa mulia.
Mahabbah dan Kedekatan
Puasa memperbanyak momen khalwah batin, ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya. Dalam doa menjelang berbuka, dalam qiyam al-lail, dalam istighfar yang lirih, cinta itu dipupuk. Kedekatan tidak selalu bersuara keras; ia tumbuh dalam konsistensi. Ramadhan menyediakan atmosfer yang subur bagi pertumbuhan itu.
Cinta kepada Allah juga melahirkan cinta kepada kebaikan. Hati yang dipenuhi mahabbah akan lebih ringan memberi, lebih mudah memaafkan, dan lebih tulus menolong. Sebab ia melihat semua sebagai jalan mendekat kepada-Nya. Puasa menjadi katalis yang memperhalus rasa itu.
Spirit Gontor menanamkan kesadaran bahwa pengabdian adalah bentuk cinta. Berkhidmah tanpa banyak menuntut adalah ekspresi mahabbah yang konkret. Pendidikan karakter tidak hanya menekankan ketegasan, tetapi juga kehangatan ruhani. Cinta menjadikan disiplin tidak kaku, dan perjuangan tidak gersang.
Cinta yang Menguatkan Peradaban
Peradaban tidak dibangun hanya dengan regulasi, tetapi dengan cinta terhadap nilai. Ketika umat mencintai al-Qur’an, keadilan, dan kejujuran, maka sistem yang kuat akan tumbuh. Ramadhan menguatkan kecintaan kolektif terhadap wahyu dan ibadah. Ia menyatukan hati dalam orientasi yang sama.
Mahabbah juga menjadi penawar konflik. Cinta kepada Allah melahirkan kerendahan hati dan kesediaan untuk berdamai. Hati yang penuh cinta tidak mudah dipenuhi kebencian. Dari sinilah ukhuwah menemukan fondasi spiritualnya.
Dalam pendidikan, cinta melahirkan loyalitas jangka panjang. Orang yang mencintai ilmunya akan tekun, yang mencintai dakwahnya akan sabar, dan yang mencintai Allah akan istiqamah. Ramadhan menanamkan cinta itu agar perjuangan tidak sekadar formalitas, tetapi pengabdian yang hidup.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
2












































